Titik Kontemplasi

Obsesi kadang bisa membunuh. Namun tanpa obsesi, sesuatu akan landai. Segalanya penuh resiko dan aku tahu betul bagaimana medan yang telah kulalui. Tak jarang orang mencibir dan memaki. Aku hanya bisa mendengar dan mengolah apa yang telah mereka lontarkan.

Pada posisi inilah, menjadi sebuah pendengar sangat diperlukan. Aku ingin mendengar bagaimana orang menilaiku. Tentu itu sebagai bekal dan masukan dalam langkah ke depan.

Titik tulisan ini sebenarnya mengarap pada posisiku sebagai sekretaris bidang program Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM). Posisi DKKM saat ini serba sulit. Kita sebuah organisasi yang dilantik oleh Pemerintah Daerah (Bupati) dan secara struktural di bawah naungan Disporabudpar Kabupaten Mojokerto. Lantas aku sebagai ketua bidang program masih sangat awam dengan struktural di bawah naungan pemerintah ini. Aku pun tidak paham betul, bagaimana seharusnya DKKM ini bergerak. Jika sebagai lembaga binaan pemerintah (dilantik) pemerintah, seyogyanya kami diberi dana program atas program yang kita canangkan. Namun kondisinya lain, DKKM pada periode ini (2014-2019) tidak mendapatkan bantuan operasional . Tidak pula mendapatkan biaya hibah, sebab pada peraturan terbaru dana hibah diturunkan pada organisasi yang memiliki badan hukum.

Sebagai sebuah bahan pertanyaan, apakah SK pelantikan yang disahkan bupati tidak bisa diberlalukan sebagak badan hukum organisasi seperti peraturan daerah yang ditetapkan bupati? Jika tidak bisa, SK tersebut fungsinya sejauh mana? Pada titik inilah, aku benar-benar tidak bisa memahami. Lantas, suara-suara di luar banyak beredar bahwa DKKM mendapatkan uang operasional. Byuh. Kita harus berkata apa? Kita bergerak juga terbatas pada dana operasional, lantas ketika kita mandiri, esensi kita sebagai organisasi di bawah naungan pemerintah itu bagaimana?

Di lain pihak, secara internal pengurus masih membawa “bendera” masing-masing. Dan tidak menutup kemungkinan aku juga seperti itu, sebab latar belakangku yaitu dari sastra. Pasti  sebagai promotor semangat, aku akan lebih giat dalam kesusastraan. Sungguh, tidak objektif bukan? Tentu, aku merasakan hal itu. Namun bukan berarti aku tidak berusaha. Sebisa mungkin aku membunuh kepentingan pribadi (baca: sastra), sebab posisiku sebagai bidang program.

Pada titik kontemplasi ini, aku lantas mendiamkan “diri”. Haruskah aku belajar lebih dalam dengan mengundurkan diri dari jabatan atau melanjutkan proses pembunuhan diri dengan terus berjalan dalam internal DKKM? Jujur, bila dibilang enakkah menjabat sebagai pengurus. Tentu tidak, “sakit” iya. Dulu, aku sudah menolak masuk dalam struktur, namun banyak dorongan agar aku masuk. Ah, apakah aku harus masuk? Dulu itu pertanyaanku. Beberapa orang pasrah padaku. Lantas ketika aku dipercaya, apakah aku menolak amanah itu? Ya, akhirnya aku menerimanya dengan resiko sakit. Benar, pesakitan itu benar-benar terasa.

Ya, sejauh ini kadang ingin menjadi seorang individualis. Berproses sendiri dan memperbaiki modal kultural. Tanpa peduli raungan di luar diri, namun ada kalanya dalam diri ini ada bisikan bahwa aku harus berjalan dalam jalan bersama. Ya, namun jika kondisi seperti ini haruskah aku individualis namun menawarkan universalitas? Menurutmu bagaimana?

Iklan

2 thoughts on “Titik Kontemplasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s