Warisan Sakit yang Lekat dalam Tubuh

Sudah dua minggu lebih, sakit sedang kerasan dalam tubuh ini. Saya benar-benar memanjakan diri. Banyak aktivitas yang harus terbengkalai. Bagi saya ini adalah anugrah (setelah mampu bersyukur tentunya), namun bagi rekan kerja pasti bisa beda.

Beda dalam hal ini, pasti merugikan rekan kerja. Walaupun ada toleransi, pasti kesal dalam hati rekan jelas ada. Jadwal jadi molor, pekerjaan tidak bisa rampung sesuai jadwal. Ya, mau bagaimana lagi. Tubuh saya sedang KO, hanya maaf bertubi-tubi yang bisa terlontar dari mulut ini.

Kemarin, Minggu, 8 Mei 2016, saya baru mengajak tubuh sedikit bergerak dan meninggalkan ranjang juga selimut tebal kesayangan. Saya mengantarkan Ais lomba, Aritmatika. Lomba matematika dasar dengan menggunakan jari. Acara digelar di gedung pertemuan R Ramlan, Jalan Empunala Mojokerto.

image
Edan, ternyata ramai sekali lombanya. Konon pesertanya dari SD seluruh Kabupaten dan Kota Mojokerto.

Entahlah, siapa pemenangnya. Saya dan Ais tidak menunggu sampai pengumuman pemenang disampaikan. Kita pulang setengah satu. Saya pikir, awalnya Ais ingin menunggu sampai pengumuman, eh ternyata tidak. Setelah selesai lomba, Ais saya tanya apakah sudah selesai lomba. Ia menganggukkan kepala. Saya bertanya lagi, “Mau menunggu di sini atau di luar yang lebih dingin?” Tentunya, ia memilih mencari yang segar.

Kita pun berjalan keluar, memecah kerumunan. Satu demi satu, bisa terlewati. Kita menuju Telkom yang berada di sebelah gedung R Ramlan. Saya tidak sempat memotret kondisi di Telkom, jadi tidak ada foto.

“Mau pesan apa?” Ais menggeleng.
“Boleh minum es?” ia menggeleng lagi.
“Kalau begitu, makan saja ya.” saya buka kotak makan dari panitia lomba. Eh, Ais menggeleng lagi.
“Pulang saja kalau begitu ya?”
“Tapi aku pengen pesan mie dulu.” ia mulai tersenyum.

Ya, sudah ia saya minta pesan ke Mbak Penjualnya. Sempat tidak berani, tapi saya rayu.

“Masak keponakan e Lek Oni (iya, dia kalau memanggil saya begitu, hehehe, imut ya) ndak berani. Rugi dong.”

Ia menatap ke arah saya, meminta diantar. Saya meyakinkan Ais, sampai ia berani memesan sendiri. Namun keragu-raguan masih menggelayuti dirinya. Saya berusaha meyakinkan lagi, akhirnya ia pun berdiri dan mendatangi menjual.

Ia memesan mie. Saya melihat saja dari jauh. Penjual mengambil mie rebus. Ais diam saja. Padahal saya tahu, Ais inginnya mie gelas. Lalu saya beri kode dari jauh si penjual dengan tangan saya yang sudah membentuk lingkaran.

Ais masih nampak bingung. Barulah ia saya panggil dan kembali duduk di samping saya lagi. “Ih, tadi diambilin mie bungkus kok diem aja, ndak bilang mie gelas.” Sekali lagi, ia mengeluarkan senyum manis khas gigi bogangnya.

Barulah setelah itu, ia bisa diajak berdialog. Ia bercerita soal lomba. Katanya, waktu terlalu cepat. Ada sepuluh soal dari lima puluh yang tidak terjawab. Nampak sedikit kekecewaan dalam dirinya dan itu yang membuat ia rewel tadi. Saya kembali bertanya padanya, apakah menunggu sampai pengumuman. Ia menjawab tegas, tidak harus, sebab ada teman satu sekolah yang nanti bisa memberitahu. Panitia lomba juga mengajar di sekolah. Jadi, informasi bisa didapat dengan mudah. Ia menjelaskan dengan cekatan. Hebat, ini baru keponakan saya, dalam hati diri ini tersenyum bangga.

Tidak lama, mie pun datang. Saya memesan Capucino.

Untung tadi tidak langsung pulang. Padahal saya ada janji dengan salah seorang guru SD Mlirip. Ia mau menemui dan beli buku puisi saya Tembang Dolanan. Ya, seandainya Ais tadi tidak rewel karena sepuluh soal yang tidak terjawab, tentunya saya lupa dan meninggalkan ibu guru plus mamah muda yang cantik dan mau beli buku saya itu.

Sebenarnya, saya baru kenal beberapa waktu lalu. Ia diberi pin BBM sama teman ngajarnya, yang juga teman saya. Sambunglah akhirnya. So, kemarin adalah kopdar pertama saya dengan Mamah Muda punya anak tiga itu. Iya, dia benar-benar cantik, rambutnya hitam legam, dan tangannya lembut (ini saya tahu karena berjabat tangan dengannya), dan putih (aih, saya termakan produk yang mengatakan cantik itu putih). Saya masih canggung ngobrol dengan ibu dari tiga anak itu. Canggung karena baru kali pertama ketemu. Canggung karena ia cantik, eh cantik atau gara-gara putih ya? Ah, entahlah, saya emang suka melihat perempuan berkulit putih (dan tidak berjerawat).

Kita pun ngobrol basa-basi, sebenarnya semua obrolan itu sudah pernah dibahas di BBM. Saya lebih sering berbicara dengan tidak menatap wajahnya. Ait, tunggu, saya begitu bukan berarti sedang berbohong. Saya kerap tidak berani memandang wajah perempuan lawan bicara saya, apalagi perempuan itu cantik. Tahu ‘kan maksud saya? Ya, seperti yang sudah jamak disebut, dari mata turun ke hati. Nah, kalau turun ke hati beneran berabe dong. Itulah, kenapa jarang saya berani menatap wajah lawan bicara.

Pertemuan itu singkat. Ia lalu menanyakan buku. Aku tandatangan (ia meminta duluan), ya saya berilah, masak saya ndak mau tandatangan. Ia nampak buru-buru, takut suaminya cemburu. Sebab akun BBM saya, katanya sempat dicemburui suaminya.

Loh, bahaya ini. Duh, saya jadi takut BBM Mamah Muda itu lagi. Takut kalau mereka berantem gara-gara saya, walaupun sebenarnya istrinya hanya ingin belajar menulis puisi. Yah, semoga tidak terjadi hal menakutkan itulah. Semoga kalian menjadi keluarga Samawa.

Tidak lama setelah itu, kita pun pulang. Di jalan Ais, rewel, minta dibonceng di belakang. Katanya perut e sakit. Eh, akhirnya ia jujur. Ia kebelet buang air besar. Langsunglah saya belok ke masjid. Duh, saya mendadak seperti seorang ayah. Aduh, mulai Baper nih. Aih, kapan ya jodohku datang? Tuhan, dekatkanlah jodoh hamba. Jika Perempuan Cerita yang saat ini dekat dengan saya adalah jodoh hamba, mudahkanlah jalan menuju ke sana. Amin. Nah, kok malah ngomong ini. Duh.

Oke, balik lagi. Sesudah selesai, Ais saya pamiti dulu. Ia saya minta memakai sepatu dan saya salat terlebih dahulu. Setelah itu, barulah melanjutkan perjalanan pulang. Baru masuk Nanggal, gerimis menghantam. Ais meminta terus jalan. Sepeda motor terus melaju, memburu hujan. Untung, tidak sampai deras dan sampailah di rumah.

Ais makan nasi kotak dari panitia lomba tadi bersama ayahnya, yang sebentar lagi berangkat kerja setengah tiga. Saya ganti baju, rebahan sambil menonton Spiderman yang tayang di Trans7. Tidak lama, ayahnya Ais berangkat kerja. Saya harus kembali menemani ponakan saya itu sampai nanti ibunya pulang kerja, pukul empat nanti.

Ah, tubuh kok masih rapuh. Baru aktivitas begitu sudah payah. Ais saya minta icak-icak, lumayan sudah. Hujan turun dengan derasnya. Kita pun lelap dengan kelelahan masing-masing.

Hujan mereda, saya terjaga. Jam dinding menunjukkan waktu Ashar telah tiba beberapa menit lalu. Mandi dan salat, baru setelah itu menjemput Mbak di toko tempat kerjanya. Baru setelah itu pulang dengan mengobati kangen dengan PC (Penthol Celup). Ada yang suka juga dengan penthol? Kalau kamu suka, harus nyoba PC. Ah, nantilah saya bahas di tulisan lain.

Sampailah di PC, sepi. Saya takut tidak kebagian. Untung ada beberapa porsi. Saya pun kirim pesan kepada teman blogger, mengajak Kopdaran. Eh, ia rewang. Ya sudah selamat rewang.

Habis makan PC dengan sambal khasnya yang puedes. Padahal saya selalu kalau beli dengan sambal medium, kalau sambal yang high gimana pedesnya ya? Kamu harus coba sendiri pokoknya.

Ah, sakit ini belum benar-benar pergi rupanya. Ia masih betah di tubuh ini. Biasanya, sehabis makan langsung merokok, merokok adalah surga dunia bagi saya. Eh, ini kok malah sepoh. Wah, ini tandanya sakit masih saja betah.

Sampai akhirnya saya menulis ini, saya masih saja belum merasakan nikmatnya merokok (lagi). Sekali lagi, ranjang masih saja jadi pilihan tubuh kalau begini. Ah, pancaroba, kau telah menjebol pertahan tubuh saya. Kejam sekali kau. Duh.*

Iklan

12 thoughts on “Warisan Sakit yang Lekat dalam Tubuh

    1. Harus itu, padahal itu tempat rekomended. Ada yang dari Kota Mojokerto, Krian, dan jauh-jauh pade dateng. Ah, kamu yang bertetangga dengan PC, malah belum pernah nyobain. Duh, cobain deh kalau pas pulang. Hehehe

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s