Hobi yang Dibayar

image

Hobi adalah sesuatu yang kita lakukan dengan senang hati. Makanya sejak sekolah paling dasar, TK (dulu jaman saya belum ada Playgroup) sampai SD selalu ditanya tentang hobi. Namun seingat saya, tidak hanya satu hobi yang sudah saya sebut. Ya, saya merasa kalau kesukaan saya terus berubah. Dulu bila ditanya selalu menjawab dengan hobi menyanyi, nonton tv, mendengarkan musik, dan bermain layang-layang.

Namun semakin bertambahnya usia, hobi pun berubah. Salah satu hobi yang sejak tahun 2003 hingga kini tidak berubah hanya satu, yaitu membaca dan menulis. Sebenarnya hanya membaca, tetapi lambat laun ternyata, entah apa yang menggerakkan, akhirnya juga menulis.

Soal menulis, saya mulai serius pada tahun 2006. Eist, tunggu jangan beranggapan saya tidak serius loh ya. Maksud dari kata “serius” di sini yakni mulai menulis untuk publik, tidak hanya menulis untuk dikonsumsi (dibaca) sendiri. Dan kesukaan menulis itu semakin menjadi-jadi tatkala masuk kuliah dan bergabung di Komunitas Rabu Sore (KRS).

Setelah lulus kuliah, ternyata saya makin keranjingan dengan menulis, sehingga membentuklah KAJ dan masih terus aktif sampai sekarang. Namun tidak hanya menulis, saya akhirnya menyukai dunia teater. Mengapa ya? Ya karena hidup ini kan juga sandiwara. Begitalah kiranya, sehingga saya juga membentuk kelompok sandiwara kecil untuk menertawakan hidup yang getir ini. Asik saja rasanya bermain-main. Dan lebih asik lagi ternyata hobi-hobi saya itu dibayar. Tuh kan enak?

Kalau foto di atas itu, foto saat saya melatih kelompok teater sekolah, nama kelompok itu Teater Oghael. Saya diminta melatih kelompok itu selama sepuluh kali pertemuan. Tentu saya iyakan, wong itu kesukaan saya. Eh, ternyata kesukaan saya itu diberi honor, tidak banyak sih cuma 750 K. Lumayan buat beli rokok dan ngopi. Juga beli pulsa buat telpon perempuan beralis tebal. hehehe

Saking senengnya dengan hobi-hobi, tentu karena dibayar, saya sudah hampir dua tahun ini tidak bekerja. Emang cukup buat kebutuhan? Ya, kadang cukup, kadang juga kagak. Eh, tapi kesukaan saya itu meluas. Kadang kalau pas lagi bengeng eh tiba-tiba ada telpon untuk motret orang kawinan. Ya berangkat deh, ya kalau pas motret kawinan ya seperti ini potretan saya:

Pengantin yang memilih arak-arakan dengan Goes.
Pengantin yang memilih arak-arakan dengan Goes.
Pasti nanti make up-nya luntur gara-gara keringatan. :D
Pasti nanti make up-nya luntur gara-gara keringatan. 😀
Pas sesi ini saya senang. Lah kan ada sesi suap-suapan, eh kok ya tersedak. Minta minum deh cepet-cepet.
Pas sesi ini saya senang. Lah kan ada sesi suap-suapan, eh kok ya tersedak. Minta minum deh cepet-cepet.
Habis pakaian tradisonal, langsung ganti modern. Tahu ndak kenapa? Cuma buat foto. ckckckck...bisa saja perias manten ini menyewakan baju di acara yang sakral. hehehe
Habis pakaian tradisonal, langsung ganti modern. Tahu ndak kenapa? Cuma buat foto. ckckckck…bisa saja perias manten ini menyewakan baju di acara yang sakral. hehehe
Kalau saya pikir-pikir, adat Jawa itu kompleks banget ya sampai ada acara simbolis membasuh kaki suami sebagai wujud istri yang akan selalu siap 'melayani' suami.
Kalau saya pikir-pikir, adat Jawa itu kompleks banget ya sampai ada acara simbolis membasuh kaki suami sebagai wujud istri yang akan selalu siap ‘melayani’ suami.
Tiap acara suap-suapan ini yang beda, pakai tumpeng. Eh, tapi sama mantennya ndak dipotong, malah ngambil di sebelah e. hehehe
Tiap acara suap-suapan ini yang beda, pakai tumpeng. Eh, tapi sama mantennya ndak dipotong, malah ngambil di sebelah e. hehehe
Kalau ini keisengan saya (motret kembang mayang, saat diarahkan ia bingung, tapi kok posenya pas banget, ya dibidik deh). Lah ternyata ketika dilihat-lihat cantik juga ini cewek. Menurut kamu cantik ndak?
Kalau ini keisengan saya (motret kembang mayang, saat diarahkan ia bingung, tapi kok posenya pas banget, ya dibidik deh). Lah ternyata ketika dilihat-lihat cantik juga ini cewek. Menurut kamu cantik ndak?

Wah-wah, kok jadi memajang foto terus-terusan sih. Sudah deh cukup, nanti jadi pameran foto lagi. hihihi…So, menjalani aktivitas dari sebuah hal yang disukai itu sangat menyenangkan. Apalagi kalau itu dibayar. Ah, maknyus deh rasanya. Lah, sampai pada suatu titik tertentu yang membuat saya harus memikirkan bisnis. Eh, kok munculnya tidak jauh dari hobi. Tahu ndak apa? Saya mulai menjual buku dan membuka penerbitan indie (tu kan masih saja berkutat dengan hobi). Ya, mau bagaimana lagi. Yang penting dijalani saja. Enjoy saja.

Lah ini salah satu buku yang diterbitkan KKL. Oh iya lupa, nama penerbitan saya itu Kupu-kupu Lucu atau disingkat KKL. Loh kok namanya lucu. Makanya saya heran kalau saya disebut orang yang terlalu serius. Hmmm
Lah ini salah satu buku yang diterbitkan KKL. Oh iya lupa, nama penerbitan saya itu Kupu-kupu Lucu atau disingkat KKL. Loh kok namanya lucu. Makanya saya heran kalau saya disebut orang yang terlalu serius. Hmmm

Cukup satu saja deh contoh bukunya, nanti kalau banyak-banyak nanti aku dikira promosi. hehehe….Bila kamu mau menerbitakan buku secara self publishing (membiayai sendiri penerbitan bukumu) kamu bisa menghubungi saya. Dulu, buku-bukunya Dee sebelum ia banyak dikenal, semua bukunya diterbitkan secara indie. Baru setelah namanya banyak disebut, Bentang akhirnya menerbitkan ulang naskah-naskahnya itu. So, self publishing merupakan alternatif agar nanti bisa dilirik penerbit mayor, seperti yang sudah dilakukan Dee itu.

Yah, begitulah kira-kira. Kalau kamu sendiri, suka ndak jika hobimu dibayar?

***

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s