Beberapa Ketakutan Saat Berbincang Tentang Hati

image

Tentu bila berbicara soal hati, kita sulit menebaknya. Hal itu seperti kata dasarnya “qolb”, dari bahasa Arab, yang artinya berubah-ubah. Tentu kita tidak bisa menjamin seratus persen hati kita akan pada posisi yang sama lima tahun mendatang. Ya, maka dari itulah waspadahal bila berucap tentang sesuatu, terkhusus bila hendak mengucap janji.

Begitulah, muasal kenapa saya menulis catatan ini. Beberapa jam sebelum menulis celoteh ini, saya berbicara panjang lebar melalui telpon dengan perempuan beralis tebal yang mampu mencuri hati ini. Seperti biasa, percakapan dimulai dari hal-hal basi, hingga hal-hal yang lucu. Ya, sebab saya selalu gagal bila menjadi sosok yang lucu. Saya terlalu serius. Entahlah.

Sampai akhirnya, perbincangan pada titik paling serius. Ya, dia yang biasanya tidak banyak berbicara, malam ini menjadi banyak bicara. Aih, berarti saya suka. Itu semacam tanda yang dapat saya kumpulkan untuk menambah rating perjuangan diri ini untuk mendapatkan hatinya. Jangan bertanya-tanya perihal rating itu di sini, sebab saya tidak mau menyinggungnya. Jika suatu ketika terpaksa harus bercerita, maka di tulisan yang lain.

Usut punya usut, saya tetap akan berjalan menuju hatinya. Selebihnya soal hati, biar Tuhan yang Maha membolak-balikkan hati yang akan menjadikannya serasi. Akan tetapi, bukan berarti saya tidak berusaha. Justru sebaliknya, saya mulai menata strategi untuk bermukim di hatinya dan juga strategi untuk menjadi lebih realis dengan mendapatkan passif ataupun aktif income.

Perempuan beralis tebal itu, kini telah memberi rambu-rambu. Saya berani menyebrang atau membiarkan lampu itu berubah menjadi merah lagi. Ya, sebab dulu pernah ia bercerita bahwa “Pada masanya nanti, semua akan berbalik, saya yang biasanya banyak mendengar akan lebih banyak berbicara.” Itulah kuncinya.

Namun di kala pintu itu perlahan membuka, langkah ini meragu. Apakah benar kaki ini harus melangkah? Ya, tentu setiap orang pernah merasakan keraguan itu. Itulah yang saya bincangkan antara saya dan perempuan beralis tebal itu. Namun Tuhan tidak pernah menyukai orang yang meragu. Jadi, mari kita hapus ketakutan itu, sembari berkata “mulai detik ini, saya akan meyakinkanmu. Dan mohon maaf, sudah cukup sampai di sini ya, besok kamu harus bekerja.” Sebab hari hampir pagi, tatkala matahari muncul ia pun harus bergerak. Beda dengan saya yang bisa memilih tidur dan beraktivitas tatkala terik begitu menyengat kulit. Aktivitas.

image

Poin itu sebenarnya menjadi ketakutan diri ini, sebab adakah seorang perempuan yang mau dengan lelaki tidak bekerja (sebab penulis masih belum memiliki kedudukan di mata umum). Jika ada, hanya satu persen bukan? Aih, tatkala diri ini goyah. Ia meyakinkan dengan tegas bahwa pilihannya tidak pada titik itu, tetapi pada hati. Jika hati sudah yakin, maka terpilihlah. Dus, rasanya diri ini meletus. Jiwa seperti terkoyak, tidak banyak perempuan yang berucap semacam itu di era yang serba mahal tatkala presiden menarikkan BBM berkali-kali. Tentu, salah satu akibatnya pun akan semakin meningkat jumlah jomblo di negara ini. Jadi, jangan salahkan para jomblo. Semua itu berantai, hingga bertemu pada titik (sekali lagi) paling menyedihkan. Maka dari itu, Pak Presiden harus memperhitungkan meningkatnya
para jomblo. Jika banyak jomblo, berarti perekonomian tidak sehat. Ekonomi tidak sehat, bisa meningkatkan kriminalitas. Eit, tapi jangan menganggap para jomblo jadi nekad. Sebagai contoh lihat saja angka kriminalitas makin membabi buta disuarakan di televisi ataupun surat kabar pagi. Mereka bukan para jomblo ‘kan?

Jika sudah seperti itu, apa fungsi sebuah lembaga yang disebut sekolah? Bila mental dan akal budi mulai menipis. Namun jika kondisi itu sangat sulit diperbaiki, bagai mencari jarum di tumpukan jerami, sama halnya keinginan memberantas korupsi di negara ini. Lah, jika sudah seperti itu, maka saya menyarankan berbanyaklah membaca puisi, untuk kembali mengasah nurani. Juga seperti yang diungkapkan John F Kennedy, “bila politik bengkok, maka puisi yang meluruskan”. Semoga saja, Pak Presiden memikirkan itu, seperti saya yang tak pernah berhenti memikirkan perempuan beralis tebal itu.***

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s