Gempa Dini Hari

Pagi hingga petang, tubuh dipacu ritual sehari-hari. Rembulan ketika tubuh ini mengetuk pintu rumah, alpa dari peraduannya. Mata ini ‘tak kuat bertahan lebih panjang. Kemampuan begadang tumbang. Takmampu melebihi segelas kopi dan setengah putaran black movie yang rutin diputar di Trans TV. 

Selebihnya, tubuh sudah direngkuh dengan payah. Bisa jadi dengkur pun tiba di tengah-tengahnya. Juga suara tetikus yang beraksi mencari asupan gizi tatkala neon-neon mulai mati. 

Kabar tentang gempa dini hari atau lindu yang memburu, ‘tak mampu merogoh diri ini. Alpa. Baru menjelang Subuh, mertua menitipkan panik melalui japri. Katanya, harap hati-hati jikalau gempa dini hari di Situbondo datang lagi. Skalanya mampu mengabarkan ke beberapa titik, Jakarta, Madura, Bali, dan kota-kota di Tapal Kuda tentunya. 

Jejaring sosial, semua mengunggah fenomena yang sama. Dulu, jika ada musibah kentongan buru-buru dibunyikan. Jarak dan waktu terlipat. Revolusi 4.0 sudah bergerak tanpa gemeretak. Jaman berubah, manusia berubah, dan musibah pun tiba. Lombok, Bali, Palu, Donggola, Sigi, dan Situbondo adalah beberapa di antaranya. Mari, doa-doa dan rapal dikir kita lajukan, agar darah ‘tak lagi tumpah.

Iklan

Memasang Jepretan Tikus

Semalam, sulit rasanya untuk rehat. Tikus-tikus berpesta ketika lampu mulai dipadamkan. Mereka berlarian mencari makan. Berisik. Setiap mereka berlari, saya berjingkat. Kaget.

Rasanya tidur semalam kurang. Walhasil, setelah sarapan saya kembali menambah porsi tidur sampai setengah 9. Mandi dan berangkat ke pasar beli jepretan tikus. 

Tentu, sepulang dari pasar. Langsung saya pasang. Umpan ikan atau lauk tidak ada. Bawang goreng pun ‘tak mengapa. Biasanya si tikus makan apa saja. Jika memang riwayat hidupmu sepanjang bawang goreng dengan pengaitnya, pasti terjerat. 

Selebihnya, nanti tinggal menunggu. Ada yang terjepret atau tidak. Saya sebenarnya, tidak begitu suka membunuh. Itu perbuatan keji. Entah, hari ini saya benar-benar punya daya pantik kuat untuk membunuh. 

Jika Tuhan tidak mengijikan saya menjadi pembunuh. Niscaya tikus itu tidak akan masuk jepretan. 

Jepretan sedang menunggu tikus di bawah kolong meja. Menunggu dengan beberapa iris bawang goreng.

Terserang Flu

Si Abbad habis menangis, namun karena ekspresinya dapet. Ya difoto deh.

Musim yang ekstrim ini membuat banyak orang jatuh sakit. Siang suhu panas nyelekit, hingga rasanya berbekas di kulit. Malam sampai pagi, suhu dingin menyayat membuat tubuh menggeliat-geliat dan ingin rasanya terus di balik selimut tebal. Ya, kondisi semacam ini jika tubuh dalam kondisi sedang lelah. Maka akan mudah terserang penyakit. 

Penyakit yang lazim menjangkit pada pancaroba seperti ini yaitu gereges, batuk, dan pilek. Kondisi pancaroba pas kali pertama tiba, seisi rumah terserang, kecuali kaum perempuan. Mbah Ti dan Ibunya Abbad. Tentunya juga si Abbad. 

Kehati-hatian mendekat pada si Abbad dijaga bagi yang sedang sakit. Berharap agar Abbad tidak turut sakit. Dan itu membawa hasil, semua isi rumah sembuh. Abbad pun tetap sehat dan lucu.

Inilah yang namanya kehendak Allah. Maha dari segala Maha. Kun fayakun. Jika Allah berkehendak, maka terjadilah. Ibu si Abbad sakit. Sudah tiga hari. Gereges, batuk, dan pilek. Otomatis si Abbad pun ikut sakit. Ya, si Abbad sakit di hari keduanya. 

Si ibu, saya mintakan obat ke bidan langganan. Namun untuk kau nak, ayah taktahu harus bagaimana. Ada yang bilang, anak seusiamu belum boleh minum obat. 

Beberapa hari ini kau pun mulai rewel. Ayah tidak tega ketika mendengarmu terus menangis. Namun, ayah juga bingung harus bagaimana dan pilihan ayah hanya istighfar dan memohon kepada Allah nak. Ya, memohon agar kau segera diberi kesembuhan. 

Ayah semakin taktega ketika di sela menangismu, ayah mendengar suara lain. Krok. Suaranya keras. Sekeras batukmu nak. Setelah itu, kau pun kembali menangis. Aduh. 

Sampai akhirnya pagi ini, ayah menemukan formula. Miring dan tengkurap. Tidur miring, ayah tahu ketika kauhabis ngempot. Kau tertidur nak. Tidak lagi bernapas besar. Napasmu kembali anteng, seperti ketika kausehat. Tiada krok lagi.

Semalam pun, Mbah Ti mencucup ingusmu nak. Ayah taktahu bagaimana cara melakukannya. Beda dengan ayah. Ayah memilih memosisikanmu tengkurap. Ingusmu pun keluar. Cepat sembuh ya nak.