Surat (Cinta) untuk Orang yang Tak Ingin Jatuh Cinta

Dear Perempuan Beralis Tebal (PBT)

Sebenarnya aku sudah menyiapkan kertas Surat, tapi aku takut untuk memberikan surat (terlulis) kepadamu.
Sebenarnya aku sudah menyiapkan kertas Surat, tapi aku takut untuk memberikan surat (terlulis) kepadamu.

Sebenarnya aku bingung harus menulis apa dalam surat ini. Namun aku benar-benar ingin berbicara denganmu. Ya, hanya denganmu. Berdua saja. Kamu masih ingat tentang ajakanku buka bersama? Atau kamu sudah lupa akan ajakan itu? Atau aku harus bertanya kepadamu sesering mungkin agar kamu tidak lupa?

Semoga mood-mu baik tatkala membaca surat ini, sehingga semua menjadi lebih baik. Tiada orang yang punya keinginan segala dalam hidupnya menjadi berantakan, begitu juga aku. Aku selalu berharap kamu akan semakin hangat dan mulai sedikit perhatian denganku. Ya sedikit. Aku tidak meminta banyak. Ah, nampaknya itu mustahil bagai punguk merindukan rembulan ya?

Namun aku tidak pernah lelah berdoa untukmu. Berdoa agar Tuhan mendekatkan hatimu denganku. Ya, aku hanya bisa berdoa sebisaku setiap habis salat Fardhu.

Kadang aku merasa menjadi seseorang yang begitu melankolis. Kamu tahu kenapa? Tatkala aku merindukanmu, hatiku begitu berkecamuk. Kadang juga aku tiba-tiba merasa sedih, eh, bulir putih main nyelonong saja. Untunglah kala itu aku sedang di kamar sendiri, bagaimana seandainya aku sedang di tempat yang ramai. Aku harus menjawab apa bila ada yang bertanya padaku, “Kamu kenapa?” Haruskah aku berbohong dengan menjawab, “Kena debu.”

Entahlah, dulu aku hanya ingin menyederhanakan perasaan ini. Ya, seperti pertama aku berbicara kepadamu. Ah, ternyata semakin ke dalam hal itu tidak bisa sesederhana dulu. Nampaknya perasaan ini semakin rumit untuk aku pahami.

Beberapa hari ini aku terganggu dengan pemikiran-pemikiran yang mungkin tidak seharusnya kupikirkan. Mungkin itu yang membuat aku selalu saja merasa menjadi seorang yang lemah, jika kamu ingat dua hari aku bercerita kepadamu tentang kondisiku yang linu-linu dan kepala pusing? Ya, itu adalah efek kekacauan pikiranku sebenarnya. Aku tidak pernah berani benar-benar terbuka kepadamu, walau sebenarnya jika sudah terlanjur maka aku pasti akan bercerita semuanya.

Aku merasakan, aku benar-benar lemah. Aku biasanya tidak seperti ini. Aku selalu punya cara untuk mengatasi setiap permasalahan yang terjadi. Namun beberapa hari ini, aku hanya memilih tidur (dan diam-diam memandangi fotomu). Aku menahan semuanya. Menahan tidak telepon. Dan kamu tahu, saat aku pergi wawancara dan kamu menelponku pulul 03.10 untuk membangunkan sahur? Aku bahagia sekali waktu itu, entah rasanya aku memiliki kekuatan yang mendorongku. Atau itukah yang disebut orang-orang bahwa setiap kesuksesan seorang lelaki selalu ada sosok perempuan tangguh di belakangnya. Ah, entahlah. Aku juga tidak mengerti. Yang aku tahu, aku begitu ketergantungan terhadapmu. Namun, aku takut untuk meluapkan semuanya. Kita masih asing. Masih sama seperti ketika kali pertama bertemu, bedanya sekarang kita sudah mulai tahu ini dan itu. Tapi kita belum menjadi satu dan itulah yang membuatku takut untuk berkeluh kesah padamu.

Kautahu, aku sebenarnya orang yang sangat manja. Aku manja sekali kepada orang yang begitu dekat dengan hatiku. Memang, aku selalu bisa bersikap tangguh dan teguh di hadapan semua orang. Namun aku akan berkeluh kesah pada perempuan yang kutitipkan hatiku padanya. Dan sejak beberapa hari, nampaknya hatiku selalu mengikutimu. Tentu suatu ketika, jika kita benar-benar satu. Kamu pasti tahu, aku seperti anak kecil yang selalu merengek-rengek padamu. Semoga kamu tidak membenci hal itu, jika itu terjadi.

Entahlah, tapi semakin hari. Aku merasa kamu semakin jauh. Tiada tanda yang bisa menguatkanku lagi. Jika ada itu hanya pesanmu yang mengatakan, “setiap orang bebas berpendapat, termasuk sampean. hehehe” Ya, aku hanya menemukan tanda itu. Lainnya tidak.

Aku malah menemukan kedinginan dalam sikapmu, mungkin itu yang kamu sebut tidak punya hati ya? Sikap dinginmu, benar-benar membuatku tak sanggup menahan gigil dalam kesunyian.

**

Aku juga tidak tahu, kenapa aku sampai memilih menulis surat ini dan meninggalkan deadline tesisku yang makin meraung-raung. Entahlah, nampaknya aku tidak setangguh yang aku koar-koarkan padamu, bila sikapmu terus seperti ini. Selama 93 hari. Namun aku akan tetap menjalani sisa waktu yang sudah kuajukan padamu. Ya, ini masih hari ke-24 dari 93 hari mengejar impianku. Setelah itu jika memang jawabanmu tidak bisa merasakan sesuatu bersamaku, aku berusaha untuk tidak mengganggumu walaupun hatiku makin terganggu dengan menjaga jarak denganmu.

Mungkin aku akan belajar kepada Sapardi Djoko Damono cara mencintai, ya, aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tentu sederhanaku tidak seperti sederhananya Sapardi. Aku punya cara dan hati yang pasti berbeda dengan Sapardi. Aku akan berjuang dengan caraku sendiri, walaupun jika aku melakukan itu aku akan merasakan ada duri-duri yang menerkamku seperti kata Kahlil Gibran. Ah, biarlah. Aku setuju kata Dadang Ari Murtono yang mengatakan bahwa cinta itu posisinya sedikit di bawah Tuhan. Aku selalu tidak pernah bisa merasiokan bila aku sudah jatuh cinta. Sama halnya ketika aku berusaha merasiokan Tuhan. Nihil. Makanya, aku juga sepakat sekali ketika membaca puisi Ilham Persyada Syarif dalam larik puisinya bilang seperti ini: Aku telah mati ketika memilih mencintaimu. Mungkin saat ini aku telah mati.

Maafkan aku, aku cuma ingin berkata sesuatu padamu. Dari hati ke hati. Aku merindukanmu.

Salam

orang yang akhir-akhir ini menyukai senyummu yang malu-malu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s