Doa dan Kebersamaan

Aku benar-benar terharu atas dorongan dan doa dari teman-teman. Selasa, 15 Desember 2015, lalu aku ujian tesis. Soal ujian ini, aku tidak woro-woro, hanya bercakap kepada 2-3 teman di BBM dan WA.

Tatkala malam hari, sebelum ujian esok paginya, banyak sekali yang mengucapkan selamat dari kelas 2013  dan 2014. Memang secara angkatan, aku dan empat lainnya (Nuke, Naren, Yuni, dan Mbak Lila) masuk kuliah di semester genap 2013. Kali pertama kuliah, kita ikut angkatan 2013 dan semester depannya kita ikut angkatan 2014 dan 2013.

Semester dua, saat gabung di dua kelas, kita menjadi majemuk. Kuliah dua semester diprogram dalam satu semester. Tentu yang diikuti hanya mata kuliah wajib. Mata kuliah pilihan diprogram bila tidak bentrok jadwalnya. Hal itulah, yang membuat kita berlima di semester 3 (genap) sudah bisa lulus.

Dulu, kita sangat optimis menyelesaikan kuliah magister hanya tiga semester. Namun tidak semudah membalik telapak tangan, tidak semulus rencana dalam pikiran. Ada yang harus mengulang mata kuliah karena nilai jelek. Ada yang tesis belum kelar karena dosen pembimbing yang sulit ditemui atau tidak ada kepastian diperbolehkan maju sidang. Dilematis.

Akhirnya, semester ini (ganjil) kita benar-benar tepat empat semester. Aku akhirnya daftar sidang dan empat temanku lainnya masih berjuang keras agar bisa segera daftar sidang. Semangat ya teman-teman. Pesanku, dosen pembimbing jangan ditekan. Semakin ditekan, tentu masa depan makin suram. Harapan sidang makin jauh dari angan. Tunjukan prestasi dan merendah. Selalu ingatkan agar tesis segera dibaca dan memberi revisi (bila ada) dengan harapan biar bisa cepat sidang.

Itulah yang membuat dua angkatan 2013 dan 2014, sama-sama mengucapkan selamat. Aku makin terharu ketika Nuke, Yuni, dan Mbak Lila ke kampus untuk memberi support (hanya Naren yang tidak datang karena di hari itu bebarengan tes TEP di Unesa). Sungguh, aku terharu.

Aku cerita perihal prosesi sidang tesis. Mendebarkan dan menegangkan (katanya sih), tapi aku tidak berdebar kencang. Biasa saja. Mungkin sudah kerap kali jadi pembicara dan memberi pelatihan di luar itu yang membuatku merespon standard. Malahan dalam mind set di kepalaku, sidang tesis bukan momen pengadilan yang membunuh dan menghujat, melainkan aku meminta saran dan masukan pada para pakar terhadap karyaku.

Ya, aku menulis tesis ini karena selain tugas kelulusan untuk mendapat gelar (M. Hum.), lebih kepada dedikasiku pada jagad sastra Indonesia. Aku akan menerbitkannya dan dibaca khalayak umum. Hal itulah yang membuat aku berpikiran bahwa momen sidang sebagai prosesi meminta pendapat dari para profesor dan ahli di bidang sastra, budaya, bahasa, dan filologi. Momen yang menguntungkan bagiku, sebab bisa dikoreksi para ahli di sela kesibukan mereka. Tentunya, jika saja aku bukan mahasiswa, meminta masukan pada para pakar harus mengantre lama atau merogoh uang untuk memberi honorarium. Sungguh, aku amat beruntung. Terimakasih para dosen pengujiku.

Lah, setelah sesi cerita-cerita akhirnya foto-foto deh. Usai foto-foto dan mau ke kantin, teman-teman angkatan 2014 masuk ruangan, tempat aku sidang tadi, dan memberi selamat. Mereka bertanya soal prosesi dan aku pun cerita (lagi). Tentu hal sama terulang lagi, foto-foto. Hahaha…

Hasil foto narsis dan ketika melihatnya aku jadi terharu. Apakah kamu juga merasa begitu?

image

image

image

image

image

image

image

image

image

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s