Idul Fitri 1436 H

Hari raya pertama telah berlalu. Ikhwal mudik membuat aktivitas semakin padat. Semoga semua selamat sampai kampung halaman. Dan saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1436 Hijriyah. Bila ada pemikiran, laku, dan karya saya yang menyinggung atau kurang berkenan di hati, mohon maaf. Taqoballohu minna waminkum.

***
Banyak juga yang bertanya saya mudik ke mana? Dan memang sejak kecil saya tidak pernah mengalami ritual tersebut. Keluarga saya asli Mojokerto. Dan saya termasuk dari keluarga tua. Sanak famili semua ketika hari raya mudiknya ke rumah. Nanti, hari raya kedua ini, keluarga besar akan berkumpul di rumah. Keluarga dari Pacet, Kanigoro, Krian, Bali, dan Batam berkumpul.

Tentu rumah kecil ibu saya akan begitu ramai nanti. Akan tetapi, sebelum semua pada datang, ritual pagi di rumah ibu yakni memberi makan ayam-ayam. Yah, banyak sekali ayam-ayam di rumah ibu. Rasanya di rumah kecil tempat saya dilahirkan ini, tiada perubahan besar yang signifikan. Jika pun ada, hanya perubahan-perubahan kecil seperti Pohon Mangga Manalagi di sebelah ruman yang sudah ditebang, juga Pohon Mangga Golek-Kopyor yang mirip raksasa di depan rumah sudah tiada. Dulu, pohon itu seperti memayungi pelataran rumah. Teduh. Namun sekarang pohon itu, sudah tiada. Pelataran rumah terasa semakin lebar saja.

Juga kolam (kami menyebutnya juglang) di kanan rumah sudah diratakan. Di sana, dulu saya belajar berenang, walau airnya tidak sejernih di pemandian umum atau kolam-kolam keluarga yang airnya bening dan menggiurkan. Ah, tapi saya sudah cukup senang. Hahaha…
Setelah itu, saya dengan Ais (anak kakakku) membantu ibu menaruh itik dan memberi makan ayam. Banyak sekali ayam-ayam milik ibu. Mirip peternakan saja. Ibu begitu telaten memberi makan ayam-ayam itu, dari satu hingga beranak-pinak menjadi puluhan. Perempuan itu, memang begitu telaten. Tentunya juga telaten merawatku hingga menjadi perjaka tua yang tak kunjung menikah dan masih saja ingin sekolah. Hahahaha….

Ya, inilah kampung halaman itu. Rumah kecil penuh kebahagiaan dan kesederhanaan. Rasanya, diri ini tiada pernah bosan untuk terus kembali ke mari. Begitulah.

image
Dialah keponakan saya, Ais namanya. Kami memindahkan itik-itik itu di kandangnya.
image
Si kecil yang banyak itu, terlihat senang sekali dilepas dari kardus yang hampir semalaman tidur di kardus air mineral untuk melawan dingin yang menghujam.
image
Coba lihat, kebahagiaan mereka begitu sederhana bukan?
image
Ada yang lepas satu. Saya dan Ais harus siaga satu agar ia tidak lari terlalu jauh. Ya, jika dibiarkan lepas ujungnya nyawa. Memang, itik seukuran itu masih perlu perlindungan dan arahan agar terus bisa tumbuh.
image
Kalau nanti sudah mulai besar, maka kandang mereka di sini bila senja mulai datang.
image
Jika sudah dewasa dari itik menjadi babon dan jago, barulah mereka boleh tidur di kandang panggung ini.
image
Yang dramatis adalah ini. Ketika ibu membawa makanan, mereka mengikuti di belakang dengan rapi. Begitu makanan ditaruh, langsung menyerbu. Makan selalu saja menjadi aktivitas menggiurkan, tidak bagi saya saja tetapi juga mereka. Hahaha

Begitulah, tiap pagi ikhwal di rumah ini. Tentu sebelum matahari meninggi. Setelah semua rampung, baru ibu memasak untuk sarapan dan membuatkan saya secangkir kopi. Aih, kapan ya saya ada yang membuatkan kopi? Ah, entahlah. Kalau ikhwal liburan Anda bagaimana?***

Twitter: @akhmadfatoni1

Iklan

One thought on “Idul Fitri 1436 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s