93 Hari Menuju Impian

image

Cintaku Pada Perempuan Beralis Tebal itu, berharap menuju sebuah pelaminan. Lalu kita saling mengisi hari-hari bersama, mengingatkan bila salah, dan juga membesarkan anak-anak dengan penuh cinta, sehingga menjadi anak yang soleh-solihah. (Ilustrasi Karya Dewi Nur Aprilia)

Beberapa hari yang lalu, hati saya tiba-tiba sangat tidak enak. Bila seperti itu, pasti sedang ada sesuatu yang terjadi. Namun saya masih tidak pernah bisa membaca tanda itu. Orang terdekat. Ibu dan perempuan beralis tebal itu, sebab ia akhir-akhir ini sudah mulai mengisi hari-hari saya dengan bunga-bunga. Bunga yang bermekaran dalam jiwa.

Lalu saya mengirim pesan pada perempuan beralis tebal.Memastikan kabarnya. Alhamdulillah ia baik-baik saja. Kemungkinan kedua, ibu. Segera kutelpon. Aih, ibu sakit. Saya segera bergegas pulang. Ibu bercerita tentang sakitnya. Setelah itu, seperti biasanya, saya terapi ibu. Memancarkan energi alam ke dalam tubuhnya yang sakit. Auranya begitu panas. Perlahan-lahan aliran energi merasuk dalam tubuh ibu. Mulai mereda. Namun aura panas tersebut berpindah masuk dalam tubuh saya. Perut terasa mual. Terapi saya sudahi, lalu berpamitan ke kamar kecil.

Plong.
Ibu memasak lagi. Membuat bothokan. Ya, rutin seperti itu. Esoknya, bapak menjualnya pas keliling jualan tempe. Ya, bapak seorang penjual tempe.

Sebelum pulang, saya sempat mengirim pesan pada perempuan beralis tebal itu bahwa nanti akan menelpon. Telpon. Percakapan tentang hal-hal tidak penting terjadi hingga pukul 23.00 wib. Selebihnya, percakapan beralih pada hal yang serius, antara saya dan dia.

Ia memang sudah tahu kalau saya jatuh hati kepadanya. Ya, memang tidak sama seperti pada umumnya. PDKT, baru setelah itu mengungkapkan perasaan. Yah, saya beda. Perasaan ini timbul karena ia memiliki kesamaan dengan saya, selain alis tebalnya, yakni menulis. Tentu, tanpa waktu lama ia bisa memikat hati ini. Pada pertemuan kelima. Kala itu melalui telpon, saya menyatakan ketertarikan saya padanya. Makanya, pada poin serius yang terjadi sekitar 23.30 WIB, saya menegaskan apakah ia siap membuka hati? Jika siap, maka saya meminta waktu tiga bulan. Jika dalam tiga bulan ia mulai bisa merasakan sesuatu, maka kita mengatur jalan-jalan yang ditempuh. Tentu harapannya, menikah.

Saya sudah tidak ingin main-main lagi. Membuang waktu. “Sampean berhak menerima itu.” ucapnya pelan dan penuh kehati-hatian. Bles. Rasanya hati ini seperti disiram air es. Namun tidak benar-benar menentramkan. Baru awal. Ya, tiga bulan saya harus berjuang. Memperjuangkannya. Berharap menyatukan hati yang berbeda. Juga dua keluarga yang berbeda. Sejak kedekatan saya dengan perempuan beralis tebal itu, saya sudah mulai bercerita pada ibu. Ya, saya langsung bilang mau mengajaknya menikah. Nanti, jika ia sudah bisa menerima saya.

Tiga bulan, terhitung sejak 12 Juni-12 September 2015. 93 hari. Ya, itulah perjuangan yang harus saya tempuh untuk singgah di hatinya. Semoga.

*
Selain ia memiliki mata yang indah, saya juga suka melihat senyum simpul yang malu-malu. Tentu tidak hanya itu, hal terbesar yakni ia suka dengan dunia saya, menulis. Tentu dengan begitu, ia pasti bisa menghargai pilihan saya atas menulis.

Sabtu lalu (13/6), saya membaca cerpennya. Memukau. Ya, benar-benar memukau. Sungguh, ini benar-benar penilaian objektif. Saya bicara seperti itu bukan karena saya jatuh hati padanya, melainkan karena ceritanya memang menawan, sudah memiliki roh. Saya yakin, lima tahun ke depan, jika ia memperbanyak membaca dan giat menulis. Ia akan masuk pada jajaran penulis perempuan muda yang patut dibaca karya-karyanya. Tidak hanya itu, ulasannya pun menarik. Ya, beberapa menit sebelum menulis catatan ini, saya membaca catarannya di status facebook. Tertanggal 7 Juni 2015.

Catatan singkat di statusnya sudah cukup membuat saya memberi penilaian bahwa jika ia menulis esai, tulisannya pasti bagus. Statusnya itu menulis tentang kerinduan pada rekan-rekan kerjanya waktu di Surabaya. Menarik. Sebuah catatan kerinduan yang memukau.

Saya akhirnya benar-benar yakin untuk meminangnya. Ya Allah, mudahkan hamba. Jangan Engkau persulit, jika memang ia jodoh hamba, walaupun siang tadi saya sempat pesimis karena ucapan yang ia lontarkan waktu menelponnya, “jangan GR, siapa yang akan cemburu sama sampean.” ucapnya dengan sedikit jutek. Ya, saya masih bisa mendengar dengan baik cara bertuturnya, walaupun hanya via telepon. Dus. Yah, rasanya seperti pintu hatinya ditutup rapat-rapat. Semangat memperjuangkannya runtuh. Namun akhirnya, semua itu bisa tertepis. Masih 91 hari lagi. Ya, saya akan berusaha. Semoga hari itu akan memberi jawaban yang indah, 12 September, sehingga kita bisa singgah di altar yang sama. Altar yang dipenuhi puisi dan cerita-cerita, juga keluarga kecil yang (semoga) mawaddah warohmah.***

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

2 thoughts on “93 Hari Menuju Impian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s