Dini Hari

Kursi Senja, begitulah teman-teman sanggar menamai kursi itu. Dan kerap kali kita saling berebut duduk di sana tatkala senja tiba. Tentu harapan saya, suatu ketika perempuan cerita mau menemani saya duduk di kursi itu menikmati senja dan menunggu malam tiba, waktu paling seksi.
Kursi Senja, begitulah teman-teman sanggar menamai kursi itu. Dan kerap kali kita saling berebut duduk di sana tatkala senja tiba. Tentu harapan saya, suatu ketika perempuan cerita mau menemani saya duduk di kursi itu menikmati senja dan menunggu malam tiba, waktu paling seksi.

Malam merupakan waktu yang paling saya sukai. Entah kenapa rasanya jika diminta untuk memilih waktu untuk beraktivitas, maka jawaban saya pasti malam. Ya, rasanya segala energi bisa sangat maksimal ketika malam hari. Walaupun saya juga tidak menolak untuk beraktivitas di siang hari.

Jadi, bisa ditebak jalan tulisan ini selanjutnya kan? Benar. Saya kerap kali terjaga di malam hari. Lantas aktivitas apa yang saya kerjakan di malam hari? Banyak. Utamanya yakni menulis. Namun kadang saya juga melakukan hal-hal lain seperti belajar memetik gitar (aktivitas yang sedari dulu tidak pernah mampu saya kuasai), mengedit foto, membuat video, membaca, atau menelpon.

Menelpon.

Kemarin malam, setelah saya menulis dan ternyata kantuk belum juga tiba. Saya harus cari cara untuk mengisi malam yang begitu seksi ini. Maka hape saya ambil, saya sms perempuan cerita. Ah, ia lama sekali membalasnya. Saya ngobrol dengan teman, kebetulan saya tidur di sanggar bersama seorang teman. Namun tidak berapa lama, ia pun akhirnya terlelap. Wah, saya bakal menghabiskan malam seorang diri. Eh, tiba-tiba perempuan cerita membalas pesan. Ia bilang kalau tadi tertidur. Aih, saya menemukan teman mengisi malam.

Beberapa kali kita berkirim pesan, hingga akhirnya telepon menjadi pilihan agar malam makin syahdu. Saya menelponnya, tidak lama ternyata pulsa habis. Waduh, eh ternyata tidak lama setelah itu ia menelpon. Inilah yang saya suka darinya, ia selalu tidak pernah kehabisan cerita. Saya selalu senang mendengarkan ia bercerita. Dan itulah kenapa saya menyebutnya sebagai perempuan cerita.

Di sela percakapan itu, kita berbicara soal hati. Ya, hati saya dan hatinya. Saya memang menawarkan untuk memadukan hati dan menjalin cerita bersama. Namun ia masih membutuhkan waktu, ia bilang Sabtu sore akan menjawab pada saat bertemu. Pertemuan yang syahdu tentunya. Sebab sudah lama diri ini tidak menikmati Sabtu malam Minggu. Dan Sabtu depan, ada acara weekend bersama perempuan cerita. Asoi.

Tidak banyak yang saya harapkan. Jika memang kali ini ternyata masih harus sendiri, ya harus dijalani dengan senang hati. Namun harapan saya, perempuan cerita mengulurkan tangannya. Mau berjalan beriringan dan saling berbagi cerita. Ia bercerita dan saya menuliskannya. Indah tentunya. Semoga. ***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s