Dadang Ari Murtono dan Perempuan Tua dalam Rashomon

Pagi ini, tiba-tiba teringat tentang Dadang Ari Murtono (DAM). DAM adalah seorang sastrawan muda kelahiran Mojokerto. Karya-karyanya sudah banyak termuat di media massa Indonesia, baik koran, majalah, jurnal, buletin, tabloid.

DAM telah memutuskan untuk fokus di dalam dunia kesusastraan. Aktivitasnya secara penuh waktu untuk menulis. Ia sudah tidak lagi membagi waktu dengan bekerja di bidang lain selain menulis. Ketekunan dan kejelian di dalam memandang sesuatu, membuat karya-karyanya memiliki daya tarik tersendiri, khas.

Tentunya perjuangan tersebut, membuat karya-karya DAM diburu penerbit. Beberapa karyanya pun terbit ke dalam buku. Beberapa di antaranya, Wisata Buang Cinta (Kumpulan Cerpen), Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (Kumpulan Cerpen), dan Ludruk Kedua (Kumpulan Puisi). Konon, sebentar lagi novelnya juga akan segera terbit. Selain buku tersebut, ada pula buku kumpulan bersama dengan penulis lain yang juga memuat karya-karyanya.

k_614_090452_wisata_buang_cintaBelantara Samargod copyLUDRUK_KEDUA___DADANG_ARI_MURTONO

Kariernya yang cemerlang tersebut membuat banyak orang memandang sinis terhadapnya. Sampai akhirnya DAM benar-benar dijatuhkan, sejatuh-jatuhnya ketika cerpennya dimuat di dua media sekaligus. Cerpen itu berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon. Awalnya cerpen tersebut dimuat di Koran Lampung Post. Setelah itu, cerpen tersebut dimuat di Koran Kompas. 

 

kompas-perempuan-tua-dalam-rashomon

Memang pemuatan ganda di media, kerap kali membuat para sastrawan mencibir penulis yang memiliki keberuntungan tersebut. Entah atas dasar apa, hal itu selalu digunjingkan. Namun tidak hanya perihal pemuatan ganda saja. Ada seseorang yang mengatakan cerpen tersebut plagiat dari cerpen Rashomon karya RyĆ«nosuke Akutagawa. Akutagawa adalah sastrawan Jepang (1982-1927).

rashomon-cover4

Kejadian itulah yang akhirnya membuat dirinya terpuruk dan hampir tidak mau lagi menulis. Memang kala itu, hampir semua penulis dari seluruh Indonesia mengatakan tindakan DAM tersebut tidak layak dilakukan seorang penulis. Perkataan dari halus hingga sangat kasar diterima DAM dengan hati perih. Ya, karena kejadian itu Indonesia hampir kehilangan penulis muda potensial. Dan untunglah seorang perupa Sofi’i Eko Prawiro atawa Eko Nono membuat DAM bangkit.

“Aku selain melukis, bisa melakukan banyak hal, membuat undangan, mendekor, membuat properti, tapi kamu? Ladangmu hanya di koran. Jadi, piye caramu harus kembali menulis.” wejang Eko Nono.

Akhirnya, DAM kembali bangkit. Ia kembali menulis untuk media dan setelah berjalan beberapa bulan. Gunjingan tentang kasus DAM akhirnya hilang dan tertelan kasus serupa yang tidak mendapatkan perlakuan sama. Hal itu salah satunya, mungkin, membuat DAM bangkit.

Namun saya akhirnya mendengar ucapan dari Abdul Malik yang merupakan pesan dari Prof. Djoko Saryono bahwa karya Dadang tersebut bukanlah plagiat. Namun sang profesor tidak membuat ulasan tentang fenomena tersebut (kala itu). Hal itu membuat saya bertanya-tanya. Lalu beberapa bulan setelahnya, saya pergi ke Jogja dan sempat bertemu dengan Indrian Koto. Koto mengatakan hal yang sama, bahwa “tindangan DAM bukan plagiat, namun kita saja yang masih belum terbiasa.”

Berangkat dari apa yang dikatakan oleh Prof. Djoko Saryono dan Penyair Indrian Koto tersebut akhirnya saya menulis sebuah kajian membahas kasuistik DAM tersebut. Kajian saya itu akhirnya dimuat di Jurnal Pena Indonesia. Jika kamu belum pernah membaca kajian tersebut bisa menengok di laman Jurnal Pena Indonesia atau bisa langsung unduh di tautan saya: Kajian Postmodernisme. 

Bagaimana kabarmu DAM? Semoga selalu sehat selalu. Saya tunggu novel terbarumu. Kita sudah tidak lagi sering bersama. Kecintaan kita dalam sastra telah membukakan jalan yang berbeda. Jalur itu tetap dalam haluan sastra. Salah satunya, yaitu dalam bentuk-bentuk kajian seperti ini dan juga dalam bentuk pembibitan penulis. Ya, saya lebih tertarik di sana. Dan kamu, lanjutkan kariermu dengan terus menulis dan mengirimkan karyamu ke media massa dan penerbit. Juga, tolong jangan menolak ketika ada orang mengundangmu menjadi pembicara. Setidaknya dengan menjadi pembicara, kamu akan berbagi ilmu di sana. Ya, berbagi ilmu. Dunia yang kini saya tekuni itu. ***

Iklan

Mengajari Menulis

Sering kali saya diundang untuk mengisi pelatihan menulis, baik acara formal maupun nonformal. Tentunya hal itu selalu saya kerjakan dengan suka hati, sebab sejak 11 tahun lalu menulis adalah dunia yang sudah saya pilih-tekuni.

Ada kalanya mengisi materi kepenulisan di sekolah. Hampir semua jenjang, mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Memang yang paling sering tentunya tingkat SMA. Dan paling menggemaskan itu ketika memberi pelatihan di tinggat SD. Ah, benar-benar menggemaskan. Tentunya selain itu, saya salut dan bangga, seusia mereka sudah diarahkan menuju kegiatan positif.

Sesekali juga diundang perguruan tinggi untuk mengisi kuliah umum kepenulisan. Tingkat ini memang tidak sesering di tingkat sekolah. Kampus yang beberapa tahun ini sempat saya isi kuliah umum kepenulisan yaitu STKIP PGRI Jombang, Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Lembaga nonformal yang pernah saya isi pelatihan menulis yaitu pondok pesantren. Memang ini tingkat pembelajaran menulis yang unik menurut saya. Sebab pesantren biasanya lebih fokus ke dalam pembelajaran kitab. Jika belajar menulis, ini amat menarik. Jadinya, ketika mengisi pelatihan menulis di pesantren, saya amat antusias. Tentunya jika ingin memondokkan anaknya di tempat yang ada kegiatan menulis yaitu di Pondok Pesantren Darul Falah Jeruk Macan, Jetis Mojokerto dan di Pondok Pesantren Guluk-Guluk, Sumenep Madura. Ya, baru dua itu yang saya ketahui ada aktivitas kepenulisan. Dan satu lagi, tapi ini dulu (ketika saya wawancara pengasuhnya masih dalam perencanaan) dan sampai sekarang saya belum ke sana. Entah program penulisan sudah diberlakukan atau belum, Pondok Pesantren Darul Ulum Kompleks Al-Hambra, Peterongan, Jombang.

Selebihnya, masuk di forum, komunitas, dan kegiatan-kegiatan insidental. Lalu, kenapa di blog ini tidak diberi materi kepenulisan? Ya, saya di sini lebih suka santai. Hanya ingin berbicara tentang hal-hal kecil atau berceloteh.

Dan celotehan ini, saya pun ingin mengabarkan bahwa saya sedang melatih menulis istri saya. Ia saya minta menulis. Masak suaminya melatih menulis dari satu tempat ke tempat lainnya, tapi istrinya tidak dilatih menulis. Tentu sangat ironis bukan? Lah, atas dasar itu akhirnya istri saya latih menulis.

Ia selalu tidak PD. Namun saya kerap memberi arahan, bahwa segalanya itu proses. Dan ia pun berproses. Prosesnya bisa ditengok di sini. Jika punya waktu, silakan ditengok dan menjadi saksi proses kepenulisannya.

Kalau ini saya pas lagi menulis, eh, dia malah manja. Baru setelah saya selesai menulis, ia saya minta menulis dan membuat blog sebagai medianya. Ya, yang ngintip itulah si doi.

Bulan Madu ke Jogja

Ceritanya ini gara-gara si Silva buka medsos, entah apa nama akunnya lupa. Ia menemukan tempat-tempat wisata yang recomended. Oh iya, hampir lupa menceritakan si Silva itu siapa. Si Silva ini adalah istri saya tercinta. Biar kesannya enak, saya pakai nama saja, tidak menggunakan kata istri.

Setelah Si Silva mengobok-obok medsos yang sudah diikutinya. Ia tiba-tiba menyodorkan hapenya ke saya. Saya pun melihat wajahnya, menatap matanya. Lama dan dalam. Lalu saya pun bertanya, “Mau bulan madu ke Jogja?” seperti biasa, ia tidak menjawab, hanya senyam-senyum saja.

Maka kita pun memutuskan untuk bulan madu ke Jogja. Padahal ketika merencanakan bulan madu, Jogja sudah dicoret dari daftar tujuan. Gegara melihat foto-foto di akun yang diikuti si Silva, kita pun memastikan pilihan bulan madu kita ke Jogja. 

Saya pikir, tempat di foto itu memang belum disamperi. Kita pun memastikan dua minggu lagi berangkat. Rencananya mau naik kereta api. Si Silva sangat senang dengan kotak besi panjang itu. Entah kenapa. 

Tentunya, sebagai saran tolong rekan-rekan memberikan rekomendasi penginapan yang terjangkau di jogja. Atau tempat kos harian. Biar lebih murah. Sebab rencananya kita bulan madu ini ala backpaker. Tentunya selain hemat, biar kenangannya melekat.

Bisa juga teman-teman merekom tempat menarik di Jogja. Ditunggu ya….

Foto ketika kita ke Jogja beberapa bulan lalu, ketika masih pacaran. Dan sekarang kita akan ke sana lagi dengan status sudah berubah. Jogja, kita akan kembali menjengukmu.

Memiliki Dua Rumah

Satu keanehan atau bisa disebut rasa tidak percaya terus menghantui diri saya. Ya, saya kadang masih tidak percaya kalau saya sudah menikah. Entah kenapa perasaan itu terus muncul. Aneh.

Rasanya baru kemarin saya mengenal perempuan yang menjadi istri saya. Rasanya baru kemarin saya antar-jemput dia saat ada acara. Sungguh, kadang rasa ini seolah seperti dejavu. 

Barulah ketika membuka-buka foto dan melihat dokumetasi pernikahan, baru sadar kalau memang benar-benar sudah menikah.

Apalagi sekarang, saya mendapatkan dua rumah. Rumah pertama adalah rumah orangtua kandung. Rumah kedua adalah rumah mertua. Seminggu waktu kami dibagi, di rumah orangtuaku dan di rumah mertuaku. Sebuah aktivitas baru yang baru bisa saya rasakan setelah menikah ini tentunya. 

Perasaan aneh itu mungkin sebagai wujud belum beradaptasi dengan status baru dan efek dari munculnya status. Meskipun di KTP kami masih berstatus sama-sama lajang. Kami belum sempat mengubah data ke Dinas Capil. Tentunya, nanti akan saya ceritakan jika sudah mulai mengubah data lajang menjadi menikah. Hehehehe

Dan hari ini yang membuat saya tidak sabar adalah video dokumentasi pernikahan kami sudah jadi. Tadi, sudah berunding dengan istri. Sebagai wujud dokumentasi terbaik yakni online. Maka, seberapa besar file itu nanti kami sepakat mengunggahnya di youtube. Tentunya jika sudah terunggah akan saya bagikan tautannya. 

Dan saya mau bermalas-malasan dulu. Entah sifat ini juga muncul setelah menikah. Aneh. Padahal saya sendiri tidak suka kemalasan. Namun setelah menikah hal itu menjangkiti saya. Semoga itu bukan malas, tapi sifat manja. Manja kepada istri. Seseorang yang baru dan bisa menemani tiap waktu. Ya, semoga.

Kado Pernikahan

Alhamdulillah semua berjalan lancar. Tentunya, pasti ada saja kekurangan. Setidaknya, hal itu tidak menjadi penghambat pernikahan kami, aku dan istri tercinta. 

Sebagai pelengkap kebahagian, banyak rekan-rekan, teman, dan saudara dari jauh pun hadir. Sungguh, aku merasa terharu. Juga teman putih biru, abu-abu, dan teman masa pendidikan penuh haru-biru. 

Teman masa abu-abu, suwon sis sudah hadir dan mendoakan.
Teman masa abu-abu, suwon bro sudah hadir dan mendoakan.
Teman menempuh pendidikan penuh haru-biru. Duh, datang sudah membawa keponakanku. Kapan ya aku bisa punya si kecil untuk melengkapi keluarga baruku? Loh, he, loh he, olahraganya aja belum kok sudah pengen si kecil. Hohoho

Dan sebagai kado pernikahan, maka sebagai seorang penyair maka aku menghadiahkan sebuah sajak kepada istriku. Sajak yang kubacakan pada malam resepsi di rumah. Pembacaan yang begitu menguras batin, hingga airmata ini berjatuhan bagai gerimis. 

Membacakan sajak PENGANTIN BARU: SURAT SUAMI KEPADA ISTRINYA, sebagai kado pernikahan. Pembacaan paling menguras energi batin, sebab segala rasa yang mengendap benar-benar tumpah. Tumpah karena doa-doa dan harapan menghadapi hidup yang mesterius. Semisterius jodoh. Ya, seperti engkau istriku.

Ya, sepuluh tahun menekuni dunia perpuisian, pembacaan puisi kado pernikahan terasa begitu menggoncangkan. Suasana menjadi syahdu dan mendayu. Para tamu undangan baik saudara, orangtua, teman, kenalan banyak juga yang terbawa suasana. Jadinya, di mana-mana airmata berjatuhan. 

Tentunya sebagai penutup, berikut sajak tersebut:
Pengantin Baru: Surat Suami Kepada Istrinya

Oleh: Akhmad Fatoni

Dua tahun lalu, aku mengenal seorang gadis  Gadis manis berbaju hitam: lantang membacakan puisi
Gadis manis itu berambut panjang

Lurus dan tergerai

Aku jatuh pada tatapan matanya

Mata yang membuatku berkelana di rimba sapa

Dingin. Sedingin angin malam di musim kemarau

Aku telah terjatuh pada tatapan matanya

Sikap angkuh dan takmudah dirayu

adalah milikmu. Namun karena tatapan matamu

juga bait-bait sajak yang kaulantunkan

membuatku tetap tumbuh, meski tanpa rindu menggebu

Aku benar-benar terjatuh pada tatapan matamu

Tuhan pun tahu, bahwa jatuh ini

Jatuh pada tulang yang sama

Tulang rusuk yang akan kutemu

Kita pun beradu

Dua bulan, aku langsung melamarmu

Kedekatan tanpa bujuk rayu

Aku bertamu pada ibumu, mertuaku

Kita pun menyatu

Duduk di pelaminan dengan akad yang  sempat

keliru, karena degub tak menentu

Aku menghalalkanmu

Gadis manis dua tahun lalu

kini telah menjadi istriku

Aku mencintaimu, kau pun begitu

Istriku, rindu dan cemburu adalah bumbu

Racik dan sajikan untukku, suamimu

Tidak kurang, tidak lebih.

Aku pun cemburu

Cemburu yang hanya muncul di bilik kata-kata

di beranda. Ya, beranda, bukan wajah atau mulutku

Istriku, 

Ijinkan aku mengenalkanmu ke keluargaku

Begitu juga kau, dekatkan aku ke sanak-saudaramu

Jangan seperti kucing nakal yang suka mencuri ikan

Sebab hatimu tidak kucuri, tapi kuketuk perlahan

Dua tahun

Istriku,

Pencemburu itu merusak hati

Jangan kaurusak hatimu

Hati yanh telah kupilih untuk berlabuh

Lepaskanlah segala masa lalu, bagai ibu dan

bapakmu saat melepas kaukawin denganku

Tentu itu berat, sayang!

Namun harus, perlu dimengerti-sadari

Jumat lalu, Jumat legi, ditemani 

saksi dan dihadiri wali, aku menghalalkanmu

di depan pengulu dan mudin desamu

beserta mas kawin sebagai pelengkap rukunnya

Dan kau, malam ini bisa tidur bersamaku

Bercerita tentang orangtua yang taksabar menimang cucu

Aku pun tahu, selayaknya engkau pun tahu

kamarku telah kupersiapkan seprai baru,

agar kaubetah bercumbu denganku

Ah, jangan istriku

Aku mencintaimu

Namun tamu-tamu masih di sini 

Aku harus menjamunya

sebelum aku berdoa dan meminta cucu untuk orangtua dan mertuaku melalui rahimmu
Istriku, 

Kelak jika aku keliru, tegurlah

Begitu juga engkau, patuhlah pada suamimu

Kita beribadah bersama dalam keluarga yang semoga 

Sakinah, mawadah, warahmah tentunya

Mojokerto, 10 September 2017

Sah Menjadi Pengantin Baru

Beberapa bulan menyiapkan ini dan itu, akhirnya Jumat Legi, 8 September 2017 lalu akhirnya sah. Di hadapan pengulu, mudin, wali, saksi, saudara, dan teman-teman yang turut menyaksikan akad nikah kami. 

Besok, acara resepsi pernikahan kita dilangsungkan. Keduanya sama-sama satu hari. Lusa baru di rumahku. Dan malam ini, aku baru lega karena persiapan sudah hampir siap. Tinggal beberapa persiapan lagi yang sudah dibagi-tugaskan ke saudara, tetangga, dan teman. 

Kua yang kita persiapkan sendiri untuk buah tangan tamu.
Banner photoboth siap digelar di acara resepsi.
Teman-teman yang rela meluangkan waktu membantu menyebar undangan
Banner untuk tanda. Dipasang di depan gg dan di depan jalan.

Ya, akhirnya duduk juga di pelaminan. Rasanya semua berjalan dengan cepat. Baru 3 bulan lalu aku melamarmu. Kini kita sudah menikah. Ya, benar-benar kilat. 

Semoga saja, apa yang kita upayakan ini bisa menjadikan kita sebagai keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Amin.

Saat belanja toples untuk kue.
Teman yang reka begadang, membantu persiapanku.

Pengingat dan Peta Menuju Rumah Manten

peta menuju rumah manten

Semacam pengingat, sebuah usaha melawan lupa

Bagi rekan-rekan yang belum pernah silaturrahim ke rumah, maka bisa mengikuti peta ini. Ingat, kalau hadir jangan di pukul 10.00-12.00 sebab ada temu manten. 
Tentunya, jika rekan-rekan hadirnya di waktu temu manten saya ndak bisa menyambut sampean. Yo g enak toh rasane nek ndak disambut sama sahibul hajat. 
Saya menyarankan hadirnya habis Isya. Biar kita bisa khidmad. Bisa menikmati suguhan dari saya, berupa pembacaan puisi. Sekaligus sebagai pembuka acara. Lalu akan disambung sajian pembacaan puisi dari kawan-kawan lain, musik, stand up, hingga lain-lainnya. 
Ya, jangan berharap alat musiknya lengkap. Mohon maklumlah, segala upaya yang mampu ane suguhkan ya sesuai dengan kemampuan seorang penyair. 
Jika ada makanan atau minuman yang ala kadarnya, dan segala sesuatu yang serba kurang. Mohon maaf. 
Ojok lali ya, Selasa, 12 September 2017. 

Tradisi: Bancaan Hajatan

Etnis Jawa memiliki banyak kearifan lokal yang hingga saat ini terus diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya yang akan saya bahas di dalam tulisan ini. Ya, ikhwal bancaan bagi orang mau punya hajatan. 

Sebelum hari H berlangsung, ada tiga macam bancaan yang harus digelar. Bancaan sebelum menyebar undangan, bancaan manten, dan bancaan ahli kubur.

Tentunya hal itu sudah menancap di benak setiap orang, Jawa. Jika memang hal itu luntur dan tidak diturunkan oleh generasi sebelumnya, masih ada yang selalu menyambungnya. Entah itu saudara, tetangga, atau bahkan kenalan. 

Hal itu jika dilanggar, akan mendapatkan sesuatu balasan. Entah itu berupa musibah atau sesuatunya tidak berjalan lancar. Sama seperti ketika mau menyebar undangan, dilakukan bancaan terlebih dahulu. Salah satu elemen pentingnya  kluweh, ben luweh-luweh artinya biar ketika punya hajat semuanya kecukupan dan mendapat rejeki yang berlebih. 

Selain tiga macam bancaan itu, dalam tradisi Jawa yang amat dipegang yaitu was atau geblak. Was atau geblak adalah hari dan pasaran orangtua meninggal. Bertepatan dengan hari itu, tidak boleh melakukan hal-hal besar ataupun bepergian jauh. 

Jika hal itu tidak dihiraukan, maka akan ada saja petaka yang datang. Percaya ataupun tidak. Hal itu memang benar-benar terjadi. Maka, sebagai generasi orang Jawa, kudu eleng lan waspada. 

Perasaan Calon Pengantin Menjelang Pernikahan Dilangsungkan

Undangan model klasik yang saya kemas melalui SIFJATNIKA

Perasaan calon pengantin yang pada tulisan ini adalah perasaan yang saya rasakan. Namun saya merasa aneh, karena saya merasakan sesuatu yang biasa-biasa saja. Tidak ada perasaan berlebih. 

Atau mungkin karena selama ini saya kerap menyelenggarakan wedding? Ya, memang saya kerap menangangi acara pernikahan. Namun baru kali ini saya menyiapkan pernikahan saya sendiri. Ya, saya memang bergerak di wedding organiser melalui SIFJATNIKA. Mungkin juga karena itu. Ah, entahlah. 

Tetenger di depan gang masuk rumah, tentunya ini juga saya garap bareng dengan Tim SIFJATNIKA
Undangan elektronik juga kami siapkan bareng SIFJATNIKA, selain undangan cetak di awal tulisan ini.
Tentunya saya menyiapkan ini bareng tim SIFJATNIKA untuk kegokilan teman-teman yang doyan selfie.

Saya memang mengemas acara pernikahan ini secara tidak biasa. Perpaduan dari proses adat hajatan orang desa (keinginan ortu), konsep wedding gedung (yang biasa digarap WO, SIFJATNIKA), dan acara kesenian (keinginan saya dan pasangan). Jadinya, acara ini nanti akan memadukan tiga konsep tersebut. Tentunya itu akan menjadi aneh dan saya siap disoroti aneh oleh orang. Saya pun pada panggung sederhana itu akan membuka dengan pembacaan puisi. Baru setelah itu, saya akan memanggil pemandu acara untuk melanjutkan acara dari rekan-rekan lainnya. 

Kalau ini foto prewedd dari yang sudah tertata sampai yang konyol. Lah, karena bagi saya proses itu penting makanya itu perlu saya munculkan sebagai sebuah klangenan suatu ketika nanti.




Setelah cincin terpasang di jemarinya nyonya, ibu memegang tangan nyonya sembari merapalkan doa-doa.
Setelah acara lamaran selesai, kita bisa tersenyum bareng juga.
Setelah cincin terpasang di jemarinya nyonya, ibu memegang tangan nyonya sembari merapalkan doa-doa.
Setelah cincin terpasang di jemarinya nyonya, ibu memegang tangan nyonya sembari merapalkan doa-doa.
Bersalawat, sebelum saya memasangkan cincin di jari manisnya.
Ah, masak engkau takut dinikahkan beb. Hehehe
Saya senyam-senyum, eh nyonya kok nampak gelisah ya?
Saat kita menggarap pagelaran kirab bersama, saya sebagai koordinator dan nyonya sebagai salah satu penarinya.
Senyum kita saat di salah satu pantai yang ada di Yogyakarta.
Ketika saya dan nyonya mendapat job menata rias untuk karnaval
Ketika saya dan nyonya mendapat job menata rias untuk karnaval
Saat saya dan nyonya menjadi penata rias di sebuah karnaval.
Perjalanan Jogja-Mojokerto, kita kelelahan dan diabadikan oleh teman seperjalanan.

Semoga perasaan yang biasa-biasa saja itu, bisa menjadi bekal kita menuju keluarga yang Samawa. Amin.

Menanam Benih di Kampung Halaman

Sejak sepuluh tahun yang lalu, saya sudah memilih jalan. Jalan kesusastraan. Jalan yang akhirnya membukakan pada jalur-jalur yang tak terduga. Jalan tari, jalan teater, jalan fotografi, jalan musikalisasi puisi, jalan karnaval, dan jalan-jalan lain dengan tujuan yang sama. Kesenian. 

Namun delapan dari sepuluh tahun itu, saya bergerak di luar. Baik luar kota dalam propinsi ataupun kota di propinsi lain. Baru dua tahun lalu, sejak 2016, saya bergerak di kampung halaman. Saya menggerakkan literasi dan juga kesenian. 

Perlahan-lahan saya bergerak. Menanam benih-benih itu di tanah kelahiran. Tentunya hal itu membuat saya mengorbankan perjuangan bersama rekan-rekan lain di luar sana. Yah, saya benar-benar absen selama dua tahun ini dari kawan-kawan sastrawan dan seniman. 

Namun benih itu kini mulai tumbuh. Kini saya berjuang di kampung halaman sudah tidak sendiri. Mereka telah tumbuh dan berjuang bersama saya. Mereka adalah Tim RBAF. Yah, saya masih belum mengajak mereka berjuang di luar sana. Saya masih membekali mereka dengan talenta dan pola pikir yang kuat. Tentunya dengan harapan agar mereka menjadi pribadi yang solid. 

Suatu ketika nanti, tim ini akan duduk bersama dalam forum diskusi di kampung halamanmu. Atau dalam kegiatan yang digelar di kota atau instansimu. Yah, suatu ketika nanti. 

Salah satu kostum kreasi tim RBAF untuk kegiatan kirab, karnaval, atau pawai dengan tema kerajaan.
Tim kami yang siap menjadi model dan juga menangani segala pernak-pernik adminitratif.
Tim RBAF yang rela lembur sampai pagi berkarya. Mereka sedang membuat kostum lagi, kostum kerajaan.
Perempuan-perempuan cantik ini akan menari dalam kirab di Kabupaten (Mojokerto) mewakili kecamatan.
Salah satu kostum yang menjuarai lomba karnaval di Krembung Sidoarjo.
Tidak hanya tim yang mendukung pergerakan kami. Aparatur negara pun selalu mendampingi kami.
Ketika kami membersihkan ruang perpustakaan.
Kami sedang koordinasi dengan perangkat desa, kapolsek, dan juga koramil.
Kami berkoordinasi dengan warga dan karang taruna untuk membentuk kelompok drum band. Akhirnya, kita pun membeli alat itu dengan segala upaya.
Ialah perempuan yang bisa mengisi kekosongan saya. Ia membantu saya make up, membantu saya menata tari, menata busana, dan juga menata hati ini.
Dan alhamdulillah, akhirnya kita pun dipertemukan dan bersiap menuju pelaminan. Tentunya, selain berjuang, saya pun sebagai individu meski belum mampu menjadi pemeluk teguh berupaya melengkapi ibadah. Saya pun memohon doa restu, agar bulan depan acara pernikahan saya berjalan lancar dan bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah.