Buku Pengikat Cerita

Ning, senyummu masih saja menggoda.
Tahi lalat di tengah pelipis matamu membuatku mengembara.
Mengembara di belantara tatapan matamu.

Detak jantungku masih saja kusimpan.
Perlahan ingin kutumpahkan padamu. Dan aku berharap kau juga mau berbagi kisah denganku.

Kisah yang membirukan hariku dan menghapus hitamku. Buku adalah tempat paling syahdu untuk mengadu rindu.
Ijinkanlah aku mengais kisah bersamamu.

Mojokerto, 25 Desember 2016

Lama tidak menulis puisi, rasanya landai. Lepas dari itu, aku memang baru beli buku. Dua. Hitam dan biru. Satu, yang hitam, aku simpan dan satunya, yang biru, aku meminta Ning menyimpannya.

Tentu di jaman serba teknologi sudah tidak begitu berlaku ya menuliskan surat cinta. Namun aku lebih suka dengan surat, tapi karena sekarang mencari kertas surat amat susah. Jadinya aku memodifikasinya, dengan buku.

Tentu, kelak aku dan dia bisa membaca ulang kisah yang telah lalu. Kamu punya cara yang seru untuk mengejar gebetanmu atau dengan kekasihmu?*

image
Saat aku ke toko buku, aku bingung memilih. Akhirnya pilihan itu jatuh pada dua buku ini. Alasannya pertama ada gambar boneka--untukmu--dan yang bergambar ikon paling romantis di Paris--untukku. Tentu harapannya, kita menjadi pasangan yang romantis. Dan aku, seperti yang tertulis di buku, akan selalu merindukanmu Ning.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s