Menjadi Penulis itu Butuh Kenekadan

Menjadi seorang penulis adalah sebuah pilihan nekad. Apalagi menjadi penulis penuh waktu, tentu tidak hanya kekuatan lahir yang dibutuhkan, tetapi kekuatan batin.

Dulu, untuk menerbitkan buku harus antre dan seleksi panjang. Kadang, naskah ditolak. Bila penerbit mengatakan naskah lolos, kebahagian seolah tumpah di mana-mana. Setelah itu, penerbit membuat ikatan kontrak tentang segala kesepakatan. Salah satunya yaitu royalti (hasil keringat) penulis sebesar 10 persen dan ada juga penerbit baru yang berani memberi hingga 20 persen. Jika oleh penerbit, buku itu dijual 50 ribu, maka penulis mendapatkan 5 ribu. Lah, salah satu buku saya yang mayor adalah Kredo Mimpi.

Saat ini sistem penerbitan makin mudah, ada sistem indie (self publishing) yang tidak harus antre. Namun segala ongkos produksi dibebankan pada penulis. Bila penulis ingin menerbitkan melalui jalur ini, tentu harus menabung atau bahkan puasa berhari-hari demi mimpi bukunya terbit. Buku saya yang indie yaitu Lengan Lirang. Namun beberapa waktu lalu, kawan Mojokerto, Mochammad Asrori mendirikan Serikat Buku (Serbu) Mojokerto. Di mana penulis tidak dapat royalti, tapi dapat buku yang lumayan banyak. Buku saya yang diterbitkan Serbu ini yaitu Tembang Dolanan dan Meja Nomor 8.

image
Salah satu foto sampul buku saya. Foto sampul yang lain menyusul ya.

Karya adalah kebahagian bagi penulis. Ya, kebahagiaan yang sangat, walau kebahagiaan itu sulit ditukar dengan materi. Bila buku terbit, ada rekan, kenalan, saudara setelah buku itu terbit, berbondong-bondong memberi selamat. Tidak jarang pula, meminta buku gratis, terkadang plus tandatangannya.

Namun, hal itu tidak membuat penulis gusar. Ia kerap kali menghormati semua rekan, kenalan, dan saudaranya itu dengan begitu takdim. Senyum pun rekah di bibirnya, sembari tandatangan ia berpesan (dan pesannya selalu saja beda di tiap buku). Salah satunya kadang berisi “semoga bisa memberi manfaat”, atau “semoga menginspirasi”, “semoga bisa menjadi teman paling setia”, dan sederet pesan yang selalu berbeda.

Diapresiasi seperti itu, penulis sudah sangat berbahagia. Tentu, jenis kebahagiaan itu tidak mungkin dirasakan oleh oranglain. Itulah salah satu ketangguhan seorang penulis, ia telah banyak belajar dari hidup. Belajar dari kesedihan, kesusahan, luka, dan airmata.

Ya, itulah yang membuat seorang penulis menjadi seorang yang tabah dan bisa memaknai kebahagiaan sekecil apapun.
Sungguh, itulah kenapa saya bilang memilih menjadi penulis itu butuh kenekadan lahir dan batin. Bila kamu, tidak berani nekad, harap memikir ulang jika ingin menjadi penulis.

Iklan

2 thoughts on “Menjadi Penulis itu Butuh Kenekadan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s