Obrolan yang (Mungkin) Tidak Penting

image
Salah satu obrolan tidak penting yang (harus ditanggapi) serius, tetapi jangan terlalu ambisius ya…

Sejak memutuskan untuk istirahat agar stamina pulih, saya malah ditemani seorang manajer (begitulah ia menyebut dirinya saat kita ngobrol santai di warung Mbak Yah sambil berbuka puasa) bercakap melalui BBM. Ya, seperti biasa percakapan saya selalu melantur. Ngalor-ngidul. Makanya saya heran bila tiap kali dianggap atau dinilai orang bahwa diri ini terlalu serius. Padahal saya kerap kali berbicara hal-hal yang tidak penting. Nah, loh?

Pada mulanya, masih ucapan manajer itu, ia bergabung ke dalam kelompok kami, KAJ, karena ingin belajar berteater. Eh, kok setelah bergabung malah dirinya jadi terpengaruh dan terseret dalam aktivitas kepenulisan, bahkan didapuk menjadi manajer. Saya hanya tersenyum saja mendengar ia bercerita pada teman yang duduk di sebelahnya. Lalu, percapakan pun melantur dan tidak ada batasan harus melanturkan topik tertentu. Ya, itulah memang aktivitas kami setelah berteater, menari, melukis, atau menulis.

Kembali pada lanturan saya dengan manajer melalui BBM. Tentu sudah sangat banyak lanturan-lanturan yang kami luncurkan. Pada akhirnya sampailah pada poin, baca Quran dan baca puisi. Yah, pada poin itu, memang di KAJ selain saya donasikan beberapa buku juga satu buah al-Quran. Nah, beberapa hari yang lalu sesuai mengisi kelas. Saya benar-benar rindu dengan syair indah dalam Quran. Nah, saya bacalah itu kalamulllah. Saya tak peduli walau ada manajer dan juga Ate di sana. Jika mereka mengganggap saya riak atau apapun itu, saya tak peduli. Wong saya kadung rindu. Tatkala saya baru mulai tilawah, manajer berujar “Yo ngunu, ben KAJ dadi adem.” artinya, ya begitu dong, biar KAJ jadi adem hawanya. Sekali lagi, saya tidak menggubrisnya.

Sampai akhirnya, manajer dan Ate sudah tidak peduli dengan apa yang saya lakukan, tilawah. Mereka mulai bercakap. Dan saya mulai sedikit terobati rindu akan syair terindah itu. Lah, saat lanturan melalui BBM tadi tiba-tiba ia berujar kalau saya ngaji itu enak. Loh. Akhirnya lanturan fokus ke situ. Dan bertanyalah saya pada si manajer, “Enak mana kalau aku baca Quran sama baca Puisi?” Selanjutnya kamu sudah tahu bukan jawabannya? Yaps, benar seperti pada foto yang sudah saya screenshot di atas.

Ya alo pean baca puisi, rasa yang tersampaikan adalah rasa yang memang ingin diciptakan melalui puisi itu, bisa mellow, romantis, atau berapi2 tergantung puisinya…tapi alo pean baca Al-Qur’an, yang terasa hanya rasa teduh dan damai =-)

Saya benar-benar tidak menduga si manajer akan berpendapat seperti itu. Tentu pada poin ini, kamu boleh memutuskan berpendapat apa. Namun puisi adalah jalan yang sudah saya pilih, sedang Quran adalah syair terindah yang selalu menuntun langkah kaki saya. Makanya dalam salah sajak saya (sekaligus sebagai doa), Penyair di Jalan Tuhan. Ya, jika diperkenankan, maka saya meminta tercatat ketika Tuhan mencabut nyawa ini, tercatat sebagai seorang muslim (walau tidak taat) yang mendapat syafaat. Amin.

Jika kamu ingin tahu sajak saya yang berjudul Penyair di Jalan Tuhan itu, kamu bisa membacanya di buku puisi saya Lengan Lirang. Belum punya? Ya, silakan beli dan mengoleksi nanti akan saya beri bonus tandatangan. Hehehe….Tuh kan jadi tidak serius. Ya, memang kok, selalu saja tidak serius. Makanya saya kerap bingung tiap kali orang melabeli bahwa saya ini orang serius. Ups, jangan-jangan kamu yang terlalu serius menanggapi saya?***

Twiiter: @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s