Teaterawan Berbicara Sastra

Sastra merupakan sarana yang bagus untuk menyampaikan ideologi. Tidak jarang pula, sastra digunakan sarana untuk sebuah pergerakan atau perlawanan. Jika di Surabaya, kita akan menemukan sekelompok orang yang menawarkan gagasan tentang hidup yang rumit dan abstrak dengan dijelmakan dalam puisi gelap. Mereka menamakan diri sebagai Gapus atawa Gardu Puisi.

Sastra memang salah satu sarana yang empuk. Media mengajak seseorang tanpa harus memaksa, serupa hegemoni.Maka dari itu, saya menyimpulkan barang siapa mampu memegangnya, maka ia (sastra) akan menjadi pengikut yang setia. Salah satu contoh sastra dipegang seseorang dari Barat Daya Mojokerto menjadi Sastra Pesantren. Chamim Kohari mengubah sastra menjadi sarana memperpanjang kitab-kitab dan seluk-beluk aswaja atawa sastra religius.

Jadi, tidak heran bila pada sebuah diskusi yang dihelat Minggu, 17 Januari 2016 lalu, teaterawan ikut berlaga dengan medium sastra. Mereka adalah R. Giryadi (Sidoarjo), Anjrah Lelono Broto (Mojokerto), Andhi Setyo Wibowo “Kephix” (Jombang), M. Nur Badri (Mojokerto) dan Rb Abdul Gani (Mojokerto) sebagai pemandu. Para teaterawan tersebut tidak sedang berteater, tetapi berbicara sastra.

image

image

Uniknya acara Terminal Sastra #19 ini, yaitu berbicara dua buku yang berbeda ranah dan bahasa. Ranah pertama tentang drama 3 Lakon Dua Monolog Satu Esai karya R Giryadi yang diulas M. Nur Badri. Ranah kedua, sastra Jawa, crikak (cerita pendek) Mak Sayak lan Hem Kotak-Kotak yang diulas Andhi Setyo Wibowo. Akhir acara para apresiator disuguhi pembacaan geguritan dari Amieng Aminuddin (yang dijuluki presiden Penyair Jawa Timur) yang amat menggeletarkan jiwa dan R Giryadi (yang kebetulan memang wakilnya) turut membacakan, juga pembacaan cuplikan salah satu crikak oleh pengulas, Andhi, dengan sangat ekspresif seperti tatkala bermonolog. Amboi.

Saya sangat merekomendasikan para penikmat sastra untuk mengikuti acara ini, khususnya yang di Mojokerto. Selain, bicara sastra, Terminal Sastra selalu membagikan 20 buku gratis dengan cara diundi. Keren toh. Buat para penulis yang ingin bukunya dibedah, juga caranya sangat mudah. Terminal Sastra, sejatinya sebuah terminal memang muaranya sastra. Dan termasuk acara sastra yang militan di Mojokerto. Sejauh ini, meskipun acaranya di Mojokerto, para pengisinya sudah berskala Nasional di antaranya, Jombang, Sidoarjo, Surabaya, Pamekasan (Madura), Kediri, Trenggalek, dan Solo. Tentu bagi kamu yang tinggal di Mojokerto, jangan sampai melewatkan acara ini. Coba saja lihat pengunjungnya:

image

image

image

image

image

Jika kamu belum tahu, lihat saja brosur ini. Ada info tentang akun facebook, twitter, dan blog Terminal Sastra untuk mengetahui acara-acaranya. Juga ada kontaknya.

image

Bagi para penulis yang bukunya mau dibahas di sini, juga bisa. Basis massa acara ini paling sedikit 20 orang. Setidaknya, inilah salah satu keunikan yang terjadi di Mojokerto. Tempat lahir saya. Di tempatmu apa juga ada acara rutin semacam ini?*

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s