Jatnika Lubna Maharatuha

Kamis, 7 Mei 2020, hari yang panjang dan cukup melelahkan. Selain dalam suasana Ramadan, hari itu juga suasana siaga (istri hamil tua) dan suasana super menjenuhkan karena harus memperbaiki berkas Jafa (Jabatan Fungsional). Jafa itu kelak sebagai status saya sebagai dosen. Saya baru sah disebut dosen bila sudah berjafa. Konsekuensi jabatan itu, diiringi dengan amanah memperbaiki diri dengan tunjangan sertifikasi sebesar 7,5 juta dibayar per dua bulan, untuk asisten ahli (tingkat 1, IIId).

Tentu itu hari cukup berat. Mengurus Jafa itu rasanya seperti mendadak gila. Apalagi itu adalah revisi, berarti saya sudah dibuat gila berkali-kali olehnya. Subhanallah.

Dibuat gila oleh cinta, bagiku itu puitis, tapi jika oleh Jafa, aih, seperti ada linggis yang menancap di otak ini. Ditancamkan, ditarik, ditancapkan, ditarik, ditancapkan, dan ditarik lagi. Sungguh, suwenut bukan? Begitulah, kiranya.

Namun hari itu ada puitisnya pula, yaitu di dalam rasa sakit yang bertubi-tubi itu ada kebahagiaan di dalamnya. Jatnika Lubna Maharatuha, lahir ke dunia ini dengan selamat. Semoga menjadi anak salehah.

Lubna lahir Kamis, 7 Mei 2020, bertepatan dengan hari pengumpulan revisi Jafa. Puitis dan melankolis. Saya pulang kerja, pas Magrib. Sebelumnya, sudah ada pesan masuk dari mertua, meminta agar saya membawa istri ke rumah sakit. Istri pula, mengirim pesan berkali-kali. Paling akhir, pesan menanyakan pulang jam berapa disertai kabar bahwa sudah keluar darah.

Magrib, waktu berbuka. Sampai di rumah. Istri menitikkan airmata. Sakit. “Iya, ‘tak buka puasa dan salat dulu. Sampean berbenah.”

Kita berbenah dua paket. Paket pertama, persiapan lahiran. Paket kedua, keperluan Abbad. Ya, Abbad akan dijemput mbahnya. Selama di rumah sakit dan mungkin sampai Selapan, masa nifas.

Mas Abbad, sebulan lagi, berusia dua tahun.

Tentunya di masa itu, saya menjadi lelaki tangguh. Harus bisa segala. Masak, mencuci, setrika, nyapu, ngepel bila mampu, mandiin bocah dan ibunya (kalau puasa, ampun deh, malah batal nanti, hahaha). Untungnya, Abbad dijemput Mbahnya, seandanya tidak, saya akan dipacu menjadi lelaki yang tidak bisa melawan remuk-redam. Di situlah, kadang saya merasa harus memberi penghargaan setinggi-tingginya buat istri, buat kaum hawa. Jadinya, diri ini menjelma lelaki yang berwajah garang tapi berhati penuh kasih sayang. Hahaha

Lengkap sudah. Anak pertama cowok, Jatnika Nail Abbad. Anak kedua cewek, Jatnika Lubna Maharatuha.

Habis buka, maka berangkatlah kami naik motor, dengan kecepatan dalam kehati-hatian, menuju rumah sakit Kartini, Jln. Airlangga Mojosari, Mojokerto, Jatim. Pelan, ada sedikit lubang saja, harus menghindar. Saya membonceng istri dengan penuh sebar, nggak karuan. Mbuh.

Sesampai rumah sakit, kami langsung menuju IGD. Istri langsung diperiksa, bukaan tiga, dan saya seperti lazimnya, melakukan registrasi. Tentunya menggunakan faskes yang rutin kami bayar tiap bulan. Semua penuh pakai faskes, bahkan Lubna pun langsung dapat diuruskan faskesnya. Dulu, ketika Abbad lahir, saya harus ke kantor BPJS dulu untuk aktivasi. Sekarang, serba online. Lebih mudah, lebih praktis.

Kemarin yang belum sempat didaftarkan online akta kelahiran si Lubna. Berkas KTP saksi belum dapat, soalnya di rumah sakit tidak boleh dijenguk. Ya sudahlah, nanti diurus sendiri.

Lengkap rasanya. Serdos keurus, meski tahap akhirnya nitip, soalnya Lubna sudah hadir di tengah-tengah kami. Saya harus siaga, merawat ibunya dan Lubna. Kerjaan yang terlewat di kampus, yaitu setor laporan UTS daring dan nilainya. Ya sudah, ijin akhirnya.

Pulangnya, pesan Grap. Istri masih belum bisa naik motor. Awalnya iseng, jika murah daripada panggil tetangga atau merepoti saudara (soalnya kalau diberi 50k, sungkan, jadinya 100k biasanya). Lah, kok ongkos Grap hanya 32K. Capcus deh. Hehehe.

Kembali (karena) Rindu

Biasanya sehabis Subuhan, aku langsung tidur. Pagi ini tidak, tadi tertarik lihat Podcast Deddy Corbuzier sama David Gadgetin. Kalian pernah menengoknya bukan?

Sejak tiga bulan terakhir, aku mencoba platform YouTube. Sebenarnya, aku sudah punya akun YouTube sejak tahun 2011. Namun aku tidak begitu tertarik dengan platform video tersebut. Pilihanku lebih ke blog ini. Menulis.

Ya, karena habis nonton Deddy, masih belum bisa langsung tertidur. Tiba-tiba pikiranku melayang ke platform ini, wordpress. Rasanya sudah lama aku tidak menengoknya. Aku langsung buka Crome, tapi lambat dan akhirnya aku pilih unduh versi mobile.

Setelah terpasang. Langsung masuk dan berselancar. Rasanya asing. Aplikasi ini menjadi hitam. Konon semua aplikasi sekarang menghitam agar ramah dengan mata. Aku tidak mengikuti, itu katanya istri.

Banyak medsos aku tinggal, tidak hanya WordPress saja. Satu-satunya yang masih terpasang di selulerku yaitu WhatsApp. Jika saja komunikasi tidak menggunakan platform itu, pasti sudah bernasib sama dengan yang lainnya. Namun baru tiga bulan terakhir baru kembali bermedsos. Anehnya pilihan yang paling sering yaitu YouTube.

Awalnya aku hanya menonton sampai akhirnya aku sesekali berbagi dengan membuat video. Tepat Pebruari lalu, aku mulai rutin. Aku sampai punya tiga kanal YouTube.

Kok banyak? Alasannya biar fokus saja. Hanya akunku yang lama, akhmad fatoni (pakai huruf kecil semua) yang senada dengan platform ini, yaitu menampung semuanya. Tidak ada spesifikasi. Baru dua kanal lainnya mulai spesifik. Kanal Menulis Kreatif, aku isi konten seputar dunia menulis. Mulai berisi tips hingga audiobook. Kanal satunya, Dosen Nyentrik, sudah bisa menduga bukan itu untuk apa? Ya, itu berisi semua hal tentang aktivitas menjadi dosen.

Ya, silakan langsung saja ke YouTube kalau mau ngepoin. Tulisan ini aku tidak mau menyinggung lebih. Apalagi pakai memberi tautan menuju ke sana. Aku kembali ke sini, terlebih karena rindu. Ya, seperti judul tulisan ini.

Ternyata sudah 10 bulan, sejak Juni 2019 lalu aku tidak menulis. Menulis di blog ini. Waw, lama sekali. Ah, apa kabar semuanya? Apa kabar teman-teman pemalu? Btw, adakah yang merindukanku? Rindu tulisanku di sini?

Aku juga rindu Abbad, kemarin dijemput Pak Po-nya. Nampaknya akan lama di rumah mbahnya, sampai si calon adiknya lahir. Oh iya, si Abbad mau punya adik. HPL-nya 16 Mei 2020. Mohon doanya ya, biar lahiran lancar.