Mental dan Karakter adalah Cerminan Alam

Di sini, SDN Mojorejo, dulu saya belajar. Kala itu, saya berjalan kaki dari rumah, beramai-ramai. Jarak antara rumah dengan sekolah sekitar 2 km. Namun dengan segala keriangan, jarak tidak pernah menjadi keluh kesah.

image
SDN Mojorejo tambak depan. Dulu, kala saya sekolah belum ada pagar. Halamannya masih tanah bludukan. Kita kalau mau senam atau olahraga harus disirami terlebih dahulu. Sekarang, halaman sudah di paving. Sedangkan di pojok halaman di bawah pohon palem, ibu-ibu ngerumpi sambil menunggu anaknya pulang sekolah.

Bila terlambat, maka jalur patas pun kita tempuh. Kita lewat pematang sawah, yang bisa memperpendek jarak. Hal yang membuat saya lambat yaitu ketika harus melewati sungai. Tidak ada jembatan, hanya bambu buat saluran air di atas sungai. Kita menyebutnya “wot”, jika melewati bambu itu istilah kita “ngewot”. Tak jarang bambu itu membuat kita terjatuh karena sudah kering dan ringkih. Jika jatuhnya pas pulang sekolah, tidak jadi masalah, tapi jika berangkat, itu masalah besar. Pilihannya, tetap berangkat sekolah dengan basah dan kotor atau kembali pulang.

Ketika masih kelas 1 sampai kelas 3, saya belum berani berjalan di atas bambu itu. Baru ketika kelas 4, barulah keberanian muncul, itu pun berjalan dengan kaki gemetar, hati dag dig dug, dan laju yang kilat. Laju tidak seimbang itu, kerap membuat saya terpeleset ke pematang. Ya, masih untung tidak jatuh ke sungai.

Lantas, bagaimana cara saya melintas sungai sebelum berani “ngewot”. Otomatis, saya melepas sepatu (jika airnya penuh), tapi jika kering tinggal melompat saja. Sedangkan teman-teman yang berani “ngewot” ya enak saja.

Dan tadi, ketika saya fotokopi berkas di depan sekolah SD itu. Saya melihat banyak orangtua sudah berjajar menunggu si anak pulang sekolah. Anak sekarang enak, tidak harus merasakan capek berjalan dan melalui medan yang kerap kali membuat seragam dan sepatu kotor.

Ya, tapi saya bangga dengan proses itu, ketika dewasa ini barulah saya mengerti. Hal itu membuat kita tidak cengeng dan manja. Kita secara tidak langsung dididik oleh alam, selain bapak, ibu, dan para guru.

Itulah yang kerap kali membuat saya maklum melihat generasi sekarang selalu emoh dan tidak suka proses yang berat. Sebab mereka memang dididik dengan cara lemah lembut dan penuh kemanjaan. Ya, semoga saja dari generasi manja kekinian ada yang berjiwa tangguh.

image
Para Bapak menunggu di depan sekolah, di teras rumah pemiliki fotokopi tempat saya menggandakan berkas.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s