Proses, Kontemplatif, dan Kontinuitas

Sembilan tahun berjalan, saya mengelolah Komunitas Arek Japan (KAJ). Sebuah kebahagiaan tersendiri bila melihat teman-teman atawa awak KAJ mulai menemukan “diri” mereka. Saya sejak enam tahun lalu memendam laju diri untuk tumbuh berkembang dengan menanam biji di kebun KAJ.
image

image

Kebahagian seorang penanam adalah ketika melihat biji-biji yang ditanamnya tumbuh. Ya, begitulah saya merasa bahagia melihat awak KAJ mulai tumbuh dan menemukan “diri”. Jourdan Alexander Niagara (itulah namanya, nama pemberian dari orangtua dan sesuai KTP tentunya) seringkali membuat orang tidak percaya jika ia menyebut namanya ketika berkenalan dengan oranglain.

Sejak empat tahun lalu, saya mengenalnya. Saya ingat betul bagaimana sosoknya kala itu, ia selalu saja “nginthel” saya hampir tiap hari. Kadang datang ke rumah, kadang kita menghabiskan waktu di warung kopi hingga dini hari, padahal dulu ia masih duduk di bangku SMA.

Ia memiliki perangai seperti saya. Ia mengingatkan diri ini ketika dulu masih mencari “diri”. Ya, saya juga “nginthel” kepada para seniman, mulai dari penyair, cerpenis, novelis, esais, pelukis, pemusik, teaterawan, demi ingin tahu dan belajar ilmu. Ia juga seperti itu.

Kini @jourdanniagara sudah tidak seperti dulu. Anak yang selalu bimbang dengan pilihannya. Pilihan yang dipilih hanya karena “ingin”. Ia telah matang, seperti pada narasi fotonya itu. Kontemplatif dan tidak terburu-buru.

Puisi dan cerpennya sudah bisa ditemui di media dan buku antologi. Ia kini juga menjabat sebagai biro teater Dewan Kesenian Kab. Mojokerto.

Betapa bahagia saya melihat itu. Melihat Jourdan, Ivandinata, B. Sambudi, Nasrulloh Habibi, yang semuanya memiliki jalan sendiri. Keberbedaan mereka adalah kekayaan buat KAJ. Perlahan, saya berusaha mencarikan jalan buat mereka, tentu jika mereka “mau” menapakinya.

Kadang pilihan saya itu, malah memunculkan praduga jika saya tebang pilih atau prasangka lainnya dari banyak pihak. Tak jarang saya mendapatkan “kata” dari awak atau non-awak KAJ.

Saya berusaha menebalkan telinga saja. Semua itu adalah semacam jalan dan warna dalam hidup. Kini, Jourdan telah tumbuh dan mewarnai khasanah kesenian Jawa Timur, tidak hanya ranah kreatif KAJ.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s