Berbagi Ilmu dalam Forum Uji Kompetensi

Jiwa mengajar telah menancap ke dalam diri saya. Meskipun sudah dua tahun ini, sejak melanjut studi magister, saya sudah tidak mengajar di sebuah lembaga dan tidak berseragam tentunya. Namun saya masih selalu suka dengan aktivitas mengajar.

Mengajar tidak harus di sekolah dan memakai seragam, apalagi memiliki nomor induk dan sertifikat. Bagi saya, di mana dan kapanpun aktivitas mengajar itu bisa terjadi. Doa saya tiap menghadapnya yaitu selalu meminta diberi ilmu bermanfaat dan rejeki barokah. Oleh karena itulah, saya selalu senang bila diminta berbagi ilmu.

image
Surat dispensasi saya saat dimintai menjuri lomba.
image
Para peserta, adik-adik yang merupakan perwakilan dari SD seluruh kecamatan, khidmad mendengarkan petunjuk teknis pelaksanaan lomba.

Kemarin, tanggal 23 dan 24 Maret 2016, saya dimintai tolong untuk menjuri lomba cipta dan baca puisi, juga lomba pantomim. Kedua lomba itu, berbeda hari. Lomba puisi lebih dulu (23/3), baru  hari kedua (24/3) lomba pantomim.

Catatan saya selaku juri pada lomba cipta dan baca puisi yang dilaksanakan Kecamatan Pungging, proses pelaksanaan lomba masih belum spesifik. Hal itu karena panitia masih belum menentukan tema khusus, seperti kearifan lokal yang dijadikan tema Kecamatan Mojosari beberapa waktu lalu.

Hal lain yang membuat saya ngungun, sekaligus memberi PR BESAR (bukan karena saya ketik dengan huruf kapital loh, tetapi membuat saya berpikir soal kejadian itu dengan lebih jeli dan perlu melakukan riset) yaitu tiga poin yang cukup sederhana tapi rumit. Pertama, peserta centil. Peserta ini bernomor urut 18. Ia cacat (calon cantik), kalau gede nanti pasti membuat mata lelaki terjatuh berkali-kali tertuju padanya. Ait, tapi ini bukan karena wajah cantiknya itu, kebetulan kecentilan itu pas dilakukan oleh peserta nomor 18 karena cantik.

image
Tuh kan, centil banget, tahu difoto ia malah menatap ke saya. Dan pas penyerahan hadiah, kebetulan si centil masuk nominasi juga. Ia punya kembaran. Duh, akan ada dua orang cantik yang siap membuat para lelaki nanti klepek-klepek.

Ya, centil identik dengan perempuan cantik. Maksud dari centil itu, yaitu puisi yang ditulisnya merupakan jenis puisi mbeling. Lah, pada poin ini kecurigaan saya muncul, jangan-jangan ini tulisan guru, orangtua atau kakaknya. Habis, nakal banget, bahasanya sehari-hari tapi imajinasinya liar. Ya, sekali lagi saya curiga, tapi jika benar itu tulisannya saya siap membimbing jika ia ingin menekuni dunia kepenulisan.

Kedua, pembaca yang penghayatannya bagus. Peserta ini bernomor urut 27. Lagi-lagi ia perempuan, namun kali ini ia berwajah pas-pasan. Aih, suaranya apik, intonasinya tertata, bahkan rasanya sudah dapet. Saking menghayatinya, airmata si nomor 27 ini hampir tumpah. Ya, hampir, tidak benar-benar tumpah. Ia membacakan puisi tentang ibu. Begitu dapat rasanya, mungkin tema yang memang dekat dengan anak-anak kali ya? Ia bisa menahan, hanya berkaca-kaca saja, sehingga membacanya bisa tetap terkontrol. Dan akhirnya, anak inilah yang menjadi juara pertama.

image
Ini dia anak yang memukai itu, tidak cantik, pas-pasan, tapi ia bisa mengeluarkan segala potensi dan membuat para juri memberi penilaian terbaik.

Ketiga, banjir airmata. Peserta ini nomor urut 29, dua nomor dari sang juara. Entah ini efek dari pengaruh penghayatan dari nomor 27 tadi atau efek dari latar belakang keluarganya. Namun saya menduga ini efek dari latar keluarga. Kala itu, imajinasi saya langsung berlari: jangan-jangan ibunya si anak ini sudah meninggal atau sedang sakit keras. Ya, bayangan itu kuat dalam imajinasi saya. Sebab airmata pada proses pembacaannya benar-benar menggagalkan pesan dari puisi yang ia baca, tetapi lebih kuat sebagai kabar luka darinya.

image
Pukul setengah delapan, ruangan lomba sudah banyak peserta. Langsung saja aku memotret mereka, aih ibu guru cantik kok ikut-ikutan melihat kemari.

Hari kedua (24/3), saya masih datang ke SDN Tunggalpager. Ya, kembali lagi menjuri, namun kali ini juri lomba pantomim. Sekolah yang diundang 29 sekolah, namun yang hadir hanya 16 sekolah. Entah karena faktor apa, saya tidak faham betul kenala 13 sekolah yang lainnya ini tidak hadir. Semoga saja mereka baik-baik saja.

Lomba dimulai tepat pukul 08.00 dan selesai pada pukul 10.00. Saat proses lomba, saya sempat mengupload foto di IG: akhmadfatoni_  (boleh kok di-follow). Lah, dari situ teman wartawan Radar Mojokerto yang kebetulan job-nya pendidikan dan kesehatan tertarik dengan hal ini. Ia pun datang meliput.

Proses penjurian rasanya cepat, mungkin karena banyak yang tidak hadi itu kali ya? Panitia pun bergerak amat cepat, sehingga pengumuman juara pun cepat. Saya dimintai tolong memberikan hadiah pada pemenang dan foto bersama. Semoga saja kesenian di Kabupaten Mojokerto ini makin berkembang dan dicintai banyak orang.

image
Salah satu aksi peserta saat sedang berlaga
image
Saya bersama dewan juri lainnya. Semua rapi, kok saya paling amburadul yak? Hahaha
image
Pemberian hadiah kepada salah satu juara. Selamat ya...
image
Seusai penyerahan hadiah, sesi paling asik ya ini. Selfi. Hehehe
image
Hasil liputan wartawan Radar Mojokerto. Aih, sayangnya ejaan namaku keliru "Achmad Fatoni", hikz

#esai #sastraindonesia #puisi #pantomim #ciptadanbacapuisi #seleksi #pemenang #centil #airmata #cantik #kearifan lokal #kecamatanpungging #kabarmojokerto #berbagiilmu #liputan #radarmojokerto #jawapos #wartawan

Iklan

4 thoughts on “Berbagi Ilmu dalam Forum Uji Kompetensi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s