Jalan Tak Berujung

Pak, maafkan aku, bila selama ini aku selalu membuatmu resah. Setiap tingkahku pasti membuatmu mengeluh. Aku tak pernah bisa menjadi yang kauharap, tapi maafkan aku, sungguh tak ingin aku menjadi seperti ini. Aku hanya ingin berjalan pada jalanku sendiri, jalan yang mungkin bagi semua orang tak layak disebut sebuah jalan. Namun, di jalan yang telah kupilih ini. Aku bisa merasakan bagaimana harus berbagi, tengok kanan-kiri, dan juga berhenti sesuka hati. Sebab di jalan ini, tak banyak rambu-rambu lalu lintas. Tak ada larangan untuk berhenti, berparkir, atau belok kiri dan juga belok kanan.


Memang, tak bisa aku seperti mereka. Namun, di sinilah aku merasa nyaman. Merasakan sesuatu yang mungkin bisa aku sebut sebagai sebuah ketenangan. Pak, aku berharap mengertilah. Bukannya aku bermaksud menjadi anak yang nakal, tapi ini sebuah pilihan. Di mana nanti aku yang akan berjalan di sana, bukan bapak, juga bukan ibu.

Memang aku tak pernah bercerita padamu, tapi pada ibulah aku menuangkan segala peluh. Entah mengapa aku juga tak tahu betul, tapi aku paham hanya pada ibulah tempatku berteduh. Tak ada tempat yang rindang dan seasri dirinya, meskipun ada, itu hanya tempat sesaat. Memang sempat aku merasa teduh ketika bersama kekasihku, tapi ternyata keteduhan mereka tak bisa terus membuatku aman, seperti pelukan ibu. Meskipun dari kekasihku, terkadang aku bisa menemukan jalan pulang, tapi kerinduan yang tertuang selalu membuatku mabuk dan tak sadarkan diri. Oleh sebab itulah, kekasihku tak pernah sama dari waktu ke waktu. Terkadang aku yang tak betah tinggal, terkadang mereka yang sudah tak nyaman aku berdiam di ruang terdalam mereka. Tapi ibu lain, sejak dulu atau sampai kapan pun hanya perempuan yang menjadi istrimu itulah yang terus menjadi ibuku.

Terkadang aku berpikir, sejak kapan aku tak betah berdiam di ruangmu Pak. Namun, tiap kali aku mencari jawabnya tak pernah aku terpuaskan oleh jawaban itu. Bahkan tak pernah kutemukan. Jika kaupaksa, mungkin jawaban yang akan keluar dari mulutku yaitu sejak aku mendengar ibu mengeluh, menangis, atau beradu mulut denganmu. Apalagi ketika aku melihat saat ibu terbaring lesu dan sangat membutuhkanmu, kauacuh tak acuh. Mungkin juga, di saat ia merintih kesakitan dan memintamu untuk mengantarkannya berobat, tapi kaumarah dan meminta agar aku yang mengantarkannya. Aku juga tak tahu, kemarahanku itu karena apa dan kepada siapa.

Tak salah, jika semua tetangga berkata bahwa kau itu pendiam, tak banyak omong. Ah, apa iya? Mungkin bagi para tetangga itulah jawabannya, sebab mereka tak pernah melihat kaumarah bila sedang diolok-olok, bahkan menjawab olok-olokan mereka pun tidak. Namun, bagiku itu tidak benar seutuhnya. Sebab aku selalu menemukanmu marah-marah kepada ibu, setiap kauhabis digunjing, disindir, atau diolok-olok para tetangga. Bahkan yang membuatku tak percaya yaitu di waktu kaubutuh jawaban atas sebuah kebingungan, kau lebih percaya pada tetangga, teman, atau siapa pun yang bukan keluarga. Sedangkan saran dari keluarga tak pernah bapak hiraukan bukan? Tidak dariku, ibu, kakak, ataupun paman. Yah, mungkin itulah alasanku.
Jadi, jangan salahkan aku bila lebih memilih tinggal dan memeluk ibu. Setidaknya, walaupun ibu tak suka dengan jalur yang kutempuh. Ibu masih mau bertanya, menengok, dan terkadang ikut berjalan walau hanya sampai di persimpangan. Amat beda denganmu, Pak. Memang, sedari kecil aku selalu menyusahkan. Tapi batinku lebih susah, ketika sepulang bekerja yang kautanyakan kabar adalah si Bongol, anak adikmu itu. Kautanyakan bagaimana sekolahnya tadi, berangkat dan pulang naik apa. Tapi aku, tak sedikit pun kautanya.
Lebih sakitnya lagi yakni saat kau habis gajian, kau lebih memikirkan Bongol. Kau selalu ingin memberinya uang, memang tak secara langsung. Apa pikir aku tak tahu Pak? Aku tahu semuanya, dari yang menyuruh Bongol menyiram bunga, kauminta untuk memijitimu, atau kausuruh beli obat nyamun ke Cak Di. Tapi, ketika kau ingin memberiku uang, selalu saja ibu yang kaupanggil. Ibu kausodori beberapa lembar uang, kaubilang untuk belanja dan sisanya kausuruh memberikan padaku. Aku iri Pak. Sakit rasanya. Bongol, yang hanya keponakanmu selalu kautanyakan kabar dan sekolahnya, bahkan saat memberinya uang itu langsung dari tanganmu. Sedangkan aku, tak pernah. Jika aku dapat uang saku, itu pun melalui ibu.
Masih ingatkah Bapak, saat aku bilang mau membuka warung kopi di dekat pabrik? Tahu kenapa kok tiba-tiba aku ingin membuka warung, padahal ijazahku saja belum keluar saat itu? Tahu kenapa Pak? Pasti sampean tak mengerti bukan. Tahunya pasti menuduh melakukan hal sia-sia dan menghamburkan uang saja, bukan itu Pak sebenarnya. Aku ingat betul omongan bapak pada ibu yang bilang, “wong SMA saja belum lulus, sudah ingin membuka usaha. Usaha itu butuh pengalaman, tidak bisa dibuat main-main.” Perkataan itu masih tergiang di telingaku Pak. Entah sampai kapan, aku pun tak tahu.
Aku menulis cerita ini, berharap suatu ketika nanti atau ketika aku sudah lulus sarjana, Bapak sudah tahu alasanku tentang keinginanku membuka warung. Warung yang sekarang sudah bukan milikku lagi, sebab sudah kaujual dengan harga murah. Harga yang amat sangat tidak pantas untuk sebuah bangunan siap huni. Ah, sudah tak usah aku perpanjang lagi toh cerita itu Bapak sudah tahu bukan? Aku ingin bercerita perihal kenapa aku ingin membuka warung, begini Pak: Aku membuka warung itu karena aku ingin Bongol bisa memegang uang sendiri. Agar Bapak tak memberinya uang lagi. Pasti Bapak tak percaya bukan? Yah, tentunya. Aku memang membuat serapi mungkin, sehingga Bondem aku ajak terlibat dalam usaha kecil-kecilan itu. Aku tak ingin semua orang curiga dengan rancanganku itu. Namun, aku tetap kecewa padamu Pak, kau selalu saja punya alasan untuk lebih perhatian pada Bongol.
Pak, tatap mataku, katakan kenapa seperti itu? Bila berat untuk mengungkapkan, tak usah dijawab. Terkadang kita memang selalu dihadapkan pada permasalahan yang teramat sulit atau dihadapkan pada pilihan yang kita sendiri tak mampu memilih karena kita membutuhkan keduanya. Itulah sebabnya kenapa aku sekarang menjadi seorang wartawan, pekerjaan yang dari dulu tak boleh aku jamah. Aku masih ingat, ketika masih kecil dulu, kita semua duduk di ruang tengah. Kita bersenda gurau sambil menonton acara Tutur Tinular, namun ketika acara mulai tak ada sedikit pun yang berbicara, tidak aku, kakak, ibu, bahkan bapak pun tidak.
Namun kalau tayangan iklan sudah muncul, selalu saja ada yang memulai iseng-mengisengi. Saat itulah, ada sekilas info tentang seorang wartawan yang meninggal saat liputan. Sejak saat itu, tiap kali ada berita yang sama selalu wanti-wanti aku agar tidak menjadi seorang wartawan. Ingatkan Pak? Namun, maaf Pak bukannya aku tidak mengindahkannya tapi karena Bapak tak pernah bisa mencari jawaban atas sikap Bapak selama inilah yang membuat aku harus mencari jawaban itu sendiri. Wartawanlah, pekerjaan yang membuatku belajar untuk mencari sesuatu yang tidak banyak diketahui. Namun, aku juga tidak tahu kapan aku menemukan jawaban itu, sebab jalan itu teramat panjang Pak. Tidak pernah aku ketahui di mana ujungnya.***

Twitter: @akhmadfatoni1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s