Selamat Datang Ramadan 1436 Hijriyah

Senja adalah petanda hari mulai berganti. Senja hari ini (Rabu, 17 Juni 2015) adalah senja menyambut datangnya Ramadan 1436 Hijriyah)
Senja adalah petanda hari mulai berganti. Senja hari ini (Rabu, 17 Juni 2015) adalah senja menyambut datangnya Ramadan 1436 Hijriyah.

Besok, Kamis, 18 Juni 2015, adalah hari pertama berpuasa. Ya, tidak terasa Ramadan kembali datang dan alhamdulillah kita masih diberi umur panjang sehingga masih bisa menyampul bulan suci di tahun ini. Tentu nuasa bulan suci ini sudah mulai terasa. Beberapa hari yang lalu, tatkala saya bekerja (jangan membayangkan pekerjaan saya adalah pekerjaan yang meminta waktu dan seragam khusus) di jalan-jalan rasanya sudah terasa aura Ramadan. Sungguh tidak sama dengan biasayanya. Entahlah. Padahal tahun lalu, aura ini tidak bisa saya rasakan. Wajar sudah mulai banyak orang yang tidak berpuasa dan mereka tidak malu menunjukkan di depan umum (terkhusus yang beragama Islam, di daerah saya mayoritas agama Islam tetapi sudah banyak yang tidak berpuasa). Miris rasanya.

Namun kali ini saya merasakan hal yang lain. Rasanya jalan, pohon, dan juga bangunan yang saya lewati memancarkan aura menyambut Ramadan. Tentu ini sebuah momen yang sungguh puitis. Tatkala saya menulis ini, suara-suara adan menggema. Aih, rasanya benar-benar tentram. Namun ada hal yang aneh terjadi dalam diri saya. Hal itu yakni sudah dua hari ini rasanya saya terus mengantuk. Memang jam tidur saya dalam dua hari ini kurang teratur dan juga tidak mendapatkan porsi yang semestinya.

Namun saya mengabaikan hal itu. Saya terus bekerja. Melatih teater, mencari properti pementasan, mendapangi rapat (aih, kok seperti orang penting saja diri ini pakai acara rapat segala). Entahlah. Jika memang diri ini dianggap penting orang, saya sungguh merasa bahagia. Manusia yang bermanfaat adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya bukan?

Lain dari itu, malam menjelang Ramadan ini juga terhitung sebagai hari ke-5 dari 93 hari menuju impian. Jika diperbolehkan mengajukan sebuah permintaan, maka ingin rasanya di bulan ini nanti bisa berbuka bersama dengan perempuan beralis tebal itu. Tentu jika hal itu terkabul, pasti menjadi momen paling puitis. Sembari berbuka, kita akan mencakapkan tentang puasa yang telah kita jalani, juga mencakapkan hal-hal lucu (sadar atau tidak, di dalam kehidupan kita selalu ada yang lucu), dan jika memungkinkan maka juga ingin bercakap soal hati.

Ya, selain itu semua tentu rasanya saya bisa membagi waktu untuk salat tarawih dan tadarus (bukan tadarus puisi, sebab Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto nanti tanggal 27 Juni menggelar tadarus puisi di gedung kesenian disporabudpar). Sebab biasanya saya selalu luput dari dua hal besar tersebut. Semoga saja di tahun ini, saya bisa genap menjalankan salat Tarawih dan bisa khatam Quran.

Selebihnya, saya hanya ingin menyertakan dalam puisi pendek, sektet, puisi yang hanya terdiri dari enam baris untuk menutup tulisan ini. Puisi untuk menyambut Ramadan nan suci. Juga sebagai wujud kecintaan saya terhadap puisi.

Suara-suara Seribu Bulan

Suara-suara telah memanggil

Degup pun enggan mengatup demi merebut

seruan sayu menuju pintu-pintu rindu pada altarmu.

Altar yang dalam syairmu adalah tempat

paling indah dan memesona.

Memikat hati akan cinta mujadillah.

***

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s