Perpustakaan Cerita

image

Rasanya lama tidak menulis di CAF. Semoga sobat CAF tidak jengah menanti. Pada tulisan kali ini, saya mau menulis sebuah cerita baru dalam bait-bait yang merangkai cerita (yang mungkin akan menjadi topik dalam CAF ke depan) tentang sebuah perjalanan baru.

Ya, pada titik ini akhirnya saya sepakat dengan pendapat umum bahwa cinta mampu memberi inspirasi yang tidak pernah kering. Begitulah, mulai detik ini, ketika saya membuat tulisan ini cerita-cerita akan kembali mengalir. Cerita tentang sebuah perpustakaan yang mampu melahirkan cerita.

Perpustakaan memang sebuah tempat yang membuat saya betah berlama-lama di sana. Entah, buku memang mampu membuat diri ini lupa dengan aktivitas yang lain. Namun tetap tidak mampu membuat saya lupa akan hutang yang menumpuk. Entahlah, hutanglah yang paling lekat dalam ingatan, padahal banyak hal yang sering saya lupa, khususnya kisah sedih karena hati ini. Meskipun saya tidak bisa benar-benar lupa tentang orang yang sempat mengusik hati dan pikiran, namun saya selalu berusaha membuka hati pada seseorang agar kenangan tidak menjadi hal yang terus-menerus menyakitkan. Dan di perpustakaanlah akhirnya saya bertemu perempuan itu. Perempuan yang akan berusaha menolong saya mengusir PBT yang kerap mengisi kolom-kolom CAF.

Kali pertama saya bertemu dengannya, yakni ketika sedang duduk santai dan melihat perempuan itu hendak meminjam buku. Ya, kejadian konyol itu sebenarnya tidak mampu saya ingat dengan baik. Namun perempuan itu, perempuan yang pada kali pertama bertemu saya tertawakan dengan teman saya. Perempuan itu jadi rikuh. Ia bertanya kenapa kami tertawa, namun kami tidak menjawabnya. Ketika saya keluar hendak menuju masjid, ia bertanya kenapa saya tadi tertawa, “kalau bertemu lagi akan saya ceritakan.”

Ya, saya lupa kalau berjanji kepada perempuan itu. Namun ia masih ingat betul dengan saya. Beberapa hari setelah kejadian itu, ia menyapa saya yang melintas di depannya, sekali lagi di perpustakaan. Ia menagih janji saya. Namun saya lupa kalau pernah berjanji. Akhirnya saya mendekati meja tempat perempuan itu duduk bersama teman-temannya. Dan berceritalah ia dengan maksud membongkar ingatan yang telah terkubur dalam tempurung kepala saya. Dengan sedikit usaha keras, akhirnya saya bisa mengingatnya. “Wah, hebat kamu mampu mengingatnya. Sebab saya sudah lupa.”

Bla…bla..bla..
Akhirnya saya menceritakan kepadanya kenapa dulu saya tertawa. Yah, memang saya geli melihat gerak-gerik perempuan itu tatkala mengembalikan buku. Gerak-gerik yang tidak bisa ia tutupi kalau sedang salah tingkah dengan lelaki pegawai perpustakaan yang selalu cuek menghadapi pelanggan. Entah, kala itu ia mungkin punya persepsi kalau cowok yang dingin itu menarik. Mungkin. Dan bagi saya itu sebuah tindakan yang menggelikan. Usut punya usut, akhirnya kita berkenalan.

Sejak saat itu, kita kerap bertegur sapa ketika bertemu di perpustakaan. Karena kerapnya bertemu, akhirnya saya mulai memberanikan diri meminta nomornya. Sejak saat itulah, akhirnya kita saling bertegur sapa melalui pesan elektronik. Sesekali telepon. Kita makin dekat. Dan kedekatan itu, tadi menemui titik temu. Titik yang tak pernah kita padukan. Ya, semoga saja segalanya bisa menjadi padu dan mampu melahirkan kisah yang sendu melebihi senja di penghujung waktu. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s