Menuju Indonesia yang Lebih Baik

Korupsi di Indonesia seolah menjadi budaya massa yang terus berkembang layaknya trend kekinian. Bobroknya mental membuat perilaku korup menjadi rutinitas wajib yang tidak perlu malu menjalaninya. Lantas bagaimana Indonesia ke depan bila perilaku korup terus tumbuh dan mengakar? Maka kita tinggal menunggu keroposnya (dan hancur) menjadi kepingan-kepingan reruntuhan yang perlahan hilang tertiup debu dan arus waktu.

Lanjutkan membaca Menuju Indonesia yang Lebih Baik

Iklan

Menuju Perpustakaan Cerita

image
Setelah bersih-bersih ruangan, sembari menunggu plamir kering, buku ditata sembarangan. Baru setelah itu dicat. Buku dikatalokkan.

ketika tubuh ini lelah, maka kubiarkan jemari menari-nari manja. meninggalkan sejenak rutinitas menyiapkan Perpustakaan Cerita, perpustakaan umum RBAF. Kubiarkan ia bebas, sebebas aku mengimajinasikan berdampingan dengan Perempuan Cerita. biarlah sekelumit buku ini akan menemukan muaranya, pada yang suka membaca. sebentar lagi. 29 Pebruari. jangan lupa kemari. boleh menyanyi, baca puisi, stand up comedy, monolog atau sekadar datang untuk dialog seputar hati.

#PerpustakaanCerita #perpustakaanumumRBAF #buku #RBAF

Malam Minggu

Hai kamu? Malam Minggu ke mana? Di rumah saja? Kok tidak apel. Ups, jomblo kok ngapel.

Okelah, lepas dari jomblo atau sudah pasangan. Malam Minggu tentu harus dinikmati dengan senang hati. Kalau aku tidak ke mana-mana. Di rumah saja. Sebenarnya ada rencana apel, tapi Perempuan Cerita sedang sibuk membantu ayahnya jualan. Kebetulan, malam ini seorang teman berkunjung ke rumah. Jadi, makin terasa nikmat punya teman diskusi.

Lanjutkan membaca Malam Minggu

Kopi Kelapa

Pagi yang dingin. Saya kurang begitu suka dingin. Bangun tidur dada terasa sesak. Seusai Subuhan, untuk mengurangi dingin yang menggelayut di tubuh pilihan adalah kopi.

Ketika di dapur, langsung saja panci yang biasa buat memasak air, kebetulan sudah ada airnya, tidak banyak tingkah langsung saja saya taruh di atas kompor. Kopi diracik. Pahit. Selain dingin, kalau soal kopi saya tidak suka manis, tapi kalau soal gadis manis, lain cerita.

Setelah kopi jadi, saya ke kamar dulu. Mengambil smartphone keluaran Smartfren, rokok 234, dan buku kumpulan esai Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia karya Ribut Wijoto. Tentu, kopi begitu menggoda. Langsung saja disruput. Sruputan pertama, saya tidak yakin. Kembali saya sruput. Rasanya aneh. Masak kopi ini basi. Ibu datang.

“Di panci tadi air apa?
“Bukan air?”

Saya melongo. Kopi saya sruput lagi. Rasanya masih aneh.

“Tadi bapakmu setelah pulang dari pasar, karena terburu-buru air kelapa langsung dituang di panci.”

Buset. Pantes saja rasanya aneh. Air yang saya rebus ternyata air kelapa. Hahaha…

Pagi yang konyol. Dingin mencekam. Daripada jengkel, masak air lagi. Kopi langsung saya buang. Gelas dicuci. Buat lagi. Semoga saja, kondisi sastra Indonesia tidak sekonyol pagi ini, tetapi sesedap 234 yang makin nikmat dari hisapan ke hisapan. *

Aneh, Kenapa Aku Bisa Jatuh Cinta?

Cintaku kali ini beda. Beda dengan cinta-cintaku sebelumnya yang selalu menggebu. Cintaku kali ini landai. Tapi aku jatuh cinta.

Aku jatuh cinta pada Perempuan Cerita. Ia beda. Tidak seperti perempuan pada umumnya, tapi ia bisa membuatku jatuh cinta. Aneh.

Lanjutkan membaca Aneh, Kenapa Aku Bisa Jatuh Cinta?

Buku Pengikat Cerita

Ning, senyummu masih saja menggoda.
Tahi lalat di tengah pelipis matamu membuatku mengembara.
Mengembara di belantara tatapan matamu.

Detak jantungku masih saja kusimpan.
Perlahan ingin kutumpahkan padamu. Dan aku berharap kau juga mau berbagi kisah denganku.

Lanjutkan membaca Buku Pengikat Cerita

Menyendiri untuk Menulis (Lagi)

Saya mulai berkenalan dengan dunia kepenulisan sejak tahun 2000. Perkenalan itu dimulai dari puisi. Kegiatan membaca puisi itu terjadi dalam tempo yang lama, enam tahun. Hah hanya enam tahun?

Sebentar, maksud saya enam tahun itu yakni hanya membaca puisi. Setelah di atas enam tahun, saya sudah tidak setia pada puisi. Saya mulai membaca cerpen, esai, dan novel. Terus sejak kapan mulai menulis?

Lanjutkan membaca Menyendiri untuk Menulis (Lagi)

Solidaritas Abal-Abal

Hari ini banjir status ucapan, facebook, twitter, ig, bbm, wa, semua pada banjir ucapan selamat hari ibu. Hal itu dilakukan di media sosial, media untuk menunjukkan aktivitas sosial. Ya wajar saja. Namun ada saja yang mencemooh dengan membuat status tandingan. “Podo gawe status hari ibu, giliran dikongkon tuku brambang sak-sek, sak-sek.”

Beda, hal itu beda. Media sosial memang untuk narsis (walaupun ada manfaat lain, bukan manfaat utama, yang dampaknya sangat besar terhadap perubahan sosial).
Saya berbeda dengan kebanyakan orang, di hari ibu, saya membuat ibu menangis bersimbah airmata.

Lanjutkan membaca Solidaritas Abal-Abal

Kerja di Mana?

Salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan bila sudah tidak punya topik yakni soal menikah, punya anak berapa, dan kerja di mana. Pertanyaan yang kerap kali saya tidak jawab dengan jujur yakni soal pekerjaan. Saya tidak menjawab jujur karena ada alasan yang kuat. Jika saya jawab jujur pun tidak bisa dimengerti, kecuali hanya mlongo. Sebab profesi menulis merupakan profesi yang belum diakui masyarakat luas, awam. Bagi mereka, bekerja itu ya berangkat pagi dan pulangnya sore hari.

Lanjutkan membaca Kerja di Mana?