Kopi Kelapa

Pagi yang dingin. Saya kurang begitu suka dingin. Bangun tidur dada terasa sesak. Seusai Subuhan, untuk mengurangi dingin yang menggelayut di tubuh pilihan adalah kopi.

Ketika di dapur, langsung saja panci yang biasa buat memasak air, kebetulan sudah ada airnya, tidak banyak tingkah langsung saja saya taruh di atas kompor. Kopi diracik. Pahit. Selain dingin, kalau soal kopi saya tidak suka manis, tapi kalau soal gadis manis, lain cerita.

Setelah kopi jadi, saya ke kamar dulu. Mengambil smartphone keluaran Smartfren, rokok 234, dan buku kumpulan esai Kondisi Postmodern Kesusastraan Indonesia karya Ribut Wijoto. Tentu, kopi begitu menggoda. Langsung saja disruput. Sruputan pertama, saya tidak yakin. Kembali saya sruput. Rasanya aneh. Masak kopi ini basi. Ibu datang.

“Di panci tadi air apa?
“Bukan air?”

Saya melongo. Kopi saya sruput lagi. Rasanya masih aneh.

“Tadi bapakmu setelah pulang dari pasar, karena terburu-buru air kelapa langsung dituang di panci.”

Buset. Pantes saja rasanya aneh. Air yang saya rebus ternyata air kelapa. Hahaha…

Pagi yang konyol. Dingin mencekam. Daripada jengkel, masak air lagi. Kopi langsung saya buang. Gelas dicuci. Buat lagi. Semoga saja, kondisi sastra Indonesia tidak sekonyol pagi ini, tetapi sesedap 234 yang makin nikmat dari hisapan ke hisapan. *

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s