Perempuan Cerita

Sekali lagi, aku bertemu dengan Perempuan Cerita di perpustakaan. Apakah ia akan menjadi nonfiksi dalam hidupku atau menjadi fiksi (imajinasi) saja dalam hidupku? Entahlah, semoga pertemuan besok membawa kabar indah.
Sekali lagi, aku bertemu dengan Perempuan Cerita di perpustakaan. Apakah ia akan menjadi nonfiksi dalam hidupku atau menjadi fiksi (imajinasi) saja dalam hidupku? Entahlah, semoga pertemuan besok membawa kabar indah.

Pada dua kali tulisan sebelumnya, aku (biasanya pada tulisan sebelumnya lebih sering menggunakan kata ganti saya, namun sekarang mencoba dengan kata ganti aku) sudah menyebut tentang Perempuan Cerita. Dan memang begitulah, ia akan selalu muncul dan menghiasi CAF. Tentu hal itu juga merupakan usaha saya untuk melawan lupa dan mengekalkan peristiwa.

Siang ini, dan tentunya juga di perpustakaan, aku bertemu dengan Perempuan Cerita. Ketika aku hendak berangkat ke masjid untuk salat Jumat, tiba-tiba ia nyelonong ketika aku membuka pintu perpustakaan. Kita kembali lagi bertemu di sini. Tempat yang aku sukai, tempat penuh buku-buku.

Seusai salat Jumat, aku mencarinya ke ruang dalam. Ia sedang serius membaca koran, seperti biasa ia seolah-olah ingin cuek terhadapku (sebab tidak sekali dia melakukan hal semacam itu). Ah, namun itu menjadi suatu yang menarik. Aku lalu berusaha mencari cara agar ia berbicara, namun ia nampaknya kukuh untuk tidak banyak bicara. Mungkin karena di perpustakaan, tempat yang tidak boleh banyak berbicara. Padahal para penjaga perpustaan di depan sedang berbicara atau bercerita dengan lantang dan keras, sampai-sampai ada pengunjung laki-laki yang duduk di sofa belakang terusik. Ia berdiri, menengok ke depan, lalu duduk kembali. Mungkin ia kecewa, ternyata yang membuat suara gaduh adalah penunggu perpustakaan sendiri. Apa mau dikata, ia pun duduk kembali. Ya, lelaki itu sama denganku. Sama-sama merasa terganggu. Bedanya, aku terganggu dengan detak jantungnya yang bekerja lebih giat karena di depanku ada Perempuan Cerita. Sembari menulis ini, aku sesekali melihatnya yang sedang membaca buku “Pendekar Sendang Drajat, Misteri Gajah Mada Islam”. Aku melihatnya membaca. Aku melihat matanya, matanya yang membuatku terpesona ketika kali pertama bertemu.

Aku masih ingat betul kejadian itu. Kejadian di mana akhirnya aku menuliskan sebuah puisi untuknya. Puisi yang ia tidak tahu kalau aku menuliskan untuk dirinya. Dan mungkin ketik ia membaca tulisan ini, barulah ia akan tahu kalau aku pernah menuliskan puisi untuknya. Matanya. Ya, sihir matanya mampu membuatku takluk. Dan dua tahi lalat di antara kedua alis itu seolang magnet yang membuatku harus terus menatap matanya. Mata si Perempuan Cerita.

Namun ada pemandangan yang sedikit lain, kantong matanya hitam. Ia suka begadang nampaknya. Akan tetapi, aku lebih suka melihat cemeleret warna gelap di bawah matanya. Aih, ketika aku berusaha memecah kebisuan di antara kita karena ia nampak mengantuk dengan mengeryitkan matanya saat membaca. “Bagaimana kalau kita ngejus?”

“Ndak ah, nanti suaraku tambah habis.”

Gawat juga jika suaranya habis, nanti siapa yang akan selalu memberiku cerita. Eit, tapi ada yang menarik ketika ia menjawab pertanyaanku ia manis sekali. Senyum malu-malu. Duh, membuat detak jantungku makin cepat bekerja saja. Aih, Perempuan Cerita, nampaknya kau telah memanahkan busur panah cinta kepada diri ini. Akankah, diri ini sekali lagi patah hati dan tetap menjunjung tinggi predikat lelaki sepi atau ia mau menemaniku mengusir kesepian? Ah, entahlah. Semoga besok ia membawa berita bahagia dan mau tinggal di dalam ruang hatiku. Semoga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s