Masuknya Gampang, Keluarnya Susah

Setidaknya pensilku (semangatku) harus kuperpesar seperti gambar yang aku temukan di internet dan aku gunakan menjadi ilustrasi dalam tulisan ini. Jika tidak begitu, maka harus bingung mencari biaya kuliah lagi. Semoga saja semua persyaratan sudah beres sebelum tenggat waktu.
Setidaknya pensilku (semangatku) harus kuperpesar seperti gambar yang aku temukan di internet dan aku gunakan menjadi ilustrasi dalam tulisan ini. Jika tidak begitu, maka harus bingung mencari biaya kuliah lagi. Semoga saja semua persyaratan sudah beres sebelum tenggat waktu.

Semester ini, ganjil, aku genap semester empat? Loh kok bisa? Begini, aku terdaftar sebagai mahasiswa Magister kajian sastra dan budaya, FIB, Unair, pada semester genap, sehingga di semester ini aku baru semester empat. Kalau mahasiswa yang masuknya semester ganjil ya sudah molor satu semester alis semester lima.

Namun aku merasa proses kali ini terasa sebagai “sulit keluar”, sebab bila mau lulus harus melenggapi tiga persyaratan yakni Lulus tes ELPT dengan skor 475, publikasi jurnal, dan selesai ujian tesis. Persyaratan pertama dan kedua itu yang membuat aku ketar-ketir. Syarat pertama karena aku lemah dalam urusan bahasa Inggris. Syarat kedua, jurnal dalam setahun hanya terbit selama 2 kali. Kalau syarat ketiga, aku agak tenang karena sudah selesai riset, tinggal menunggu persetujuan dari kedua dosen pembimbing. Sebelum menulis ini, aku tadi sudah menerima perintah revisi dari dosen pembimbing pertama, baru setelah itu dikirim kembali via email. Kalau sudah dapat lampu hijau, baru diprint dan didaftarkan ujian.

Konon, Desember yang sudah bulan depan. Semua persyaratan harus sudah beres. Wah, sudah kurang satu bulan lagi. Mampus aku. Semoga saja ada keajaiban datang. Kemarin untuk sarat kedua, sudah aku kirim artikel jurnal dengan judul Rashomon dan Perempuan Tua dalam Rashomon. Sebuah kajian tentang sastra bandingan. Pada tulisan itu, aku mengkaji cerpen Dadang Ari Murtono (DAM) yang tahun 2011 lalu mendapat kejaman dari publik sastra sebagai plagiarism dari cerpennya Akutagawa. Semoga saja, tulisan itu bisa dimuat, sehingga persyaratan kedua bisa terpenuhi.

Persyarat pertama, tadi aku sempat tes TEP, namun hasinya hanya 347. Oh iya, apakah TEP dan ELPT itu sama? Ah, entahlah aku kurang mudeng. Sekarang tinggal menunggu pembukaan ELPT di Pusat Bahasa Unair. Daftar. Semoga tes selanjutnya bisa mencapai target.

Cukup memusingkan juga. Kamu punya kisah sepertiku?***

Iklan

Penulis: AKHMAD FATONI

Lahir di Mojokerto, 29 Pebruari 1988. Alumnus S1 sastra Indonesia, Unesa (2010) dan S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga (2016). Bukunya: (1) Lengan Lirang (Puisi, 2012); (2) Kredo Mimpi (Esai, 2014); (3) Tembang Dolanan (Puisi, 2015); (4) Meja Nomor 8 (Cerpen, 2016). Email: fatoni.akhmad@gmail.com

2 tanggapan untuk “Masuknya Gampang, Keluarnya Susah”

  1. Hai kak, aku kan rencananya mau mendaftar magister unair prodi kajian sastra&budaya juga. Tapi di web resmi, kuota di semester genap pada prodi tsb ada tanda (-). Apakah itu maksudnya prodi tsb tidak membuka pendaftaran pada smester genap? Apakah ketika kakak dulu mendaftar juga mengalami hal ini?

    Suka

    1. Kala itu saya bertanya, apakah tahun depan ada gelombang genap lagi. Jawabnya Dekan, tidak. Anggatanku adalah angkatan genap pertama dan terakhir.

      Setelahnya, semua pendaftaran pada gelombang ganjil.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s