Menahan Luka dan Perih dengan Menangis hingga Airmata Terkuras Habis

image

Hati ini begitu sakit melihat semuanya. Melihat sesuatu yang begitu pelan menusuk hati. Begitu pelannya, membuat diri ini tak mampu merasakan. Dan begitu terasa sakitnya ketika darah tiba-tiba mengucur.

Jangan membayangkan darah yang merah. Darah yang ini adalah darah berupa airmata yang tak bisa tumpah. Namun kesedihan begitu akut dan menyayat. Ya, merasakan sakit karena orang yang berhasil mencuri hati ini tidak peka. Seolah semua itu biasa saja. Apakah cinta itu hal yang biasa? Entahlah, saya selalu gagal bila menyederhanakan cinta. Apalagi akhir-akhir ini saya mencintai perempuan beralis tebal yang nampaknya ia tak pernah tertarik dengan kata itu, cinta. Tapi diri ini sudah terlanjur jatuh hati padanya. Secuek apapun dia pada saya, saya masih bertahan. Kenapa saya masih bertahan? Ya karena saya telah jatuh cinta.

Kamu pernah merasakan itu?
Jika pernah, beri saya formulasi yang paling baik agar patah hati itu tidak terlalu sakit. Sebab nampaknya cinta saya pada perempuan beralis tebal itu akan menemukan jalan buntu. Ya, hatinya buntu. Ia kerap kali bilang, “Apakah saya masih punya hati?” Saya sedikit emosi mendengar perkataannya itu. Iya emosi. Ah, kamu tahu kalau saya selalu saja gagal marah kepada orang yang membuat saya jatuh hati? Entahlah, saya sulit menjabarkannya. Mungkin karena terlalu takut bila ia pergi, menghilang hingga diri ini terkatung-katung karena hati terlanjur dicuri. Aih, sungguh sakit bukan bila jatuh cinta pada sesuatu yang sudah tiada? Ah, semoga kamu tidak merasakannya. Cukup saya saja yang mewakili. Mungkin saya sudah terlahir untuk patah hati. Ya, jadinya saya terlatih patih hati. Saya selalu gagal jika soal ini.

Ah, lagi-lagi saya hanya bisa marahnya di sini. Iya di sini. Ya yang kamu baca ini. Ini adalah luapan emosi saya pada perempuan beralis tebal itu. Ah, haruskah saya mencaci maki? Uh…tentu energi akan habis di sini. Apalagi saya harus mengejar deadline yang hanya tinggal beberapa hari lagi. Ups…hari makin dekat. Oh no….God help me. Tesis meraung-raung, tapi hati menggerung-gerung. Ah, lebih baik saya menulis puisi saja (maaf sekali lagi masih sektet, sebab saya terlanjur jatuh hati pada puisi enam baris itu). Ya, mungkin itu pilihan paling bijak saya kira.

Luka Kata, Lukamu dan Lukaku

Kata takpernah memaksa lahir dan mati
Ia mengalir bagai air
Mahir dalam makna bagai sihir
Memendam lukaku, menjadi tubuhmu
Tubuh kata, tanpa makna, tanpa ngangah
Lukaku, Lukamu, Luka kata.

Ah, semoga amarah terkikis sudah. Ya, semoga. Tentu semua orang pasti punya hati. Sungguh bulshit bila ada yang bilang tidak punya hati. Ya iyalah, mau hidup tanpa organ tubuh yang katanya berbentuk pohon waru itu? Apa bisa? Ah, sudah. Nampaknya imsak sudah tiba. Tentu takbaik merawat amarah, apalagi besok puasa. Mari meredam emosi. Mari tersenyum. Mari menunaikan ibadah puasa. Dan maaf, bila saya terkesan amat emosi. Salam hangat sobat CAF.

Twitter: @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s