Ketidakpuasan

Kebaikan dan keburukan selalu bersejajaran.

Terkadang saya itu jengkel dengan keinginan yang tiada berujung. Belum bisa berjalan, ingin sekali bisa berjalan. Setelah bisa berjalan, ingin bisa berlari. Setelah bisa berlari, ingin naik sepeda. Setelah bisa naik sepeda, ingin naik motor. Setelah bisa naik motor, ingin bisa naik mobil. Kalau sekadar ingin bisa sih enak, repotnya selalu dibarengi dengan rasa ingin memiliki. Hal itu sama saja dengan kita bertanya pada seseorang, bagaimana kabar Anda besok? Tentu repot untuk menjawabnya. Sebab kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari.

Ketika saya rasakan, semua keinginan itu berujung pada kepuasan. Apabila sudah tercapai atau terpenuhi maka kita mendapat kepuasan tersendiri. Lah dengan kepuasan itu kita akan merasakan kebahagiaan. Namun, bila kita terlalu menuruti keinginan akan benda-benda itu atau menuruti semua keinginan, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan keresahan, kegundahan, dan ketidaknyamanan. Mengapa? Karena kita akan terus dihantui rasa kepemilikan (baca: keserakahan). Coba bayangkan, bila semua ingin Anda untuk memiliki benda-benda apa saja selalu terkabul, otomatis barang-barang itu melimpah ruah di rumah. Walhasil, rumah menjadi semakin penuh-sesak. Jika sudah begitu, bukan kebahagiaan yang didapat, melainkan gundah gulana.

Perihal ketidakpuasan itu ketika saya hubungkan dengan 6 sumber kebahagian yang dicetuskan oleh ‘Aidh al-Qarni sebenarnya sangat berimbang. Hal itu meliputi: pertama, berbuat baik; kedua, istri yang baik; ketiga, rumah yang luas; keempat, penghasilan yang baik; kelima, Sikap santun dan penuh kasih kepada sesama; keenam, terhindar dari himpitan hutang dan sifat boros.

Rasa ingin untuk memiliki benda-benda itu tentunya bisa terkabul bila kita bisa memenuhi sumber kebahagiaan yang nomor empat (memiliki penghasilan), tetapi konsumtif itu haruslah wajar karena poin enam mengharuskan agar kita tidak boros. Jika kita terlalu boros, maka apa pun akan diterjang asalkan bisa memiliki apa yang diinginkan, bahkan berani menempuh jalur hutang. Maka dari itu, kita harus bisa mendahulukan hal-hal yang terpenting. Namun, kepentingan manusia itu terlalu banyak, selalu bertambah dan bertambah (hal buruk). Sebab memang hal itu sejalan dengan anjuran bahwa hari ini harus lebih baik dari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini. Jika tidak, kita tergolong orang-orang yang rugi (hal baik, namun memicu keburuhan bila disalahtafsirkan).

Jika ketiga poin itu sudah terpenuhi, maka kita setidaknya memperbaiki pola hidup. Pola hidup itu mengacu pada keinginan nonbenda. Hal ini akan selalu berkaitan, sebab setelah kita memperbaiki dari dalam (baca: kebutuhan pribadi), selanjutnya kita harus memperbaiki yang keluar. Maksudnya di sini yakni interaksi, hal itu disebutkan pada poin pertama. Bila kita tidak melakukan itu, kita akan diasingkan oleh masyarakat. Bahkan kita akan diberi label baru yakni sombong, kikir, dan sederajatnya, meski kita tidak menjual produk. Mengapa? Semua itu terjadi secara otomatis, karena manusia adalah makhluk sosial. Tidak bisa hidup sendiri. Selalu membutuhkan orang lain. Tetapi poin pertama itu belum lengkap bila belum disertai poin lima. Saya akan memberi ilustrasi makanan, ada makanan yang enak, tetapi dikemas dengan berbeda. Pertama dengan menggunakan daun pisang, sedangkan yang kedua dibungkus dengan plastik yang rapi beserta dengan label. Otomatis makanan kedua akan mencapai level lebih tinggi dibanding yang pertama. Jadi, berbuat baik tanpa diiringi sikap santun dan penuh kasih akan membuat diri kita hanya sebatas baik, namun kebaikan itu tidak bisa melekat. Kalau menurut pepatah Jawa, Ajine diri soko lati, ajine rogo soko busono. Walhasil, tidak cukup hanya dengan kebaikan saja, tetapi kebaikan itu perlu dibungkus dengan indah. Bila sudah seperti itu, maka kebahagiaan batin akan diterima.

Manusia bila sudah mencapai lima tahap itu, maka ia akan merasakan kebahagian yang memuncak, tetapi belum lengkap bila tidak disertai poin dua. Poin ini tentunya bila tidak dipenuhi bisa fatal, sebab bisa merusak poin nonbenda tadi. Selain akal, manusia juga dianugerahi hati, yang bisa merasakan cinta kasih. Keindahan itu tidak serta merta dianugerahkan pada manusia begitu saja, tetapi diiringi keburukan yaitu nafsu. Poin ini bisa membuat kita terjerumus ke lembah durjana, bahkan yang lebih ekstrem kita bisa mendapat olokan bahwa diri kita sama halnya dengan binatang. Begitulah, semuanya saling berkaitan seperti 4 sehat, 5 sempurna. Harus terpenuhi semua. Keenam hal tadi, mengarah pada laki-laki, tetapi perempuan juga boleh mengikutinya. Mengapa laki-laki? Karena kodrat laki-laki diciptakan di dunia ini sebagai pemimpin.***

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s