Valentine Day: Antara Kasih Sayang dan Keruwetan

Pekan ini adalah pekan keruwetan yang menyenangkan. Keruwetan? Ya, begini, saya dengan lima rekan lainnya yang mengabdi di almamater yang sama, Universitas Islam Majapahit, berangkat mengikuti pelatihan di Malang selama sepekan. Pelatihan Keterampilan Dasar Intruksional (PEKERTI)-Applied Aproach (AA) yang diadakan Universitas Tribuana Tunggadewi Malang bekerjamasa dengan Kopertis Wilayah VII. Pelatihan itu dilaksanakan mulai tanggal 12-16 Pebruari 2018, kurang dua hari lagi berakhir. 

Pekerti
Peserta PEKERTI dari garis lelaki bersama Prof. Dr. Drs. Zainuddin Maliki, M. Si.
Peserta Pekerti dari garis perempuan yang dijaga dua lelaki bersama Prof. Dr. Drs. Zainuddin Maliki, M. Si.

Pelatihan ini saya sebut sebagai keruwetan karena renetan yang cukup panjang. Pertama, saya tidak menyiapkan materi yang diminta panitia untuk dibawa. Hal itu membuat kegiatan tidak berjalan harmonis, bila diberi tugas oleh pemateri. Harus mengerjakan dengan sistem SKS (Sistem Kebut Semalam). Untungnya ketika perihal tulis-menulis kerja saya cepat, jadinya ketika dua rekan rumpi saya melembur, saya tidur.

Persiapan melembur, tuh sudah ada yang serius. Namun setelah mengerjakan beberapa menit yang berpose undur diri dan saya pastinya sudah duluan ke singgasana mimpi.

Kedua, tak ada uang saku dari kampus untuk pelatihan ini. Memang dalam hal ini, kebijakan tiap kampus berbeda. Menariknya di kampus tempat saya uri-uri rejeki, Universitas Islam Majapahit, kita disubsidi pembiayaan 50%. Ada rekan pelatihan yang sempat saya tanya malahan tidak ada pembiayaan dari kampus sama sekali. Byuh. Kita masih untung.

Ketiga, kondisi kantong sedang tipis. Walhasil untuk berangkat harus menebalkan kantong dulu. Alhamdulillah menebal. Kas bon dulu di kantong job lain. Ya, kantong job lain. Sebelum berangkat, saya dapat job mengeditori buku. Kebetulan diberi DP 500K, ya DP itu langsung untuk menebalkan sedikit kantongnya.

Indikator keruwetannya tiga, namun kalau katanya Cak Nun (MH Ainun Najib) orang Indonesia ini pakar penderitaan, sehingga dalam kondisi menderita tetap bisa menemukan indeks kebahagiaan. Jadi, ruwet+ruwet+ruwet= bahagia. Loh, kok bisa seperti itu? Bisa dong, orang Indonesia itu tidak perlu kaya atau berduit banyak untuk bahagia. Menertawakan penderitaan sendiri saja sudah bisa bahagia kok. Saya sangat sepakat dengan pandangan Cak Nun itu. Itulah sebabnya menurut survey Unesco bahwa Indeks kebahagiaan Indonesia urutan pertama. 

Namun Cak Nun menambahkan pula, bahwa kita ini pandai mencari indeks kebahagiaan. Walhasil, pekan ini pun menjadi pekan membahagiakan. Indeks kebahagian pun muncul: Bapak Pertumbuhan atawa Prof. Denny; Kepala Suku Joko yang kocak, sedikit omong namun sekali omong langsung ngocok perut; dan tim rumpi, yang tiap malam ngajak jalan dan ketawa-ketiwi. 

Lah, ini salah satu indeks kebagian itu. Kita jalan ke tempat tongkrongan dan ternyata malam itu malam valentine. Tim rumpi ini terdiri dari 3 cowok dan 3 cewek. Kita dikira pasangan yang sedang merayakan valentine day. Jadi, selain menu yang sudah kita pesan, ada menu gratisan. Meja pun penuh. 

Valentine day
Jangan ditanya ane yang mana, ane jelas yang moto.
Satu pose, namun sekarang yang blur beda. Hahaha…maklum, kualitas kamera hape ane jelek. Biar tim rumpi ndak ngedumel, ya diupload lagi meski sama. Hohoho
Inilah tim lengkapnya, tim rumpi.
Coffee shop
Satu tempat, tapi khusus coffee shop dikhususkan. Tentu ini penghormatan bagi pencinta kopi seperti ane. Aku ya langsung aja ekspresso, eh malah dapat bonus jadi double ekspresso, mantap…
Nasi goreng, buat kamu yang kelaperan, ini rekomended.
Menu buat yang tidak kenyang, juga tidak lapar.
Menu buat yang masih kenyang, tapi biar nanti ndak bengong saat yang lain makan, maka ini rekomended. Hehehe

Sebenarnya masih banyak foto-foto gokil kita. Namun keburu grup rumpi terenkripsikan, saya ngak bisa unduh. Nanti akan menyusul fotonya, jika sudah dapat dari tim rumpi. Sama halnya dengan tulisan ini, yang telah diunggah. Hohoho

Iklan

Orisinilitas itu Absurd

Ketika seseorang melakukan tindakan plagiarisme, tentu itu amat menyedihkan. Namun berbicara plagiarisme, tentu juga tidak bisa tidak membicarakan orisinalitas pula. Di jaman now berbicara orisinalitas bagi saya adalah hal yang mustahil. Saya mengimani bahwa sudah tidak ada sesuatu yang benar-benar orisinil. 

Lantas, apakah yang kita lakukan ini plagiat? Tentu juga tidak seperti itu. Sesuatu yang kita tulis, tentu sebelum kita menulis mungkin dulu beberapa tahun silam sudah ada yang menulis. Padahal kita menulis, tidak tahu-menahu perihal teks tersebut. Inilah yang saya maksud, bahwa tidak ada yang benar-benar orisinilitas. Akan selalu ada keterpengaruhan, baik itu disengaja maupun tidak. Atau kaitan antara satu teks dengan teks lainnya, lebih detail itu masuk kajian intertekstualitas.

Terus, jika yang kita lakukan sudah dilakukan orang lain lantas untuk apa kita melakukannya? Tentu juga tidak seperti itu, makanya di dunia akademik kerap berlangganan aplikasi atau web pendeteksi tindak plagiasi. Sesuatu dikatakan plagiat, jika terdeteksi lebih dari 30%. Yah, selalu akan ada metode dan jalan keluarnya. Lebih jelas lagi, hal itu bisa ditelisik lebih jauh dalam kajian postmodernisme. 

Beberapa waktu dekat ini, Diva Press akan menerbitkan novel dari Jamil Massa asal Gorontalo. Judul dari novel tersebut, sebagian sama persis dengan judul kumpulan cerpen saya Meja Nomor 8. Hal itu sudah pernah diulas oleh Anjrah Lelono Broto. Jika belum membaca ulasan tersebut, bisa membaca di sini.

Meja Nomor 8
Kumpulan cerita yang saya tulis-terbit 2016 lalu.

Maka dari itulah, saya mengimani bahwa saat ini tidak adalagi sesuatu yang benar-benar orisinilitas. Akan ada sesuatu keberpengaruhan dan keterkaitan sebuah teks. Namun catatannya, jangan pernah sesekali berniat melakukannya disengaja. Jika disengaja, maka kamu sudah melakukan pencurian, plagiasi. Hindarilah.

Kosmologi Sastra Indonesia

Tulisan ini diharapkan bisa menjadi pemicu untuk membincangkan perihal kesusastraan Indonesia. Mungkin bila secara teknis, membincangkan sastra dari berbagai sudut pandang. Jika difokuskan, setidaknya mengarah pada makrokosmos dan mikrokosmos. Atau jika disederhanakan akan membicarakan karya sastra dan hal-hal yang berpengaruh setelah karya sastra ditulis. Perbincangan yang diharapkan akan terpicu dari tulisan ini yaitu tentang karya sastra, penulisnya, pembacanya, sistem produksi (dalam hal ini penerbit dengan segala sistemnya), dan kritikus (yang dalam hal ini bisa memicu pandangan pembaca). 

Elemen-elemen yang sudah disebutkan sebelumnya, jika dalam kosmologi sastra akan menempati posisi yang sama. Tidak ada yang lebih besar. Penulis tidak dianggap lebih penting dari pembaca. Pembaca dianggap tidak lebih penting dari penerbit. Penerbit dianggap tidak lebih penting dari kritikus. Begitu juga kritikus juga tidak lebih penting dari penulis. Semuanya memiliki peranan yang sama-sama pentingnya. Sama-sama membentuk atmosfir kesusastraan, sehingga tercipta kosmologi sastra Indonesia.

Maka dari itu, jika dikerucutkan dari tiap elemen bisa melahirkan kajian-kajian yang lebih tajam atau dalam hal ini bisa disebut makrokosmos. Lantas mikrokosmos sastra membicarakan apa? Apakah yang makro bisa dianggap lebih penting dari mikro? Tidak, adanya makro karena adanya mikro. Mikro sastra yang dimaksud di sini apa? 

Mikro itu sendiri yaitu karya sastra. Penilikan mikro ini bisa dari intrinsik seperti istilah Rene Wellek dan Austin Warren. Berdasar pendapat kedua pakar tersebut, pakar strukturalis Roland Barthes menegaskan ideologi the dead of author, pengarang telah mati. Akan tetapi, antara mikro dan makro tetap menjadi bagian yang penting jika membincang kosmologi sastra. Atau dalam kata lain, interteks. Hal itu memang tidak bisa dilepaskan. Tidak ada sesuatu yang bisa benar-benar berdiri sendiri, bila kita menarik sudut pandang secara lebih luas. Tidak ada sesuatu yang benar-benar orisinil. Dan hal itu, akhirnya melahirkan gagasan postmodern. 

Apakah dalam hal ini saya mampu membincang kesemuanya itu? Tidak. Saya hanya menyediakan semua pemantik agar muncul pertanyaan-pertanyaan yang bisa menciptakan perbincangan lebih luas. Lantas jika tidak muncul pertanyaan bagaimana? Tentunya bisa disimpulkan kemungkinan tidak ada pertanyaan itu: belum memahami, ingin lebih paham, atau mengkritisi. Jika muncul pertanyaan, apakah saya harus menjawab. Juga tidak, sekali lagi, ini adalah pemantik, sehingga kita bisa membincangkan perihal kesusastraan dan kosmologinya.

Citra Pengarang Indonesia

Citra ini dibangun sejak jaman kerajaan. Kala itu, pujangga (baca: pengarang) memiliki posisi penting untuk melahirkan kesusastraan sebagai konsumsi kerajaan. Memang kesusastraan itu hanya dilakukan secara lisan, karena memang belum dikenal adanya tulisan. Posisi pencerita anonim. Cerita menyebar dari mulut ke mulut. Namun posisi pujangga dijamin dan diayomi kerajaan. Keadaan seperti masih terus berlangsung meskipun kerajaan-kerajaan satu per satu runtuh. Sebelum hal itu terjadi, ada tindakan untuk memuat jejak-jejak itu terekam hingga kini, yaitu menuliskan cerita-cerita tersebut.

Tradisi menulis di Nusantara menurut Maman S. Mahayana dimulai oleh Raja Ali Haji dan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi. Di jaman itu, kapujanggan citranya sebagai profesi masih baik di mata masyarakat. Salah satunya dilakoni oleh Mohammad Bakir yang kerjanya menulis dan menyalin cerita di sebuah batu. Lalu disewakan dengan cara menawarkan dari rumah ke rumah. Setelah runtuhnya kerajaaan, hal itu diteruskan oleh Belanda dengan meminta orang pribumi untuk menuliskan cerita yang pernah didengarnya. Hal itu membuat pengarang memiliki posisi seperti ambtenaar (pegawai pemerintah).

Masa kolonial Belanda, banyak para sastrawan Indonesia menempuh pendidikan Belanda. Hal itu yang menghasilkan citra di masyarakat bahwa seorang pengarang harusnya berpendidikan dan berpengetahuan luas. Akan tetapi, perbedaannya para pengarang sudah tidak lagi menuliskan cerita rakyat, mulai menuliskan kondisi jamannya. Hal itu akhirnya yang memunculkan identitas baru. Perkembangan kesusastraan Indonesia semakin berkembang pesat sejak lahirnya Komisi Bacaan Rakyat 1908 dan pada tahun 1917 berganti menjadi Balai Pustaka. Sejak itu pulalah, mulai berdiri penerbit-penerbit swasta. Dalam hal inilah yang membentuk peranan penerbit penting dalam kesusastraan Indonesia, selain penulis dan pembaca hingga saat ini. 

Namun saat ini, posisi sastrawan di masyarakat sudah mulai bergeser. Seorang yang berprofesi sastrawan atau seniman dianggap sebagai seorang yang tidak memiliki masa depan. Hal itu mungkin karena banyak yang memandang posisi sastrawan atau seniman itu enak. Banyak orang berbondong-bondong berniat menjadi sastrawan atau seniman, namun tidak diimbangi dengan intelektual, pengetahuan, dan kemampuan. Sesuatu yang diandalkan hanya eksentrik dan urakan, seperti sikap Chairil Anwar tanpa meniru intelektual dan kemampuannya. Sikap itu akhirnya membuat masyarakat menjadi antipati. Akan tetapi, seseorang yang masih terus mengembangkan intelektual, pengetahuan, dan kemampuan masih tetap bersaing. Menyebut di antaranya Pramoedya Ananta Toer, W. S. Rendra, Putu Wijaya, Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Nano Riantiarno, Yusri Fajar, Djamal D. Rahman, M. Aan Mansur, Afrizal Malna, M. H. Ainun Najib, dan sederet nama lain yang masih kerap diundang ke mancanegara.

Namun sebelum memasuki era modern, banyak sastrawan Indonesia yang terpaksa berdiam di penjara karena ideologinya karena menentang ideologi pemerintah. Hal itu pernah dirasakan oleh Muchtar Lubis, Pramoedya Ananta Toer, W. S. Rendra, Utuy Tatang Sontani, dan beberapa nama lain. Juga harus terpaksa kehilangan identitas kenegaraan seperti Sobron Aidit dan Agam Wispi. Tentunya, masih banyak sederet nama lain yang memiliki tantangan hidup yang berat dalam karier kepenulisan mereka.

Perjalanan Sastra Indonesia

Tentu dari cuplikan kronologis tersebut bisa ditarik benang merah bahwa kesusastraan Indonesia terbentuk dari beberapa elemen yang saling mendukung. Hal itu yang tentunya bisa membuat kesusastraan sejak jaman kerajaan hingga jaman digital sekarang ini tetap bertahan. Atmosfir tersebut yang terus bekerja yaitu teks (dalam hal ini karya sastra itu sendiri), pengarang, penerbit, pembaca, dan kritikus. Elemen terakhir mungkin dalam tulisan ini tidak disinggung secara jelas.

Namun peranan itu, bisa kita lihat dari fenomena kesusastraan seperti kepenyairan Chairil Anwar, Marah Rusli melalui Sitti Nurbaya, Achdiat Karta Mihardja melakui Atheis, dan fenomena-fenomena yang hingga kini menjadi catatan kesusastraan Indonesia. Tentunya, bila ditarik simpulan seorang pengarang yang kuat (baca: mengasah intelektual, pengetahuan, dan kemampuannya) yang akan bertahan. Hal itu tentu senada dengan Darwin dalam teori Evolusinya. Tidak hanya sekadar yang bisa berpenampilan nyentrik dan urakan, tetapi yang tetap mengembangkan potensi sesuai perkembangan jaman.***
*tulisan ini digunakan sebagai pemantik dalam acara Talkshow&Sharring Literasi: “Literasi dan Sejarah Kesusastraan Indonesia” bersama Soesilo Toer, Ph.D., M. Sc. (adik Pramoedya Ananta Toer, sastrawan angkatan 66) dan Syaiful Ramadhani, S. Sos., M. I.Kom. (Dosen Ilmu Komunikasi, Fisip, Unim). Acara ini diselenggarakan oleh Lapak Baca dengan tajuk MOCOFEST di Angkringan Jalan Raya Jabon, Mojokerto, Minggu, 18 Pebruari 2018. 

Hizib Bunga Rampai Puisi

Oleh: Akhmad Fatoni*

 

Menulislah agar engkau tidak dilupakan sejarah.

—Pramoedya Ananta Toer—

 

Menulis adalah cara paling ampuh mengatasi lupa. Maka dari itulah, kenapa dalam tulisan ini saya mengutip pernyataan Pram tersebut. Tentu pengutipan itu bukan serta-merta tidak beralasan, melainkan memang ada alasan yang selanjutnya akan diulas dalam tulisan ini. Lepas daripada itu, setiap orang tentu memiliki kadar mengingat yang berbeda. Semakin banyak yang diketahui, tentu semakin banyak yang dilupa. Ingatan, sama halnya dengan headline di sebuah koran, bila beberapa hari apa yang diangkat dalam koran itu tentang hal yang sama, itu-itu saja. Tentu secara tidak sadar, koran telah menghegemoni masyarakat untuk mengamini dan ikut membicarakannya. Entah di sela-sela pekerjaan, memasak, mengantar anak, atau bahkan saat ngobrol santai di warung kopi. Begitu juga dengan ingatan, bila ia sering dicakapkan (seperti koran yang terus memuat topik yang sama beberapa hari) maka kita akan begitu hapal, bahkan hingga detail-detailnya. Tentu hal itu juga berlaku pada seorang guru, dosen, atau ahli tertentu. Mereka (nampak) pandai di bidangnya karena memang terus mengulang-ulangnya, bahkan membuatnya hapal.

 

Catatan Proses Kreatif

Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bahwa tulisan ini yakni sebagai sebuah jalan untuk mengatasi lupa. Tentu sangat tidak mungkin saya mampu merekam semua kejadian dalam tempurung kepala ini tanpa terserang virus lupa. Tulisan ini (mungkin) hanya sebagai catatan proses kreatif. Proses tentang apa yang telah saya lakoni selama hampir tujuh tahun ini, di mana salah satu impian itu saya tuang dalam sebuah wadah, yakni Komunitas Arek Japan (KAJ).

Mengingat 7 tahun lalu (2007), saya masih berproses di Surabaya. Akan tetapi dalam pikiran saya muncul bahwa suatu ketika pasti “kembali pulang”. Lah, sampai pada tahapan itulah akhirnya saya membentuk KAJ. Nama KAJ sendiri diberikan oleh Hendricus Supriyanto (yang saat ini menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Malang) ketika saya ngobrol santai dengannya perihal penciptaan wadah tersebut. Keinginan itu tentu tidak segera saya realisasikan, tetapi saya meluruk ke Mojokerto dan menengok sesiapa yang lelaku sasra di kota ini. Proses pencarian itu akhirnya membawa saya bertemu dengan Fahrudin Nasrulloh (alm), Dadang Ari Murtono, Saiful Bakri, Jr. Dasamuka, Abdul Malik, dan juga Kiki Efendi dalam sebuah forum bedah buku karya M. Aan Mansyur (Penyair Makasar) dan Faishal Komandobat (Yogyakarta), yang kala itu kedua penyair tersebut diantarkan oleh Halim HD. Akan tetapi, proses pertemuan itu bukan sebagai wujud dari realisasi impian saya, melainkan wujud gesekan dengan orang-orang di sekitar tempat tinggal saya (Mojokerto), yang sudah lama saya tinggal hijarah ke ibukota.

Titik itu akhirnya terhenti ketika saya merasa cukup untuk melakukan rekuperasi area, hingga pada 12 Oktober 2007 KAJ benar-benar saya kukuhkan dengan beberapa kawan di sebuah warung kopi. Akan tetapi, tiada satu pun nama-nama yang saya sebut di atas masuk dalam wadah ini. Saya membentuk KAJ dengan orang-orang di sekitar Mojosari, tentu sebagai pertimbangan jarak. Selain itu, mereka adalah orang-orang yang kerap ngopi bersama dengan saya. Tentunya perjalanan KAJ tidak mulus, dari 15 orang yang mengikuti pengukuhan tersebut, akhirnya protol semua dan saya gagal menyebarkan virus menulis pada mereka. Namun saya tidak mau wadah ini mati, sehingga aktivitas itu hanya saya genjarkan melalui blog. Baru pada tahun 2009, Jr. Dasamuka dan Dadang Ari Murtono, kembali menuruntanahkan KAJ dengan melakukan diskusi di Taman Lalu Lintas Mojosari. Akan tetapi karena kendala jarak yang jauh, akhirnya aktivitas itu kembali terhempas. Dan sekali lagi, saya hanya berjuang sendiri.

KAJ mulai menemukan geliat kembali yakni tahun 2010, ketika itu saya bertemu dengan Indra Cahya L. Aktivitas ini berjalan terus, sampai akhirnya Bagus Sambudi dan Nasrulloh Habibi turut bergabung. Dan tahun 2014 ini, KAJ seolah telah benar-benar menjadi wadah kepenulisan di Mojokerto, khususnya di areal Timur. Kini sudah 23 orang yang telah tercatat sebagai awak KAJ. Sungguh, itu sebuah jumlah yang sedari dulu tidak pernah saya bayangkan. Tentu hal itu juga membuat saya berpikir untuk mencarikan sebuah sanggar (sekretariatan khusus). Kegelisahan itu pun saya rapatkan bersama seluruh awak KAJ, hingga keputusan mencari tempat itu direalisasikan. Dan direncanakan pada Agustus ini akan diresmikan.

 

Hizip Buku Puisi

Tentunya impian saya tentang KAJ yakni seluruh awak bisa bergerak dan masuk dunia literasi Indonesia. Berkaitan dengan itu, dalam proses KAJ selalu ada bedah karya dan pemberian referensi baik berupa pustaka maupun lapangan, agar impian itu bisa mendekati kenyataan, kemudian sebagai tes potensi maka karyanya dikirimkan ke media.

Berbicara perihal impian, tentu erat kaitannya dengan doa. Sebab dalam doalah impian itu berusaha menaikkan derajat, seperti halnya buku Doa Bersama yang diterbitkan Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) Juni, 2014. Buku tersebut diluncurkan pada 17 Juli 2014 kemarin dan Disporabudpar selaku tuan rumah (selain DKKM) mengundang seluruh penyair yang puisinya terangkum dalam buku tersebut. Mashuri dalam epilognya pada buku tersebut mengatakan bahwa para penyair dalam buku Doa Bersama berhizib bersama. Ia pun tak segan mengatakan bahwa penyebar agama Islam di Jawa adalah ahli syair (tentu ini membesarkan hati para penyair). Sedangkan bagi saya (selain saya setuju dengan pendapat Mashuri), buku puisi Berdoa Bersama juga merupakan hizib bagi awak KAJ menuju dunia literasi Indonesia. Mengapa? Sebab dalam buku tersebut juga memuat puisi 8 awak KAJ. Tentunya hal itu akan menjadi cacatan sejarah dan (semoga) sebagai pijakan awal awak KAJ menuju dunia literatur Indonesia. Amin. ***

 

 

*Akhmad Fatoni, penyair dan penggiat KAJ.

Tasyakuran Gerhana Rembulan

Tasyakuran Gerhana Rembulan
Acara tasyakuran gerhana yang diselenggarakan di rumah.

Salah satu kearifan lokal yang masih tetap ada di Jawa, khususnya Mojokerto tempat tinggal saya, yaitu bancaan grahono (Kenduri Gerhana). Bancaan ini menjadi semacam ritual yang harus dilakukan bagi ibu hamil.

 
Konon ritual ini dilakukan agar si jabang bayi tidak dimakan buto. Kepercayaan ini, memang lambat laun mulai berkurang karena gencarnya teknologi. Hal itu membuat ibu-ibu hamil jaman now sudah ada yang meninggalkan ritual ini. 
Lantas apakah si jabang bayi dimakan buto ketika ibu hamil jaman now  tidak menggelar bancaan? Ada yang hilang ketika si jabang bayi berusia tujuh bulan. Ada pula yang lahir dengan selamat, namun cacat fisik. Jika hal itu sudah terjadi, para tetua atau tetangga akan mengatakan, “salah e dewe, onok graono nggak gelem bancaan.” (salahnya sendiri, ada gerhana tidak mau mengadakan kenduri.

Tidak hanya ritual itu, di tempat saya juga digelar salat sunnah Khusuf (gerhana). Sebab memang masyarat di tempat tinggal saya mayoritas beragama Islam.Apapun caranya, semoga saja jabang bayi di kandungan istri saya dan juga ibu-ibu yang sedang menggandung, kelak lahir dengan selamat. Dan menjadi anak soleh (jika lelaki), solehah (jika perempuan).

 
Menariknya, di kampung saya banyak sekali ibu hamil. Bahkan setelah bancaan di rumah, saya berpindah ke depan rumah. Menurut kabar, ada lebih dari enam orang yang menggelar bancaan. Apakah di daerahmu, juga ada ritual semacam ini?

9 Cara Menjaga Cinta 

Cinta itu Dipraktekin
Sampul Depan: Cinta itu Dipraktekin

Identifikasi Buku

Judul: CINTA ITU “DIPRAKTEKIN”

Penulis: Tim Wesfix

Tahun: 2014

Kota: Jakarta

Penerbit: Grasindo

Cinta adalah satu tema yang tidak akan habis ditelan masa. Cinta dari waktu ke waktu selalu menjadi perbincangan. Tidak akan basi sebuah tulisan tentang cinta. Itulah salah satu alasan Tim Wesfix menulis buku tersebut. 
Tentunya tidak hanya Tim Wesfix saja, banyak tim-tim lain yang juga menuliskannya. Perseorangan pun juga ada. Dan buku-buku tentang cinta akan terus diproduksi-cetak.

Seputar Penulis

Seperti yang telah disinggung di awal, buku ini ditulis oleh Tim Wesfix. Siapakah yang dimaksud? Tim Wesfix adalah sekelompok orang yang telah menekuni bidang penulisan. Mereka telah memproklamirkan diri untuk membagikan ilmu. Jalan yang mereka pilih yaitu dengan menulis buku. 

Tim Wesfix dalam mengemas buku mereka selalu dengan sederhana, sehingga enak dibaca. Tidak hanya itu, mereka pun secara ideologi sudah menentukan arah. Pilihan mereka adalah seputar humaniora dan kreativitas. Mereka pun tidak menutup diri, bagi yang mau memberi saran atau konsultasi bisa menghubungi via wesfixity@gmail.com. 

Cinta Versi Tim Wesfix

Buku Cinta itu “Dipraktekin”  yang ditulis oleh Tim Wesfix ini dikemas dalam bentuk nonfiksi. Namun jangan khawatir, membaca buku ini tidak perlu mengeryitkan dahi. Sebab renyah, seperti Kacang Garuda. 

Cinta oleh Tim Wesfix (selanjutnya disebut TW) ini disinggung menjadi sembilan bagian. Bagian-bagian itu di antaranya, Cinta Butuh Dimengerti, Mencintai Wanita Anda, Mencintai Pria Anda, Cinta Ada dalam Hal yang Rutin, Berikan Sesuatu yang Istimewa, Hal-hal yang Bukan Cinta, Saat Anda Ingin Menikah, Bangun dari Keterpurukan, dan Mencintai itu Tanpa Syarat. Pola pengemasan tiap bagian, yang terdapat  beberapa subbagian, selain sederhana juga ditulis tidak lebih dari dua halaman. 

Tiap bagian tidak berkelanjutan (tapi tetap berkaitan), sehingga bisa dibaca dengan meloncat-loncat. Misal bagian akhir, kemudian meloncat ke awal. Atau dari tengah lalu meloncat ke awal. Sah. Kamu bisa memilih bagian yang kamu suka terlebih dahulu. 

Tiap bagian, ada kutipan, itu membuat kamu mudah mengingat poin yang dibicarakan. Bahkan, referensi yang disinggung-ceritakan oleh TW mulai dari seseorang yang bukan siapa-siapa hingga orang-orang hebat dunia seperti, Charles Darwin, Paracelsus, Jean Paul Sartre, John Powell, John Gray, Nikki Giovanni, Andre Breton, Paulo Coelho, Pedro Calderon De La Barca, Dr. Seus, Goerge Elliot, Elizaberth Gilbert, Dalai Lama, Leo Buscaglia, Oscar Wilde, James Patterson, Tom Robbins, Erich Fromm, dan Wirgill. Jadi, meskipun dikemas sederhana, banyak bertebaran pemikiran dan kisah orang-orang hebat seperti yang telah disebutkan.

Jatuh Cinta dan Cara Merawatnya

Apakah kamu sedang jatuh cinta? Atau kamu sekarang sedang mengalami krisis cinta dengan pasanganmu? Tentunya, buku ini setidaknya bisa menjadi alternatif untuk solusi permasalahanmu itu. 

Seseorang yang jatuh cinta memang selalu melakukan sesuatu di luar nalar. Apa yang dilakukan itu, bagi orang yang tidak sedang jatuh cinta adalah sesuatu yang sia-sia. Makanya melarang seseorang untuk berbuat sesuatu terhadap orang yang dicintai atau yang dicintainya, itu pasti gagal. Sebab larangan itu tidak akan pernah digubris. Jika kamu pernah jatuh cinta, kamu pasti mengetahui detailnya.

Setidaknya dengan buku yang ditulis TW ini, kamu bisa mengetahui kondisimu. Apakah benar itu cinta? Jika memang kamu mulai tidak tenang karena perpapasan dengan doi. Tidak mungkin, doi itu sahabat terbaikku. Tidak ada yang tidak mungkin bagi cinta. 

Cinta ada dalam hal yang rutin. Bagaimana tetesan air bisa membuat batu menjadi cekung? Sebab, secara rutin, tetesan tersebut dengan setia menempa batu tersebut (Hal. 41).

Jadi, seperti yang dikatakan TW, dalam halaman 41 tersebut, cinta muncul dari rutinitas. Kalau menurut orang Jawa, trisno jalaran soko kulino. Cinta itu muncul karena kebiasaan. Tentunya, cinta bisa saja muncul dari perempuan dan laki yang sudah bertahun-tahun bersahabat. 

Atau, kamu sudah lama berpacaran dengan doi. Karena tempo itu hubungan menjadi biasa-biasa saja, bahkan hambar. Tidak seromantis kali pertama jadian. Lah, jika cintamu dalam tahap itu, berarti kamu sedang krisis cinta. Menurut TW, cintamu itu butuh nutrisi. TW menyarankan jika kamu dalam posisi itu harus secara rutin membuat kebiasaan yang sederhana namun bisa menyapa hati doi (hal. 41). 

Tidak hanya itu, bahkan ketika kamu sudah benar-benar yakin dengan pasanganmu dan memutuskan menikah, TW pun mengulasnya. Memberi saran untuk melakukan hal-hal pranikah yang sudah disepakati bersama. Namun pesan TW jika memang kamu sudah memastikan menikah ada tiga hal. Pertama, pastikan tidak ada unsur paksaan dari masing-masing pihak. Kedua, pastikan tahu tujuan hidupmu dengan pasanganmu. Ketiga, memperjelas tujuan pernikahan. 


Simpulan

Tentunya dengan ulasan-ulasan TW, kamu bisa melakukan varian-varian agar cintamu tetap romantis dan harmonis hingga pernikahan. Bahkan setelah pernikahan, cintamu tetap awet hingga aki-aki dan nini-nini. 

Di akhir buku pun, TW memberi daftar sikap dan perlakukan untuk tetap menjaga cintamu. Atau dalam hal lain agar kamu langsung praktik. Praktik menjaga cintamu. 

Tentunya, kamu mau cintamu tetap romantis dan harmonis bukan? Maka, berilah nutrisi dan dipraktekin.

Jangan Salahkan Orang Malas

Tentunya orang malas sangat-sangat menyebalkan. Namun orang malas itu jangan selalu disalahkan. Memang sih orang malas itu tidak memiliki ritme pekerja. Hal itu yang membuat pemalas akan banyak dicaci-maki. 

Namun sebelum mencaci, coba tanyakan pada diri dan hatimu yang terdalam. Tanyakan apakah kamu tidak pernah terjangkit penyakit malas. Jika tidak pernah, maka silakan mencaci dan memaki sepuasmu. 

Kalau saya yang bertanya, tentunya kepada diri saya sendiri, pasti saya urung mencaci, apalagi memaki orang yang (sedang) malas. Sebab saat ini (ya, sekarang ini, pas menulis tulisan yang kamu baca ini), saya sedang malas akut. Rasanya tidak ingin melakukan apa pun. 

Dan karena malas pulalah akhirnya saya menulis tulisan ini. Ya bisa dikatakan sebagai pembela. Bisa juga dikatakan sebagai refleksi. Juga bisa dikatakan sebagai rekreatif.

Maka dari itu, biarkan saja jika seseorang sedang malas. Jangan memaki, mencaci, atau menyuruh orang yang sedang malas. Akan terjadi kobaran yang tidak membuat orang sedang malas bergerak, tetapi malah melakukan hal sebaliknya. 

Jadi, ketika malas. Nikmati. Tentunya jika penyakit malas itu sembuh, orang tersebut akan melakukan sesuatu. Tidak akan diam selamanya (atau malas). Memang tiap orang memiliki kadar malas berbeda-beda. 

Jadi, bagi kamu yang ingin berhadapan dengan orang malas bisa melakukan dua hal. Pertama, melakukan hal yang berlawanan dengan orang malas itu di depannya. Kedua, tunggulah orang malas tersebut, jika bisa cara menunggunya lebih menunjukkan kemalasan yang berlipat-lipat. 

Apakah itu ampuh? Silakan dicoba. Saya sudah mencobanya. Dan hasilnya, tentu saja menarik. Tidak percaya? Baiklah, daripada berdebat, lebih baik kamu mencobanya sekarang juga. 

Mengkritisi atau Mengritisi

Dua kata tersebut sering kita lihat dan baca. Keduanya memiliki maksud yang sama, namun manakah penulisan yang benar? Oke, mari kita singgung.

Sebelum berbicara yang benar. Maka kita cakapkan rumusnya terlebih dahulu. Bahasa Indonesia ada rumusnya? Rumusnya KTSP. Apa itu rumus KTSP? 

Rumus KTSP adalah rumus jika ada huruf konsonan K, T, S, dan P bertemu dengan awalan me-, maka keempat huruf tersebut harus dilesapkan (dihilangkan). Sebagai ilustrasi, maka kita tentukan dulu kata yang berawalan keempat konsonan tersebut. 

Kita tentukan tiap huruf, satu kata. Misal, kunci untuk K, sapu untuk S, tata untuk T, dan pakai untuk P. Keempat kata tersebut jika diberi imbuhan me-, jika rumus diterapkan maka penulisannya menjadi: mengunci, menyapu, menata, dan memakai. 

Biar lebih jelas, akan saya terapkan lebih terperinci. Bisa disimak berikut:

Kunci+(me-)+nasal= mengunci

Sapu+(me-)+nasal= menyapu

Tata+(me-)+nasal= menata

Pakai+(me-)+nasal= memakai

Bunyi nasal, juga ada rumusnya:

Me- bertemu kata berawalan K bunyi nasalnya: ng

Me- bertemu kata berawalan T bunyi nasalnya: n

Me- bertemu kata berawalan S bunyi nasalnya: ny

Me- bertemu kata berawalan p bunyi nasalnya: m

Jika dirangkai secara berurutan, maka seperti ini:

(Me-)(ng)+kunci= meng(k)unci

(Me-)(ny)+sapu=meny(s)apu

(Me-)(n)+tata= men(t)ata

(Me-)(m)+pakai= mem(p)akai

Jadi penulisannya tidak mengkunci, menysapu, mentata, dan mempakai, tetapi mengunci, menyapu, menata, dan memakai. 

Hubungan dengan mengkritisi dan mengritisi di mana? Hubungannya sejauh ini baik-baik saja. Eit, tenang hanya bercanda, biar tidak terlalu serius. 

Begini, rumus KTSP itu tidak berlaku buat kata berawalan kluster. Apa itu kluster? Kluster itu konsonan ganda. Maksudnya bagaimana? Ya seperti kata kritik itu contohnya. Kata kritik, diawali dengan konsonan ganda k dan r. 

Berdasar ulasan tersebut, maka penulisan yang tepat untuk kritik berawalan (me-) seharusnya:

(Me-)+ng+kritik= mengkritik

Rumus KTSP tidak berlaku untuk kata kritik. Jadi, penulisannya harus mengkritik tidak mengritik. 

Jika sudah tahu rumus dan penerapannya rumus KTSP, tentunya mari menerapkan hukum itu dalam perilaku berbahasa kita. Mari berbahasa Indonesia yang baik. Kalau bukan kita, siapa lagi? 

Mengasah Potensi dengan 13 Pelatihan Gratis

UPT Pelatihan Kerja Mojokerto pada tahun 2018 membuka pelatihan gratis. Pelatihan yang diselenggarakan ini merupakan gelombang I. Program ini membuka pelatihan di antaranya:

  1. Adminitrasi Perkantoran
  2. Mekanik Junior Mobil
  3. Mekanik Junior Sepeda Motor
  4. Operator Basic Office
  5. Pengolahan Hasil Pertanian
  6. Operator Mesin Bubut
  7. Teknisi Refrigerasi Komersial
  8. Instalasi Tenaga
  9. Audio Video
  10. Bordir
  11. Furniture
  12. Menjahit
  13. Las Industri

Semua pelatihan itu tidak dikenakan biaya. Namun untuk mengikutinya harus melengkapi persyaratan sebagai berikut:

  1. Fotokopi Ijasah terakhir 2 lembar
  2. Fotokopi KTP, memanjang: atas-bawah 2 lembar
  3. Fotokopi KK 2 lembar
  4. Pas Foto 4×6 3 lembar (bebas rapi)

Semua perlengkapan tersebut dimasukkan ke dalam stopmap merah. Jika sudah lengkap, maka melakukan pendaftaran di Gedung Kios 3 in 1 UPT Pelatihan Kerja Mojokerto. 

Pendaftaran ditutup sewaktu-waktu, bila kuota sudah mencukupi. Peserta yang sudah mendaftar, pada 1 Pebruari 2018 akan dilakukan seleksi. Di saat tes maupun melakukan pendaftaran, diharapkan menggunakan baju berkerah dan bersepatu. 

Info lebih lanjut:

0321-323237

http://www.kios3in1.net

Pelatihan Gratis
Poster Pelatihan

Jika kamu ingin belajar ilmu baru, maka bisa mendaftar. Ayo sebelum ditutup. Saya sudah mendaftar hari ini. Saya ikut pelatihan Audio Video. Sampai ketemu tanggal 1 Pebruari mendatang.