Ada Apa dengan Penulis?

Kesekian kalinya saya akhirnya berbicara perihal profesi (pekerjaan) sebagai penulis. Profesi yang bagi kebanyakan orang adalah pekerjaan seorang pemalas karena pekerjaannya hanya duduk berlama-lama di depan meja atau di depan komputer. Mirip seorang pengangguran. Belum lagi masyarakat yang tidak mengganggap pekerjaan seorang penulis.

Ketika orangtua punya anak perempuan dan mau dilamar seorang penulis, orangtuanya selalu menghalangi atau meminta anak gadisnya memilih calon lain yang memiliki pekerjaan lebih mapan.

Fakta-fakta itu banyak saya tahu setelah saya benar-benar menasbihkan diri jadi penulis. Atau fakta dari teman-teman lain yang mempermasalahkan profesinya. Yah, dulu ketika saya masih belajar menulis, hal-hal semacam itu tidak pernah saya pikirkan. Saya hanya berpikir bagaimana caranya agar tulisan saya baik, biar bisa termuat di majalah, koran, atau terbit menjadi buku. Namun setelah keinginan itu tercapai, saya malah menemukan tantangan baru: menghadapi penolakan dan cibiran terhadap profesi penulis.

Padahal untuk menjadi seorang penulis tidaklah mudah. Perlu pengetahuan yang luas agar tulisan menjadi baik. Perlu kerja keras dan membaca banyak buku. Memang aktivitas menjadi penulis tidak dianggap sebagai aktivitas berarti di negeri ini.

Menjadi penulis tidaklah mudah, sangat berat. Jika tidak percaya silakan dibuktikan sendiri. Silakan membaca buku, tidak perlu tebal-tebal, tipis saja. Namun baca sampai selesai atau baca satu bab buku saja. Jika kamu tidak terbiasa membaca, kepalamu pasti pusing, mata berat, dan rasanya sangat mengantuk? Benar begitu? Jika benar, apakah membaca itu pekerjaan mudah?

Membaca itu penting. Apalagi jika kamu beragama Islam, membaca itu diharuskan, iqro’. Lantas masalahnya di mana kok sampai profesi seorang penulis tidak dianggap, dicibir, dan tidak jarang malah dimusuhi? Padahal di era informasi seperti ini, bacaan mampu menginspirasi bahkan mampu menciptakan perubahan.

Pemerintah saat ini pun getol menggalakkan semangat membaca di sekolah, 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Membaca apa saja, harapannya agar terbiasa membaca. Lah, kalau semua diminta membaca tentu ini adalah pekerjaan berarti. Pemerintah menghimbau hal ini karena membaca itu penting.

Jika membaca sudah dianggap penting, tentu tulisan itu penting. Otomatis harus ada penulis yang bekerja dengan segala energi, waktu, dan pengetahuannya agar bermanfaat untuk kemaslahatan umat. Bukan begitu?

Akan tetapi kondisi saat ini tidak begitu. Isu kebangkitan PKI berimbas pada pembakaran buku. Penulis dianggap berbahaya. Karyanya harus diberangus dan ruang gerak penulis dibatasi sedemikian rupa. Ada apakah ini?

Kita kembali pada tulisan yang mampu membawa perubahan karena pembaca terinspirasi. Lalu bergerak melakukan sesuatu atas keinginan sendiri tanpa dipaksa-perintahkan. Tentu ini hal baik bukan? Menurutmu bagaimana?

Jika membawa kebaikan, tapi tulisan dibakar atau diberanguskan, penulis dicibir dan bahkan dimusuhi, jelas ada suatu masalah. Bagaimana menurutmu? Jika menurutmu hal itu benar, berarti orang yang memusuhi adalah orang yang takut akan ada suatu kebaikan secara jamak akan terjadi. Orang seperti itu bagaimana menurutmu?

Lah, tadi saya juga kembali mendapatkan cibiran soal profesi menulis. Saya beberapa waktu lalu membuat media SEPUTAR MOJOREJO bersama beberapa pemuda dan pemudi. Kita menyuarakan potensi dan hal-hal seputar tempat tinggal saya. Lain daripada itu, di desa saya juga sedang ada seleksi perangkat desa. Ketika saya membaca koran, ada berita pungli di desa lain. Lah, saya tidak mau itu terjadi di desa saya. Saya sodorkanlah hal itu ke kantor desa, agar panitia dan perangkat desa tahu. Hal itu tentu tidak akan saya lakukan, jika di kantor desa berlangganan koran.

Kita kerap kali mencibir kinerja pemerintah karena tidak sesuai dengan janjinya. Masyarakat akhirnya antipati dengan politik. Kita menganggap politik kita bobrok. Lantas jika kebobrokan itu diketahui masyarakat karena sudah melek literasi dengan banyak membaca, lalu masyarakat ingin mengubah kebobrokan tersebut dengan melakukan berbagai upaya. Apakah hal itu salah?
*

image
Kiri adalah para panitia dan perangkat desa, kanan para calon perangkat desa.

Kembali pada pemilihan perangkat desa, saya ikut mencalonkan sebagai sekdes dengan harapan saya mengabdikan diri ke desa untuk membangun desa melek literasi dan budaya. Tentu sebagai seorang penulis, saya ingin mengawal proses tersebut agar berjalan dengan sehat. Bukan agar soal saya terpilih dan lolos sebagai sekdes, fokus saya pada desa melek literasi dan budaya.

Proses pengawalan itu saya lakukan dengan memberi kliping koran soal pelanggaran dan terus memantau perkembangannya. Namun, apa yang saya lakukan kok malah mendapat sindiran dan tatapan mata tajam dari beberapa perangkat desa. Apakah yang saya lakukan salah? Padahal secara hukum, saya tidak melakukan tindakan melanggar perdata atau pidana. Hal itu sudah saya konsultasikan ke biro adminitrasi hukum di pengadilan.

Pertanyaan saya, kenapa saya mendapat perlakuan seperti itu? Dan tadi, lagi-lagi saya mendapati ucapan: orang pinter saja tidak cukup, apalagi yang pinter menulis. Menjadi sekdes itu harus faham kepemerintahan dan mau mengabdikan diri selama 24 jam. Lah, itu diucapkan kepada semua calon, namun ketika pada kata penulis, tatapan matanya tertuju kepada saya: pinter menulis saja tidak cukup.

image
Tentu bisa menerka saya duduk di paling ujung dari sekian calon. Lah, pas berkata soal penulis menghadapnya ke arah saya. Saya duduk seorang diri, paling ujung dan jauh dari calon lainya. Sebelah saya, calon perempuan, otomatis saya memberi jeda satu kursi. Jadi, bisa membayangkan bagaimana tatapan itu bukan? Semoga saja, itu perasaan saya. Perasaan kepekaan yang saya dapat dari bertahun-tahun menulis.

Aih, ini saya yang sensitif (semoga saja begitu) atau memang sengaja menyindir saya? Entahlah, semoga itu hanya perasaan saya saja. Saya berusaha berpikir positif. Toh, niat saya untuk desa, untuk masyarakat, seperti janji almamater saya: siap mengemban penderitaan masyarakat.

Tentu, sebisa saya akan mengemban janji tersebut. Saya akan mengamalkan ilmu dan keahlian yang saya punya untuk masyarakat. Saya anggap ucapan itu (ucapan sindiran seorang penulis karena di surat lamaran saya tulis, juga saya lampirkan tulisan yang dimuat media) adalah gemblengan awal untuk menguatkan saya bila kelak diberi amanah, agar kuat mengemban penderitaan masyarakat.

Jika, kelak saya lolos. Saya mohon doanya agar kuat menerima gempuran semacam ini. Semoga saya kuat dan tetap teguh pada pendirian dan tidak mudah goyah. Amin.

Iklan

20 thoughts on “Ada Apa dengan Penulis?

  1. Bener. Penghormat untuk penulis belum ada di negeri kita. Eh.. ga usah penghormatan deh, penghargaan dalam bentuk di”akui keberadaan” aja dulu.
    Semoga istiqamah ya mas menebar kebaikan dan ilmu2nya melalui tulisan πŸ™‚
    InsyaAllah niat baik akan berakhir baik, amanah besar akan ditanggung bagi sesiapa yang Allah percayai mampu. Dan semoga mas orangnya πŸ™‚

    Suka

  2. Astaga ini pengalaman banget. Saya yang baru memulai menulis, yang masih sekolah, ibu saya melarang keras untuk fokus dalam dunia kepenulisan karena alasan tidak jelas jluntrungannya.

    Disukai oleh 3 orang

        1. Jika menulis itu cocok dan pas di hatimu. Lakukanlah, dan perlahan (jangan menggebu) berbicara soal itu kepada orangtua. Sampai detik ini saja, bapakku ora seneng lihat aktivitasku Dis. Nek Emakku, sudah bisa mengerti dan sesekali masih mau baca tulisanku. Duh, rasane suweneng Dis tulisan diwoco Emak iku. Piye ngunu, angel njelasnone.

          Btw, salam kenal. Akhirnya punya kenalan baru dari Magetan. Kalau pas di Magetan nanti bisa punya teman untuk diampiri. Eh, aku ora tahu nak Magetan e. Hehehe. Wes, pokok e salam kenal teko Cah Mojokerto.

          Disukai oleh 1 orang

  3. Padahal kalo kata opa Pramudya Ananta Toer bilang “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah, karena menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Semangat terus yaaa \(^o^)/

    Disukai oleh 1 orang

  4. Amin semoga tetap semangat walau hampir selalu diiringi tatapan aneh. Semoga berhasil.

    Seorang penulis pernah bilang begini. Jika kamu menjadikan “penulis” sebagai profesimu dan mendapatkan uang dari sana, maka tak perlu kamu merasa mulia atau minta dimuliakan. Sebab profesi lainpun sama tingkatannya, yang mempunyai sisi mulia masing-masing.

    Setara begitu menurutnya pak.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s