Dilarang Mencium

‚Äč

Kala ayah mulai terindikasi flu dan batuk. Ayah mulai jaga jarak mulut ayah denganmu. Tiap ayah batuk, selalu berupaya memalingkan muka.

Hujan bulan Juni, mengingatkan ayah pada sajaknya Sapardi Nak. Iya, beberapa hari sejak kaulahir, beberapa kali turun hujan. Hujan di bulan Juni. 

Tentu hadirnya hujan ini membawa sisi positif dan negatif. Negatifnya bila kala hujan turun kondisi tubuh kurang fit, maka bisa jatuh sakit. Gelaja yang sering muncul di kondisi seperti ini yaitu demam, batuk, dan flu.

Kala hujan itu, nampaknya ada yang sedang tidak fit di rumah nak. Kali pertama yang terserang batuk dan flu adalah Om Bena. Om Bena flu dan batuk malahan sebelum kaulahir nak. Makanya, Om selalu pakai masker. Memang begitulah nak anjuran dokter ketika ayah kemarin ngantar ibu kontrol. 

Ibumu menceritakan kalau di rumah ada yang terserang batuk dan flu. Dan ibumu bertanya, sikap bagaimana yang harus diambil. Kata dokter, sesiapa yang flu dan batuk tidak diperbolehkan menciummu nak. Terus kalau dekat atau ingin menggendong? Boleh, tapi harus menggunakan masker. 

Setelah Om Bena, mbah kung juga terindikasi flu dan batuk. Dan sejak kemarin, ayah juga mulai terindikasi. Dan biar batuk ayah tidak lama-lama hinggap dalam tubuh, ayah memanggil Pak De Yusuf. Pak De Yusuf ini pemijat langganan ayah dan mbah kung. Nanti kalau kau besar, boleh ikut pijat. Dijamin yahut nak, pijatannya. 

Rasanya, badan ayah enteng nak setelah dipijat. Rasa panas GPU masih betah di tubuh ayah. Ya, semoga seiring panasnya GPU hilang, penyakit flu dan batuk dalam tubuh ayah juga turut. Ayah sudah nggak kuat bila menahan diri tidak menciummu nak. 

Sisi positifnya, tentu hujan dinanti para petani. Mbah kakung pasti senang hujan turun. Pas ayah sambang kemarin, katanya seperempat bagian, padinya mati. Tentu dengan hujan di bulan Juni, bisa mengurangi angka kematian padi di sawah mbah kakung. Nanti kalau kau sudah selapan. Ayah ajak ke rumah mbah kakung dan mbah putri. Mbah pasti kangen juga dengan cucunya yang ganteng ini.

Ya nak, tidak hanya mbah kakung dan mbah putri saja yang kangen. Bahkan ayahmu ini merupakan sosok yang paling takkuat menahan rindu. Rindu padamu. Tapi ayah paling pandai menyimpan rindu, ayah selalu melepasnya tatkala ibu, Om Bena, pak de, mbah kung, atau mbah ti sudah selesai mengobati rindu padamu. 
Begitulah nak, cara ayah merawat rindu padamu. Juga kadang dengan menulis catatan seperti ini, cara ayah mengobati rindu padamu. Doakan ayah lekas sembuh. Biar ayah kembali memiliki momen puitis melepas rindu padamu nak. Dan pesan ayah, jangan nakal.

Iklan

Doyan Asi

Cepat sekali pertumbuhanmu nak. Tidak semua anak seusiamu, 7 hari, bisa membuka mata dengan tegar seperti itu.

Sebelum coplok puser, kau selalu rewel kalau minum susu nak. Ketika ayah cermati, rewelmu bila ASI-nya tidak bancar. Pasti kau akan menangis. 

Lah, katika habis coplok puser kemarin. Kau sudah mulai tidak begitu rewel ketika minum susu. Kau sudah mulai suka dengan ASI, yang biasanya minum SGM. SGM memang pilihan keduanya, ketika ASI nggak bancar. 

Dan ternyata nak, anak seusiamu memang begitu. Itu merupakan siklus si kecil dalam merespon susu. Kautahu nak, setelah coplok puser minummu lebih banyak. Jika tetap nggak tuso, jelas nanti kamu harus nyambi makan pisang. 

Jika makanmu ndak rewel, pasti pertumbuhanmu lebih cepat. Namun dari proses beberapa hari ini, memang pertumbuhan dan gerak-gerikmu sudah menunjukkan itu. 

Ini yang lebih mengkhawatirkan, ngompol dan eekmu lebih sering. Sedang persediaan gedong, sarung tangan, dan kaos kakimu terbatas. Kalau popok dan baju, masih cukup meski kamu dalam sehari ngompol berkali-kali. 

Sabar ya nak, jika ayah punya rejeki nanti ayah tambah jumlah kaos kaki, sarung tangan, dan gedongnya. Bukan e ayah perhitungan, tapi ini masih masa libur nak. Ayah masih ingin lebih banyak di rumah dulu. Menemanimu dan mencuci popokmu. Jika ibumu, sudah mulai pulih seperti sediakala, ayah akan kembali berupaya. 

Ayah tidak bisa menjanjikan lebih nak. Soal rejeki, Allah yang bagi. Ayah yakin jatah rejekimu pasti juga sudah dipersiapan. Kau takperlu gusar. 

Ayah itu lebih gusar, bila kelak tidak bisa menunjukkan jalan menuju-Nya. Apalagi godaan terkini yang menggiurkan adalah perihal fokus dan tergiur hanya pada rejeki-Nya. Bila sudah seperti itu, maka jalan menuju-Nya sudah tidak menjadi fokus utama. Itu nak yang ayah khawatirkan. 

Tentu, ayah juga kerap lupa kalau hidup ini menuju-Nya dan hanya sibuk mengatur rejeki-Nya. Maka dari itu nak, ayah menulis ini sebagai pesan kepadamu. Kelak, jika kau sudah bisa membaca. Bacalah semua catatan ayah. Ingatkan ayah dan ibu, bila terlalu fokus mengatur rejeki-Nya. Tunjukan catatan ini.

Coplok Puser

Abbad berpose seperti ini ketika usianya lima hari. Subhanallah.

Kebahagiaan datang lagi pagi ini. Si Abbad waktu dimandiin, pas pusarnya dialiri air sama Mbak Ervi, prul. Lepas. Tepat di hari ketujuh. Sontak semua bersorak. Alhamdulillah. 

Dan Abbad juga merasa bahagia. Salah satu bagian tubuhnya yang selalu terasa sakit sudah mengering. Tanda kebahagiaan itu ia munculkan dengan buang air besar. Padahal ia sudah cakep. Sudah dibedaki. Pakai minyak wangi. Baju sudah lengkap terpakai di tubuhnya. Brutt. Ia kentut. Sontak semua tertawa. 

Mbak Ervi, perawat yang biasanya memandikannya sejak pulang dari RS bilang: ndak, hanya kentut. Mbak Ervi ini kerjanya di Puskesmas Bangsal. Tetangga juga. Tinggalnya di RT dua. 

Lepasnya pusar, petanda bahwa tugas Mbak Ervi memandikan Abbad sudah rampung. Memang seisi rumah tiada yang tatak mandiin kau nak saat pusarmu belum lepas. Jadi, tugas memandikanmu akhirnya dipasrah-tolongkan kepada Mbak Ervi. 

Ayah tadi cerita bahwa kemarin kautidur miring. Namun kautahu apa kata Mbak Ervi nak? Katanya masih belum waktunya. Jadi, harus dibenarkan. Soalnya tubuhmu masih rawan. Belum kuat. Pose dan gerak tubuh pun yang diperbolehkan hanya sebatas wajar. Tidur telentang. Diupayakan semua tubuh lurus. Makanya kamu digedong itu nak. Kaki dan tanganmu diluruskan.

Ah, tapi kau selalu berusaha melepaskan tangan dan kakimu dari gedongan. Walhasil, gedongan hanya bertahan beberapa jam saja. Namun kau selalu punya cara agar tidak kembali digedong. Ya, kau selalu begitu. Kalau tidak kaupipisi, maka kau akan menangis untuk mengatakan: aku sumuk Yah. 

Tentu saja, tiada seorang pun yang kuat melihatmu menangis. Gedong pun di buka. Ya, sama seperti ketika kautidur miring di foto ini. Menggemaskannya, guling yang ditaruh di sampingmu guna menjagamu agar tidak jatuh, berguling ke samping, langsung kautarik dalam pelukan. Duh, semua orang terheran. 

Kecilmu sudah membuat orang gemas nak. Hal yang belum saatnya dilakukan pada anak seusiamu, sudah kauterabas. Namun maaf nak, pesan Mbak Ervi belum waktunya. Jangan.