Kerja di Mana?

Salah satu pertanyaan yang kerap dilontarkan bila sudah tidak punya topik yakni soal menikah, punya anak berapa, dan kerja di mana. Pertanyaan yang kerap kali saya tidak jawab dengan jujur yakni soal pekerjaan. Saya tidak menjawab jujur karena ada alasan yang kuat. Jika saya jawab jujur pun tidak bisa dimengerti, kecuali hanya mlongo. Sebab profesi menulis merupakan profesi yang belum diakui masyarakat luas, awam. Bagi mereka, bekerja itu ya berangkat pagi dan pulangnya sore hari.

Biasanya saya kerap menjawab kerjaan saya riwa-riwi. Sekali lagi mereka melongo, menunjukkan ekspresi tidak percaya. Namun saya abaikan saja, sebab pernah saya jawab pengangguran malah tidak ada yang percaya dan memunculkan obrolan yang makin panjang. Jidat saya makin mengerut jadinya.

Saya harus memberikan jawaban yang membuat mereka tidak lagi mikir. Diajak mikir ya tidak bisa. Masalah politik dan korupsi saja diabaikan. “Sing penting sesuk onok sing dipangan yo adem pikir Mas.” Itu celetuk tetangga-tetangga saya.

Makanya lebih baik saya jawab sepengetahuan mereka saja, sembari saya perlahan menyiapkan ruang perpustakaan umum agar mereka tahu buku. Ya, cukup tahu saja. Sambil sesekali nanti dijadikan selingan obrolan di warung kopi, “kulo sakniki ngelumpuken buku, ditoto sing rapi, mbok menawi mampir monggo.” Itu jawaban yang akan saya lontarkan sebelum mereka tanya pekerjaan.

Saya tidak ingin proklamir harus baca buku agar hidup lebih baik, punya wawasan, dan jadi pandai. Sebab jalur seperti itu tidak ampuh untuk mengatasi warga desa. Cara terbaik yakni jalur kebudayaan. Masuki pola pikir mereka, ikuti, dan sesekali diberi wacana baru.

image
Itulah rumah saya, di dusun yang jauh dari meramaian. Saya memutuskan pulang dan mau mengabdikan diri di kampung halaman. Salah satunya yakni, ruang tamu rumah mau saya sulap menjadi perpustakaan.

Orang-orang desa itu memiliki kepedulian yang tinggi terhadap sesama. Itulah kuncinya. Pasti keesokan harinya, jika bertemu lagi akan bertanya soal aktivitas. Maka jawabannya, singkat saja dan jangan terlalu panjang. “Injeh Pak, niki kulo nomeri ben gampil nek madosi.” Tentu jawaban mereka hanya manggut-manggut atau sesekali ada lenguhan “oh…”. Begitulah, mereka bertanya hanya basa-basi. Tidak lebih, juga tidak untuk diskusi mengenai ideologi. Lebih enak lagi kalau yang ngajak ngobrol merokok, pasti saya sodori rokok. Kalau sudah begitu, bisa diberitahu lebih, sekali lagi tidak bisa terlalu tinggi, saya cukup berkata “Alhamdulillah Pak, ngeramut buku niku saget ndamel ngopi kalian tumbas ses.”***

Iklan

2 thoughts on “Kerja di Mana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s