Bercerita Majapahit

Pada postingan sebelumnya, saya menulis tentang catatan dinas luar kedua pada Selasa, 29 Mei 2016. Lah, pada postingan ini saya akan menuliskan catatan dinas luar yang pertama: menjadi juri lomba bercerita.

image
Kepala Dinas Perpustakaan Kab. Mojokerto membuka acara.

Panitia lomba mengabarkan kalau acaranya pukul 07.00 pagi. Pada hari itu, saya harus menjemput Dadang Ari Murtono ke Pacet terlebih dahulu. Maka saya harus berangkat lebih pagi, satu jam setengah sebelumnya. Saya tipe orang yang tidak bisa menahan sarapan pagi. Aduh, namun hari itu saya apes. Nasi habis dan ketika akan berangkat, ibu masih menanak nasi, belum matang. Alih-alih pengganti nasi, maka saya memasak mie goreng untuk sekadar mengganjal perut.

Setelah ritual pagi rampung. Maka berangkatlah menuju rumah Dadang. Ia sudah siap, tidak perlu menunggu lama, kita pun berangkat. Sesampai di pelataran perpus kabupaten, suasana sudah ramai. Ada terop di depan panggung dan sudah banyak guru beserta muridnya di sana.

image
Sesi serimonial yang agak beda, foto-foto di awal acara.

Acara baru dimulai pukul 08.10 waktu setempat. Lumayan pagi, meskipun panitia bilang dimulai pukul tujuh yang berimbas saya tidak sarapan. Panitia tidak peka (ini saya ulas agak panjang agar tidak terulang di kemudian hari).
Ketidakpekaan panitia itu yaitu kalau seniman berangkat pagi hal paling ditunggu adalah kopi. Tanpa menunggu kepekaan panitia, segeralah saya memesan kopi di sebelah Korpri. Pesan tiga, saya, Dadang, dan Mas Ghani.

Kopi tak segera jadi, para dewan juri dipanggil menempati kursi yang sudah disiapkan untuk kami. Serimonial dilaksanakan. Pembukaan, sambutan, doa, dan foto bersama. Kami, para juri, panik sebab kopi belum juga datang. Saya menoleh ke penjual. Penjual menoleh ke saya.

Wah, ini ada yang tidak beres pastinya. Kopi pasti sudah jadi, tapi di warung, tidak dibawa ke lokasi. Tentu saya mengerti dan memahami tata cara plus susila,  meski saya yang memesan, kalau saya ambil kopi itu sendiri panitia akan menanggung malu. Malu karena juri, pesan kopi sendiri. Maka panitia (saat itu Mbak Chusnul) sudah saya bisiki: “Mbak, aku tadi pesan kopi, tolong ya!”

Ia menoleh ke warung. Nampaknya ia paham, namun setelah saya tunggu. Ia tidak beranjak ke warung. Loh, ya opo seh. Duh, sebel aku. Bu Yuli, meminta nama para juri. Saya mencatat nama semua dewan juri dan memberikan ke Mbak Chusnul (lagi), sambil berbisik; ini nama para juri dan aku tadi pesan kopi (ia sekali lagi menoleh ke warung Korpri). Bagaimana? Aku ambil sendiri atau sampean ambilkan? Kalau tak ambil sendiri, panitia pasti malu nanti.

Saya kembali ke sofa. Bu Yuli meminta para juri duduk di tempat yang sudah disediakan. Lomba siap dimulai. Bu Yuli bertanya pada dewan juri, apakah lomba bisa dimulai. Tanpa menjawab pertanyaan itu, sebab saya agak sedikit jengkel, maka saya berdiri dan melewati Bu Yuli sambil berbisik: sebentar ya Bu.

Saya meninggalkan area lomba dan menuju warung Korpri. Saya yakin, beberapa mata telah memandang saya. Ah, biarlah. Kepala ini sudah pusing belum ngopi. Panitia diberitahu (khususnya Mbak Chusnul) tapi tidak peka. Mbok ya nek posisinya itu tidak bisa ditinggalkan, yo koordinasi sama panitia yang lain, bilang kalau juri sudah pesan kopi, tolong diambilkan. Entah bilang ke Mas Andre, Mas Agung, atau yang lainnya. Kok ya, ndak koordinasi, mosok perlu dituntun koyok cah cilik kaet belajar mlaku? Duh. Diberi kode untuk ambil kopi, malah cuma menoleh ke warung. Ndak berdiri. Ya jangan salahkan saya kalau mengambil sendiri.

Dan benar, ketika para guru (peserta tahu) kalau saya selaku juri mengambil dan pesan kopi sendiri. Mendadak riuh dan bersorak. Entah, mereka bilang apa, saya tidak peduli, adanya kepala saya sudah pusing. Butuh segera minum kopi. Waduh pas saya pulang, kok lupa belum bayar kopi. Apakah panitia sudah membayar kopi para juri atau belum ya? Duh, maafkan saya Mbak Penjual Kopi di Korpri, kalau saya ke perpus akan saya bayar bila sama panitia belum dibayar.

Di tengah jalan, Mas Agung menghampiri. Aduh, kok nggak koordinasi sama panitia. Duh, jengkel saya. Lalu saya berbisik: saya sudah bilang Mbak Chusnul, tapi ia diam saja. Ya, jangan salahkan saya kalau akhirnya ambil sendiri. Lalu saya nyelonong menuju kursi juri. Lomba dimulai.
*
Hal mengejutkan yang sempat kami, para juri, bicarakan sebelum lomba yaitu apakah ada peserta yang berani ekstrem dengan properti? Dadang menjawab, aku nggak yakin. Dan ternyata jawaban dadang meleset.

Ada dua peserta yang membawa set properti cukup mengejutkan. Beberapa yang lain, juga sudah banyak memakai baju sewaan. Namun secara esensial bercerita, belum ada properti yang sesuai.

Rata-rata peserta menghadirkan properti sebagai dunia panggung.Properti yang lebih kuat ke arah teater. Ada sebenarnya satu peserta yang membawa hand property berupa gunungan yang dipakai dalam seni wayang kulit. Ah, sayang sungguh sayang, kehadiran gunungan itu kurang dieksplorasi. Hasilnya hanya sebagai sampiran, bukan sebagai properti bercerita.

Lantas properti bercerita itu bagaimana?

Properti bercerita dihadirkan adalah sebagai media untuk bercerita. Jika menyebut contoh yang mudah diketahui, di antaranya boneka Susan, kertas buffallow dan spidolnya Pak Raden, atau boneka kayu si unyil.

Apa bedanya?

Letak berbedaan properti para peserta lomba dan beberapa contoh yang telah saya sebut yaitu mengarah pada esensi. Tentu esensi bercerita, segala properti harus menyesuaikan dengan wujud utama bercerita. Tokoh (atau peserta) masuk sebagai pencerita. Sisi yang paling ditonjolkan yaitu sisi pencerita atau sudut pandang orang ketiga.

Mayoritas peserta lomba Bercerita Majapahit kemarin, melebur dalam cerita. Batas antara pencerita dan cerita (atau tokoh dalam cerita) cair. Lah, pada posisi itulah akhirnya esensi menjadi bergeser. Unsur yang ditampilkan lebih kuat ke arah bermain drama (monolog), walaupun tokoh (peserta lomba) masih memunculkan sisi dirinya sebagai pencerita.

Pada posisi inilah, kehadiran kami para juri (sebagai profesional) bisa melihat dengan jelas. Seluruh beserta belum ada yang bisa total memberikan batas yang jelas antara pencerita dan yang diceritakan. Kami para dewan juri didatangkan untuk memilih lima peserta, tiga juara utama dan dua juara harapan, tentu akan memberi penilaian pada para peserta yang paling mendekati posisi ke arah bercerita.image
Pemilihan ini, kami selaku dewan juri telah memiliki poin (yang sesuai keilmuan dan tidak serta merta menilai), di mana poin itu yang mengisi adalah para peserta sendiri dengan penampilannya. Kita hanya membantu mengisikan pada poin yang tersedia. Jadi, lima pemenang lomba bercerita dengan tema Majapahit tingkat SD/MI se-Kabupaten Mojokerto, bukanlah kami yang menentukan, melainkan para peserta itu sendiri.
Tentu, jika ada yang kritis (dan kebetulan saat itu ada ibu dan bapak yang menemui saya seusai pengumuman juara, mengatakan ingin sharing, tetapi lebih mengarah pada penampilan si juara pertama) akan serta-merta melontarkan pendapat ini dan itu. Lah, kebetulan ibu dan bapak yang menyatakan sharing, jika memang kaidahnya sharing maka lebih ke arah proses, tidak mengarah pada peserta.

image
Para Juara

Jika mengarah ke peserta, tentu nampak bahwa “sharing” tersebut membawa kepentingan pada peserta yang ada kaitannya dengan beliau. Tentu hal itu sudah tidak bisa dikatakan sharing, tetapi lebih tepatnya tinjauan kritis kenapa dewan juri memberi penilaian pada peserta A dan beserta B berbeda atau kenapa peserta C lebih baik penilaiannya daripada peserta D, padahal…bla..bla..bla..

Tentu jawaban saya, akan mengarah pada poin penilaian yang sudah saya singgung sebelumnya. Di mana kolom poin itu yang mengisi bukan kami, tetapi para peserta sendiri. Kami sebagai ahli, hanya menarik dan membagi penampilan  peserta menjadi poin-poin yang sudah ada. Angka untuk pengisi poin itu barulah kami selaku praktisi dan ahli membentuknya.

Kepekaan dan kemampuan kami sudah terasah. Di mana peserta tampil segala modal kulturan dan modal simbolik dalam diri para dewan juri, bekerja secara otomatis. Kami bertahun-tahun sudah melakukan hal itu, sehingga kita disebut ahli.

Tentu penyebutan itu bukan kami yang menciptakan, melainkan makrokosmos yang ada di luar diri dan proses kami (mikrokosmos). Kedua ranah itu, berjalan secara seimbang dan terbentuklah kosmologi yang salah satunya mempertemukan kita (dewan juri, panitia, peserta, pendamping, dan semua yang terlibat dalam lomba bercerita).

Tentu pada tahap itulah, akan terjadi pergesekan ideologi. Di mana secara keilmuan hal itu adalah alur atau pola dari sebuah kebudayaan. Tercipta secara otomatis karena daya, cipta, dan karsa manusia. Proses pembacaan yang secara komplek itu oleh Pierre Bourdieu disebut Arena Produksi Kultural. Kerja intelektual kami, merupakan kerja yang di Indonesia “kurang” mendapatkan apresiasi, namun kami, seniman(wati) dan budayawan(wati), akan terus ada sebagai imagined communities (meminjam istilah Benedict Anderson). Salam hormat kami, semoga hasil karya dan keilmuan kami tidak merugikan masyarakat, tetapi sebaliknya bisa bermanfaat.
Amin.

#storytelling #bercerita #majapahit #warisanbudaya #kabarmojokerto #jurilomba #perpustakaan #dadangarimurtono #akhmadfatoni #rbabdulghani #art #kategorisd #kabupaten

Iklan

2 thoughts on “Bercerita Majapahit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s