Kencan adalah Obat Kerinduan

image

Beberapa menit sebelum menulis ini, saya membaca tulisan rekan-rekan blogger (yang memang blog mereka saya ikuti, alasannya tulisan mereka menarik). Lah, apakah tulisan saya menarik? Wah, kalau itu sobat CAF yang menilainya. CAF ini singkatan dari Celoteh Akhmad Fatoni. Terimakasih ya Eka atas inspirasinya. Ya karena baca postinganmu yang menyebut CE, Cerita Eka, saya jadi ikut-ikut membuat inisial. Hahaha…thanks atas inspirasinya. Sebagai rasa terimakasih, saya langsung follow blogmu *berharap di-folback, hehehe*

Ya, karena membaca tulisan hasil nge-trip-nya temen-temen saya jadi ingin nge-trip. Sudah lama saya tidak hengkang melihat indahnya dunia (muluk amat indahnya dunia, pasport saja belum punya). Memang salah satu cara bersyukur atas kebesaran Tuhan yakni tripping. Foto saya di atas, merupakan kenangan dua tahun lalu, 2013. Wah, lama banget. Makanya karena lama saya jadi kangen nge-trip.

image

Tatkala saya melihat foto itu, tiba-tiba saya teringat beberapa tulisan di Revius. Tulisan-tulisannya keren. Coba saja kunjungi. Gara-gara saya sering baca tulisan di Revius (sebab saya berlangganan, jadi selalu bisa update), ingin rasanya ke tempat di mana yang sering ditulis di artikel itu. Sebagian besar berlokasi di Makasar. Sumpah, rasanya saya kepincut dengan Kota Makasar, setelah Bali dan Jogja.

Dulu, hanya Bali dan Jogja yang selalu memikat saya dengan sihir seni dan budayanya. Sekarang Makasar menjadi list kota yang harus saya kunjungi jika saya ingin wisata plus menambah referensi seni-budaya. Sebelum Revius menyebarkan virus itu, saya hanya sering berkunjung ke Bali dan Jogja untuk wisata seni budaya, tapi sekarang saya punya tujuan baru, Makasar. Semoga dalam waktu dekat saya bisa menziarahimu Makasar.

Jika sudah ke sana, tentu nanti saya akan berkunjung ke Aan Mansyur. Seorang kawan penyair yang dulu sempat singgah ke Mojokerto karena bedah buku di rumah pelukis, Pak Koesen Pacet. Aan kala itu datang bersama Faisal Komandobat dan Halim HD. Kenangan itu begitu melekat sampai sekarang. Apalagi komen Aan Mansyur saat saya bonceng melintasi jalan setapak di bawah Pacet menuju Gondang, “Wah bagus sekali pemandangannya, seandainya saya bisa berlama-lama di sini pasti banyak puisi yang saya tulis.” Dulu, ketika saya mendengar Aan mengucap itu, rasanya biasa saja. Sama seperti ketika saya membaca puisi-puisinya di Aku Hendak Pindah Rumah, yang bisa saya beli dan ditandatanganinya.

Namun setelah saya banyak membaca tulisan-tulisan Aan di blognya, barulah saya kepincut dan terus mengikuti. Sejak itulah, saya misuh-misuh karena bisa menemukan keajaiban Aan dalam sajaknya Dunia yang Lengang. Anjrit. Namun sory ya kawan, sampai saat ini saya belum pernah mampu membeli buku-bukumu. Maklum jarang diberi rejeki lebih. Jika nanti bisa ke Makasar, saya ingin beli semua bukumu. Darimu. Tidak di toko buku. Juga tandatanganmu. Dan bolehkan nanti saya menginap di Bibliograpich untuk beberapa hari?

Ah, rasanya tidak pernah habis bila harus menulis tentang kerinduan. Nampaknya lebih baik saya menyudahi tulisan ini daripada rindu itu makin menyesakkan. Semoga dalam waktu dekat, saya bisa segera ke Makasar. Amin. Tapi sebelumnya, Anda tahu maksud kata Kencan dalam judul tulisan saya ini?

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s