Jungkir

Entah rasanya sejak kapan ini mulai terjadi. Rasanya tiap kali pulang ke rumah kedua, kini sudah ada saja perasaan ini. Perasaan yang seharusnya tidak dirasakan ketika di rumah. Bejinjiten. 

Saya memang tipe orang lembut. Namun perlu diingat, kelembutan itu memiliki sisi yang keras. Bila kelembutan itu tergores, maka akan meninggalkan sayatan yang mendalam. Sedalam ingatan kerinduan. Kuat. Lekat. 

Sayangnya, sayatan itu bukan sayatan rindu. Sayatan itu adalah sayatan luka. Luka yang mengores ingatan karena melukai rasa. Rasa yang paling peka. 

Luka itu, luka yang diberikan pengayom di rumah kedua. Sosok yang seharusnya meneduhkan. Sosok yang seharusnya menentramkan. Kini itu semua berubah. Hanya ada gerah, resah, dan suntuk yang terantuk. 

Kata-katanya telah melukai. Tidak hanya sekali. Berkali-kali. Namun puncaknya, teramat pedih. Sungguh, sejak itu rasanya tiap kali menginjakkan kaki di sana hanya kepedihan yang ada. 

Maafkan daku. Diri ini taksanggup tinggal lebih lama, sayangku. Bila kaurindu padaku, bilanglah. Maka aku akan menjemputmu. Tresnoku siji, ora isok diganti. Dadine loro nang ati iki, ora iso mbedol tresnoku marang slirahmu. I lap yu.

Iklan

Kenikmatan Membaca

Membaca adalah kegiatan yang langka. Kelangkaan sikap itu membuat membaca menjadi aktivitas yang angker. Sintru. Tidak banyak yang memilih aktivitas ini. 

Orang akan lebih banyak memilih menonton atau mendengar. Itulah kenapa televisi, radio, tape lebih banyak kita dapati di tiap rumah daripada buku. Padahal secara harga, buku lebih terjangkau. Jika saja harga televisi layar datar itu diganti dengan buku, maka sudah dapat satu rak kecil buku. 

Namun sekali lagi, tidak ada yang memilih hal itu. Keinginan membaca saja sulit hinggap, apalagi merasakan nikmat darinya. Mustahil rasanya. 

Anehnya, itu menjangkiti diri saya. Memang, saya suka membaca. Kesukaan itu yang membuat saya selalu meluangkan diri membaca. Namun akhir-akhir ini, membaca mendapatkan porsi lebih sedikit. 

Walhasil, saya merindukan waktu-waktu bisa membaca buku. Sekarang, membaca beberapa lembar buku saja rasanya nikmat. Otak ini butuh asupan. Adakah kamu juga merasakan seperti itu?

Pertama

Saya tipe orang yang aneh. Kadang rajin, kadang pemalas yang akun. Saya pun sulit menebak alasan kenapa bisa rajin, kapan, dan di mana. Itu terlihat absurd. Begitu juga alasan kenapa saya pemalas akut. 

Ada orang yang jengkel, karena dekat dengan saya. Tentu karena kemalasan saya. Ada orang yang berutung, karena dekat dengan saya. Tentu karena kerajinan saya.

Kemarin, saya membongkar padepokan yang hampir 2 tahun ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Lebih ke arah tempat penyimpanan. Mulai dari barang tidak dipakai, bekas, hingga sisa produksi. Jadinya kumuh dan berjubel.

Dua bulan lalu, saya beli bambu dan meminta tukang mengerjakan penutupan padepokan terbuka itu. Alasan ditutup ya biar bisa menghalau dingin. Juga bisa menyimpan barang lebih banyak dan tidak terlihat dari luar. 

Bisa buat duduk-duduk dan tiduran. Rencananya akan ada kompor dan peralatan masak. Entah nanti digratiskan atau sebaliknya saya berjualan. Entah. Lihat saja nanti. Jelasnya, kalau mau tidur di situ boleh dan gratis.

Lah, itu semua saya lakukan pada bulan puasa. Malam hari. Siangnya saya tiduran. Sesekali baca buku. Sesekali momong Abbad. Sesekali menulis. Sejak awal puasa tahun ini, saya hanya ikut Tarawih sekali. Tadarus tidak sama sekali. 

Tapi berencana menyiapkan tadarus wawang beber di padepokan. Sebentar lagi. Jika jadi. 

Lah, semacam itu diri saya. Saya pemalas yang akut. Saya bisa sangat rajin. Begitulah.