Menyendiri untuk Menulis (Lagi)

Saya mulai berkenalan dengan dunia kepenulisan sejak tahun 2000. Perkenalan itu dimulai dari puisi. Kegiatan membaca puisi itu terjadi dalam tempo yang lama, enam tahun. Hah hanya enam tahun?

Sebentar, maksud saya enam tahun itu yakni hanya membaca puisi. Setelah di atas enam tahun, saya sudah tidak setia pada puisi. Saya mulai membaca cerpen, esai, dan novel. Terus sejak kapan mulai menulis?

Saya mulai menulis pada tahun 2003. Kala itu, tulisan saya (mungkin karena banyak membaca puisi) berupa puisi. Tidak dipublikasi, hanya koleksi pribadi dan untuk kekasih.

Tulisan itu saya tulis di buku. Banyak buku. Buku sekolah (oh iya lupa menceritakan, begini: tahun 2003 saya kelas 1 SMA), hampir di tiap buku pelajaran selalu saja ada puisi. Itu membuat saya dijuluki pujangga oleh teman-teman. Konyolnya, itu tidak hanya pada tulisan. Perlakuan saya ikut indah, mengikuti diksi dalam puisi. Saya setiap hari Senin, selalu di saku baju terselip Mawar merah.

Tidak hanya itu, kata-kata sudah melekat di lidah. Entah, saat itu setiap bertemu dengan cewek, diksi langsung tertata rapi dan ngantre untuk diucapkan. Hal itu yang membuat saya dijuluki pujangga, bukan perayu (baca: ngombal). Kok bisa? Karena saya tidak mudah mengatakan cinta atau tidak mengoleksi (gonta-ganti) pacar.

Teman SMA saya, ada juga yang seperti saya, suka ke perpustakaan dan baca puisi juga. Ia bahkan mencatat kata-kata indah di bukunya. Saya berpikir buat apa ya anak ini menulis ulang? Eh, jawaban itu terbukti saat saya tahu sendiri digunakan untuk merayu cewek-cewek. Ceweknya banyak dan gonta-ganti. Itulah yang membuat saya lebih dijuluki pujangga, sedangkan teman saya dianggap play boy.

***

Tulisan saya baru termuat di media pada tahun 2008, Surabaya Post. Sejak itulah tulisan-tulisan saya terus bermunculan di media massa, juga buku-buku kumpulan puisi dan cerpen bersama. Buku tunggal saya baru tiga. Dua buku puisi: Lengan Lirang (2012), Tembang Dolanan (2015) dan satu buku esai: Kredo Mimpi (2013).

Namun aktivitas menulis di media, sudah saya kurangi sejak 2013. Hal itu karena saya ingin banyak yang bisa menulis. Harapan itu saya tuang di KAJ, satu-satunya komunitas sastra independen yang bertahan di Mojokerto hingga delapan tahun. Banyak catatan sejarah yang saya torehkan melalui KAJ, sampai akhirnya saya benar-benar kecewa dengan awak KAJ.

image
Kegiatan yang diselenggarakan KAJ, workshop menulis puisi se-Jatim. Kala itu, saya sebagai pembicaranya.

Kekecewaan itu karena mereka sudah tidak bisa meluangkan waktu demi KAJ. Tentu dengan alasan klise yang sudah tidak perlu saya sebut. Padahal saya sudah mengorbankan kepentingan pribadi (untuk menahan menulis di media dan lebih fokus pada KAJ). Memang, sekarang sudah lahir beberapa nama (semoga saja menjadi besar) yang lahir dari rahim KAJ. Saya amat bahagia.

image
Musikalisasi puisi bareng Sampan Tanpa Lautan (STL), nama yang dipilih KAJ bila diundang atau mengisi musik.
image
Sekali lagi bareng STL, musikalisasi puisi di acara Lesbumi Jatim, Gedung PWNU Jatim depan Masjid Agung Surabaya.

Akan tetapi harapan itu pudar. Sudah hampir dua tahun, KAJ hening sebagai komunitas. Memang secara individu, awak KAJ terus menulis dan tidak bisa dipungkiri sastra adalah kerja individual, beda dengan teater yang merupakan kerja komunal. Namun KAJ sebagai komunitas sudah hampa, semua awak KAJ bekerja secara personal.

image
Rumah Belajar KAJ, program untuk yang mau belajar seni (tari, teater, menulis, dan melukis).

Kejengkelan saya ini, saya tahan sudah hampir dua tahun. Dan memuncak setelah ultah KAJ ke-8 Oktober lalu. Puncak itu, membuat saya memilih menyendiri dan menulis (lagi).

Saya akan memulai kembali mengirim ke media. Meninggalkan mereka (yang sebenarnya harapan saya, saya lebih bahagia membaca nama awak KAJ di media daripada nama saya) yang tidak bisa lagi saya harapkan.

Entah harus berapa lama proses menumbus media (lagi) setelah lama absen. Tentu sudah banyak perubahan dan kebijakan yang berubah. Namun sembari berjuang, saya juga merintis RBAF. Gerakan independen. Tidak lagi berharap pada orang lain, walaupun teman sendiri apalagi pemerintah. Justru RBAF akan berteriak lantang bila oknum pemerintah sudah keterlaluan membodohi rakyat.

Tentu, saya tidak membenci kalian teman. Jika berkenan bergiat kembali di KAJ, mari. Selama tidak ada niat untuk kembali, maka RBAF inilah pilihan saya untuk mengabdi dan berdedikasi. *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s