Musuh Paling Berbahaya

Mendengar kata musuh, apa yang ada dalam bayanganmu? Tentu menjawab pertanyaan itu akan menjadi mudah bila kita sedang memiliki musuh, tetapi akan sangat susah menjawab bila kita termasuk orang yang selalu suka mencari banyak teman. Baiklah, lepas dari menunggu jawaban itu ditemukan, saya akan menceritakan musuh paling berbahaya dalam hidup saya.

Beberapa hari ini saya benar-benar bermusuhan dengan dia. Jika bertemu, saya dan dia hanya melirik. Tidak ada tegur sapa yang akrab seperti seorang sahabat yang lama tidak bertemu. Ya, ia beberapa hari ini bermusuhan dengan saya. Namun setelah menyelesaikan tulisan ini, saya akan mengaku kalah. Saya memilih berdamai dengan dia.

Memang permusuhan kami tidak abadi. Namun kerap terjadi perang dingin di antara kami. Perang yang kadang sampai berhari-hari. Kali terakhir saya berperang dengan dia yakni hampir 15 hari. Tentu itu waktu yang cukup lama bagi saya dalam bermusuhan. Sebab saya termasuk orang yang selalu lebih suka menghindari pertikaian. Akan tetapi kejadian beberapa hari ini, saya tidak bisa menghindari pertikaian antara kita.

Saya memang merasa bersalah atas pertikaian ini, walaupun banyak teman yang sudah berbicara dan mengingatkan saya untuk berhenti memusuhinya. Ya, tidak hanya seorang. Lima orang. Bayangkan bagaimana permusuhan kami itu. Tentu ini permusuhan yang tidak biasa karena membuat orang-orang terdekat saya sampai mengingatkan. Tentu, jika mereka tidak sayang kepada saya, pasti acuh tak acuh.

Musuh saya itu memang sangat dekat dengan saya, bahkan juga dekatmu. Ya, aku yakin seratus persen kalau kalian juga kenal dengan musuh saya itu, bahkan ada di antara kalian yang sangat akrab.

Lantas siapakah musuh saya itu? Musuh saya itu adalah musuh dalam selimut. Kalian sudah bisa membayangkan betapa berbahayanya musuh saya itu ‘kan? Memang, musuh paling berbahaya adalah musuh dalam selimut. Sebab dia ada di antara kita. Dekat. Sangat dekat. Namun acap kali kita tidak tahu keberadaannya bisa mengancam hidup bila kita abai terhadapnya.

Siapakah dia? Dia adalah tidur. Ya, tidur adalah musuh sekaligus teman karib. Ia akan menjadi musuh bagi kita bila kita tidak akur dengannya. Ada orang yang dimusuhinya sampai harus menderita insomnia. Jika kalian pernah membaca novel Dee yang berjudul Gelombang pasti bisa tahu seberapa berbahaya tidur itu. Sampai-sampai di New York ada rumah sakit khusus untuk menanganinya. Tentu dengan orang-orang ahli. Ya, para ahli tidur. Eit, jangan mengira ahli tidur di sini orang yang suka tidur ya, tetapi lebih pada profesional yang bisa berbicara tentang tidur melalui keilmuan.

Jika tidur bukan musuh yang berbahaya, tentu tidak akan ada orang-orang yang merelakan waktunya untuk mengurusi dia bukan? Akan tetapi kita kerap kali abai akan kehadirannya. Kita kerap mengganggap diri ini sebagai superhero dan mengabaikan tidur. Ya, kamu pernah seperti itu? Jika iya, waspadalah. Di Amerika Serikat ada orang yang bermusuhan dengan tidur selama sepekan hingga akhirnya nyawa menjadi taruhannya. Jika diminta memilih bermusuhan, mungkin saya lebih memilih bermusuhan dengan makan daripada tidur. Namun, dalam hati kecil, saya tetap tidak ingin punya musuh. Saya ingin berkawan dengan tidur, makan, minum, dan menghidup udara.

Saya hanya seorang yang lemah. Beberapa hari ini saya khilaf. Saya memusuhi tidur selama dua pekan. Saya terlalu sibuk dengan tesis. Teman-teman saya (lima orang itu) mengingatkan saya untuk berdamai dengan tidur. Sekali lagi, saya abaikan mereka. Dan kalian tahu, badan saya sekarang begitu lemas, panas, mata memerah. Rasanya tiada lagi energi. Jika diijinkan memilih, saya akan berdamai dengan tidur sekarang juga dan membiarkan tesis saya itu meraung-raung di meja kerja. Ya, biarlah. Saya malam ini ingin berdamai. Setelah menulis ini, saya akan merayunya dengan selimut tebal kesayangan saya  itu yang hampir dua pekan tidak dipeluk, dicumbu. Ya, saya berpesan padamu: jangan pernah bermusuhan dengan tidur. Kamu bukan superhero.

Saya selama sepekan hanya menengok tidur selama sejam hingga tiga jam per hari. Rasanya tubuh ini mau copot. Mungkin seperti ini rasanya reyot. Semoga saja, kelak di waktu tua saya tidak merepotkan anak dan cucu karena masih bermusuhan dengan tidur dan memilih bersekutu dengan buku-buku. Aih, semoga saja. Hai tidur, maafkan saya. Kemarilah, peluk tubuh ini. Ijinkan aku meringkuk dalam dekapanmu.***

Twitter @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s