Takut kepada Perempuan

Entah kenapa saya amat takut dengan makhluk yang namanya perempuan. Sungguh, saya benar-benar takut. Saya sampai gemetar, berkeringan dingin, dan tidak bisa duduk dengan tenang, bila ada seorang perempuan duduk di sebelah saya.

Namun kejadian itu, beberapa tahun silam, saat masih SMP. Ya, ketika saya ingat hal itu rasanya menggelikan sekali. Seandainya hal itu bertahan sampai saat ini, sungguh sangat lucu. Untunglah ketika SMA kelas 2, sindrom perempuan telah sirna.

Kejadian yang amat sangat melekat di ingatan yaitu ketika kelas 1 SMP. Kala itu, saya disukai teman perempuan tetangga bangku saya. Kita dekat, tapi tidak sebangku. Namanya Cahaya Mata (benar, itu namanya, tetapi frasa itu saya terjemahkan dari namanya yang menggunakan bahasa Arab), teman-teman memanggilnya Cahaya, begitu juga dengan saya.

Cahaya tidak cantik, tetapi manis, senyumnya menawan. Eit, kalau dulu saya pasti tidak bisa berkata seperti ini. Deskripsi ini pun ya karena sekarang sudah berani dengan makhluk bernama perempuan itu.

Seandainya dulu, saya tidak takut, pasti saya akan suka memandangnya berlama-lama. Ya, senyumnya Cahaya sangat manis. Saya beberapa hari lalu bertemu dengannya. Ia memakai baju seragam putih.

Namun, sekali lagi namun, saya saat itu bukanlah saya yang saat ini. Pernah saya digoda sama teman sebangkunya Cahaya. Waktu itu jam istirahat. Kata teman Cahaya, saya dipanggil Widi (teman sebangku saya) yang sudah menunggu di belakang gedung kelas. Lah, namanya teman sebangku (dan saya berpikir Widi mau berbagi jajan), saya langsung saja ke belakang kelas.

Loh, kok Widi tidak ada. Kurang ajar si Hesti, saya dikerjai. Jengkel rasanya. Amarah saya meletup, ingin melabrak si Hesti rasanya. Langsung  saya berbalik, menuju kelas. Uih, betapa kagetnya, Cahaya ada di depan saya. Pas. Wajah saya dan wajah Cahaya sangat dekat, hanya berjarak beberapa centi saja. Maaf, aku nggak ngerti kalau ada kamu tadi. Sembari saya berjalan mundur beberapa langkah. Cahaya masih terus menatap ke arah saya, lalu ia tersenyum (saya takut menatapnya), Nggak apa-apa.

Lalu saya langsung melangkah kaki ke kanan, berniat masuk kelas. Loh, mau ke mana? Sembari melihat ke arah saya yang mulai melangkah meninggalkannya. Saya masih melangkahkan kaki, tiga langkah. Ia berkata lagi, Hemm, gitu ya, disamperin aku malah ditinggal. Dup. Saya bingung. Jantung rasanya mau copot.

Tentu saya sudah dag dig dug, bukan karena disamperin perempuan manis, tapi karena takut. Benar-benar bingung saya waktu itu, antara melanjutkan ke kelas atau kembali ke belakang dan menemani Cahaya.

Namun akhirnya saya memilih kembali ke belakang. Ia duduk, berjongkok dengan melipat kaki, tumit sebagai tumpuan pantat sehingga tidak menyentuh tanah. Saya pun ikut duduk jongkok di sebelahnya. Ada jarak di antara kami, jauh, hampir satu rentangan tangan. Siniloh, kenapa sih, aku nggak gigit kok. Asem. Kurang ajar tenan si Cahaya. Ia tahu kalau saya sedang gugup.

Perlahan, saya pun mulai mendekatinya. Kita akhirnya berjajar, tapi tidak menempel. Ia melihat saya, lalu tersenyum, kemudian menunduk. Duh, aku benar-benar bingung harus ngapain. Rasanya aku ingin bel segera berbunyi.

Saya tidak bercakap. Cahaya pun tidak. Kami hanya diam. Cahaya melihat lagi, tersenyum, lalu menunduk. Terus, ia terus melakukan itu. Saya makin gematar, keringat menetes. Tiba-tiba terdengar suara cekikikan. Dasar, Hesti dan Widi melihat kami dari jendela. Asem.

Bel berbunyi. Lega. Sontak saya langsung berdiri, Ayo masuk. Cahaya pun berdiri. Dan kami pun masuk kelas. Di dalam kelas, Hesti dan Widi masih saja cekikikan. Saya ingin marah, tapi urung saya lakukan karena ada Cahaya.

Mengingat kejadian itu, lucu sekali. Sebenarnya saya sudah lupa sih, tapi gara-gara habis ketemu Cahaya, memori itu muncul kembali. Pertemuan kemarin itu, singkat. Ya, saya jadi ingat waktu itu. Namun bedanya, kali ini saya yang mengawali percakapan: Kerja di mana? Ia menjawab, jadi perawat.

Singkat. Hem, dingin amat. Beda banget dengan Cahaya yang tiga belas tahun dulu. Ia melongok. Oh, dia menunggu bus toh.

Bus sudah nampak di depan, beberapa meter. Kamu sudah punya anak berapa? Dup. Pertanyaannya menusuk. Aku belum nikah, Cahaya. Ia tersenyum, Aku sudah punya anak dua. Tangannya melambai, bus berhenti. Aku tinggal dulu ya. Sekali lagi, ia tersenyum kepadaku. Manis sekali.

Aih, apa ya pertanda senyum itu? Ia sudah punya anak dua loh atau jangan-jangan ia ingat masa kecil di bangku SMP dulu? Ah, entahlah.

#temanlama #memori #ceritaklasik #smp #perempuan #bus #singkat

Iklan

6 thoughts on “Takut kepada Perempuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s