Pagi Penuh Rindu

Waktu yang membuatku dilema adalah pagi dan malam. Kedua waktu itu membuatku cinta dan benci secara bersamaan. Waktu yang tidak bisa aku duakan, sebab memiliki kelebihan yang mampu membuatku tertarik.

Pagi, suasana segar, sinar matahari yang mengandung vitamin D, dan melihat orang-orang menyibukkan diri dengan aktivitas harian. Malam, waktu paling syahdu karena dipenuhi bintang, sesekali rembulan bertandang, nyanyi para binatang yang sahut-sahutan, dan wajah seseorang yang dirindukan datang menjelma bayang-bayang.

Itulah kesukaanku pada keduanya, di sisi lain aku membencinya karena selalu membuatku mengigil menahan dingin. Dada sesak sehingga batuk-batuk (tapi semua ilang ketika aku minum hangat), dan bila dinginnya keterlaluan badanku mendadak linu. Selinu rindu yang tak mendapatkan tempatnya berlabuh. Duh.

Pagi ini, aktivitasku ke Surabaya libur. Treatment Toefl yang aku program di UPN hanya di hari Senin hingga Jumat, tinggal sepekan lagi. Semoga hasilnya mencapai target. Amin.

Akhir pekan ini, membuatku lebih santai dan bisa menyeruput kopi tanpa terburu-buru. Dan agenda pembukaku pagi ini yaitu mencuci, 45 menit yang lalu baju sudah aku rendam dengan diterjen. Masih menggunakan So Klin, tidak pernah berubah. Pernah mencoba berbagi dengan merk lain, tanganku malah pecah-pecah, terlalu panas. Kulitku amat sensitif.

Sebelum mencuci, seperti kebencianku dengan pagi, aku membuat teh hangat dan kopi. Menghilangkan sesak dan batuk. Tak lama menyeruput minuman itu bergantian, kondisi tubuhku mulai menghangat.

Aku pun membantu ibu memasak, membuat bumbu. Ibu menyiapkan ikan mujair dan aku menyiapkan bumbu (kunir, bawang putih, garam, dan jahe) plus menghaluskannya. Sesudah itu, aku duduk di kursi, melanjut nyeruput minuman pekat yang selalu membuatku terpikat, dan ibu yang melanjutkannya.

Sebelum makan, sambal tomat pun disiapkan. Tidak lama setelah itu semua sudah ada di meja makan sederhana kami. Aku dan ibu sarapan, bapak masih ider (berkeliling) untuk berjualan tempe.

Aih, namun semua itu tetap saja tak mampu mengusir rindu dalam kalbu yang amat gemuruh. Sedari malam, Perempuan Cerita tak memberi kabar. Aku merindukannya. Rindu yang menderu. Auh, rasanya dadaku seperti didera genderang bertalu-lalu. Dup. Dup.

Ke manakah kamu Perempuan Ceritaku? Segeralah beri kabar, aku sedari malam berusaha telpon ke nomor Simpatimu  tapi nihil. Aku kirim sms, tidak ada balasan. BBM centang. Duh, rasanya rindu makin menyayat.

Semoga kamu baik-baik saja di sana. Wajahmu sedari dua hari lalu, menjelma dalam ingatanku. Senyummu kekal, tatapan matamu menghujam, dan cubitanmu seperti benar-benar nyata di kala seperti ini. Aku merindukanmu. Nanti malam Minggu, aku ingin bertemu. *

#rindu
#love
#coffee
#cooking

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s