Mengajak Makan Berdua, Apakah itu Terlalu Serius?

Sehari sebelum puasa, saya mengajukan sebuah pertanyaan kepada perempuan beralis tebal. Pertanyaan yang menurut saya adalah hal yang amat sederhana. Pertanyaan itu begini, “Kapan bisa meluangkan waktu untuk berbuka bersama?” Apakah itu pertanyaan yang rumit untuk dijawab? Saya rasa tidak. Akan tetapi kenyatannya, saya tidak mendapatkan jawaban itu sudah lebih dari dua minggu. Ya, dua minggu lebih. Sebab sekarang puasa sudah dapat setengah. Mudah saja menghitungnya (oh sebenarnya tidak menghitung, tetapi menandai). Saya punya dua cara. Anda boleh menirunya jika memang malas menghitung hari. Begini, pertama yakni adanya bulan purnama. Kedua, bila salat terawih dalam witirnya sudah memakai Qunut. Lah, kalau yang kedua ini tidak bisa diterapkan secara merata. Sebab ada yang salat Tarawih pada pertengahan tidak pakai Qunut.

Bayangkan pertanyaan saya tersebut untuk mendapatkan jawaban saja harus menunggu selama lebih dari dua minggu. Lah, jika saya melontarkan pertanyaan yang sedikit lebih rumit, harus menunggu berapa lama. Baiklah, saya tuliskan saja: Maukah menikah dengan saya? Menurut saya itu pertanyaan paling rumit dalam hidup bila diminta untuk menjawab. Khususnya bagi jomblo seperti saya ini.

Apakah karena saya dianggap terlalu serius sama perempuan beralis tebal itu ya? Ah, entahlah. Bisa jadi itu anggapan karena menurutnya saya terlalu serius. Walhasil, ajakan makan saya dianggap ajakan yang mengandung keseriusan.

Sebenarnya, jika boleh jujur keinginan itu didorong oleh keinginan paling sederhana dari dalam hati saya, yakni saya ingin kembali merasakan memiliki seorang kekasih. Wajarkan? Saya sudah terlalu lama sendiri (tapi bukan lagunya Kuntoaji loh), sehingga untuk merasakan debaran cinta yang menjulur ke hati dan menggerakkan jantung lebih giat dari biasanya, saya perlu latihan kecil-kecil yang intens. Salah satunya mengajak makan (buber) berdua. Tidak hanya itu saja sebenarnya, saya juga tiap malam selalu menelponnya. Itu pun jika ia tidak sibuk dengan laporan-laporan pekerjaannya.

Ya, itu saja. Apakah saya ini terlalu serius? Jika iya, baiknya saya harus melakukan cara sederhana seperti apa agar bisa mendapatkan hati dari sang pujaan. Sebenarnya saya ingin sekali mencintainya dengan sederhana, tapi nanti takut dibilang saya meniru Sapardi. Dan tatkala saya dilanda kebingungan seperti ini, saya pun enggan mengucap: Saya ini harus bagaimana? Ya, sederhana saja, tentu saya takut dianggap seperti Mustofa Bisri nantinya.

Baiklah, saya rasa semua orang punya kesederhanaan dan kerumitan tersendiri dalam hidupnya. Saya jadi ingin mengutip pendapat seorang teman yang mengatakan: “Semua akan lucu pada saatnya.” Ya, saya melihat sikap saya sekarang sudah teramat lucu. Kadang memang kita perlu menertawakan diri kita sendiri untuk mendapatkan sebuah hiburan.

Apakah hal lucu dalam diri Anda saat ini?

Twiiter: @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s