Terinjak

Kamu pernah mengalami pas salat kakimu menginjak sarung? Jika pernah, kita punya cerita yang sama. Cerita ini tentang yang terinjak.

Kisah ini mencuat ketika tadi aku salat jamaah di musalah dekat rumah. Aku agak terlambat, sebab ketika adan dikumandangkan aku masih males-malesan di kamar. Badanku rasanya capek banget dan badan capek bawaannya ngantuk. Klop deh. Sedikit cerita, tadi habis menjadi moderator bincang buku dan cerpen. Entahlah, aktivitas seperti itu membuat badan capek (walau seneng, karena itu duniaku), mungkin gegara darah ndak bisa lancar mengalir kali ya?

Kembali ke topik terinjak. Lah, saat di musalah masih puji-pujian (aktivitas menunggu para jemaah atau kadang menunggu imamnya), aku masih males banget. Setelah agak lama baru aku memaksakan bangun. Eh, tiba-tiba terdengar iqomah.

Sesampai di musalah, deretan para jemaah hingga di teras (biasa kalau pas salat Magrib dan Isya pasti penuh, kalau Subuh adalah puncaknya. Puncak sepi maksudnya, sebab hanya ada dua orang). Walhasil, aku jamaah di teras.

Awal tulisan, aku sudah menyoal tentang sarung terinjak. Ya, ini memang menyoal itu. Semacam berbicara kenangan (ciye kenangan, bukan kenangan dengan si mantan loh, melainkan kenangan dengan sarung). Aku lantas senyum-senyum sendiri ketika ingat momen saat salat dan ujung sarung terinjak kaki. Kamu pernah? Jika pernah pasti kamu bisa membayangkan tentang yang aku kisahkan ini.

image
Aku nyari arsip foto salat pakai sarung ndak nemu, ya wes aku pajang foto aku yang lagi asik nulis aje. Hehehe

Kalau kita pas lagi semangat salatnya, pasti gerakan itu juga penuh semangat. Lah, gawatnya kalau pas kondisi semangat dan ujung sarung terinjak pasti kita akan terpantul. Keseimbangan tubuh goyoh. Rasanya ingin menjungkal saja badan ini.

Dulu, sewaktu kecil, kejadian seperti ini sering sekali terjadi dan entah itu sampai kapan, yang jelas ketika sudah dewasa aku sudah tidak pernah menginjak ujung sarung. Ya, mungkin karena kita sudah berpikir dan punya siasat kali ya? Ketika kuingat sih, sekarang tiap salat (entah pas pakai sarung atau celana, ketika hendak berdiri setelah sujud, tangan selalu reflek menarik celana atau sarung, mungkin itu yang membuat tidak terinjak) sudah tidak pernah terjadi lagi fenomena menginjak sarung.

Lantas apa yang membuatku ingat kejadian menginjak sarung? Kejadian ini terjadi gara-gara aku terlambat dan dapat barisan salat di belakang, teras musalah. Eit, tunggu bukan aku yang menginjak sarung, melainkan perempuan di depanku. Loh kok perempuan? Begini, musalah sebelah rumahku itu kecil. Ya kira-kira ukuran 4×6 cm. Lebar dalam 4×5 cm, teras 4x1cm. Namun beberapa hari lalu, ada tetangga dapat jatah warisan lumayan banyak dan dihibahkan untuk pembangunan musalah. Pelataran musalah dibangun dengan atap dan tembok setinggi pusar. Terbuka. Ukurannya 4×5 cm. Selesai dibangun, pelataran masih belum dipakai salat, kayaknya baru pas Tarawih saja. Biasa kalau Tarawih, semua mendadak giat, tapi di awal saja. Di tempatmu juga begitu?

Kembali ke soal perempuan tadi, teras musalah bisa melihat imam dari pintu dan jendela yang dipasang ram besi dengan diameter lima inci. Susunan salat di tempatku, perempuan di kiri dan kanan lelaki. Itulah sebabnya ketika aku di teras bisa melihat jamaah perempuan yang ada di dalam. Biasanya ada kelambu, tapi ini tidak ada. Mungkin dicuci.

Pas rakaat kedua, sujud, lalu berdiri, ini bukan sarung yang terinjak, tetapi mukenah. Ternyata kejadian ini juga terjadi pada perempuan ya, tidak hanya laki-laki. Baru tahu aku.

Mukenah jaman sekarang ada yang model putus, kalau dulu semua terusan (sewaktu kecil, sering mukenah di musalah dulu aku sama teman-teman iseng dipakai untuk menakut-nakuti, kan mirip pojong. Hehehe). Mukenah potongan itu, bawahannya pakai kolor. Lah, ketika mukenah si perempuan itu terinjak tidak akan terjadi kondisi sempoyongan atau hendak terjungkal ke depan, tetapi mukenah melorot. Ini asem tenan, aku pas di belakang dan pas ketika menghadap ke depan. Konsentrasiku ambyar. Untungnya, si perempuan masih pakai rok, kalau ndak? Mampus deh diriku.

Singkat cerita, kejadian itulah yang mengingatkan aku tentang fenomena “terinjak”. Kamu punya cerita soal injak-menginjak ini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s