Di Balik Punggung

Suara ayam menyudahi lelap semalam, membawaku pada sisa
kisah di pelipis mata. Hujan pun telah reda, namun dahaga masih
saja tersisa. Andai dua jarum jam
saling berkawan, mungkin aku
akan selalu mengecup sumber
airmu. Ah, ini hanya igauan pada
dingin yang tertinggal
dalam dekapan. Juga degub yang bertekuk lutut pada tatapan mata.

Bila esok langit dan kabut sudah
menentukan jarak. Niscaya kegaiban batinmu menyilaukan
mata-mata busuk dan
menundukkan mata penunjuk.
Di sanalah, kita akan bertemu dan menjarit muasal, juga ikhtiar kerinduan akan dituntaskan. Sisa peradapan adalah saksi paling suci dari dua jarum yang berkejaran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s