Efek Puisi dalam Kehidupan Sehari-hari

Semalam, pukul 12, saya baru pulang dari rapat terakhir persiapan acara Tadarus Puisi. Saya masih tidak bisa tidur, akhirnya baca-baca blog teman-teman yang sudah saya follow. Tidak terasa sudah setengah 3 pagi. Akhirnya langsung ke dapur untuk makan sahur.

Sehabis sahur pun, masih belum bisa tidur. Melihat di meja kerja ada undangan. Saya baca dengan seksama. Ternyata undangan tes seleksi perangkat desa. Tesnya diselenggarakan Kamis, 23 Juni 2016 pukul 08.00-10.00 wib, bertempat di Pendopo Desa Mojorejo.

Melihat undangan itu, urung saya tidur. Akhirnya baca-baca arsip soal UU tentang kepemerintahan desa. Saking asiknya, tidak sadar kalau sudah setengah tujuh pagi. Matahari sudah nongol tinggi. Waduh. Akhirnya, saya taruh buku dan bolpen. Langsung meransek ke tempat tidur.

Adan di musalah meraung-raung. Dhuhur. Saya pun mulet sana dan mulet sini dulu, baru dengan agak berat berusaha bangun. Kepala masih pusing, duduk di teras samping sambil menikmati semilir angin. Istilah orang Jawa, njangkepno nyowone. Memangnya kita punya banyak nyawa ya? Ah, entahlah, itu adalah warisan leluhur dan patut kita syukuri sebagai kearifan lokal.

Tentunya, saya terhanyut dengan suasana. Iqomah di musalah pun terdengar. Ya sudahlah, entar aja salat di rumah. Biasa bisikan rasa malas pasti lebih kuat. hahaha

Kembali soal kearifan lokal yang merupakan warisan dari nenek moyang. Tentu di sekitar kita banyak sekali kearifan lokal, dari yang benda hingga takbenda.

Lah, kalau warisan budaya (kearifan lokal) berupa benda jika sudah terdeteksi, dalam struktur pemerintah sudah ada kedinasan terkait yang mengurusi, seperti museum, BPCB, dan Dinas Kebudayaan.

Lah, kalau yang nonbenda inilah yang harus kita selamatkan. Harus kita lestarikan. Bagaimana caranya? Ya, kita sebagai blogger ya mari menuliskan pada postingan kita. Pemerintah, dalam hal ini Kemendikbud sudah membuat tindakan pencatatan warisan budaya takbenda.

Emang buat apa kok dicatat? Ya, biar tidak hilang ditelan gadged dan segala serangan luar negeri dengan tawaran teknologi. Itu adalah salah satu bentuk penjajahan pada Indonesia.

Namun, karena menjajahnya enak, kita jadi tidak tahu kalau sedang dijajah. Tidak seperti jaman mbah buyut kita yang merasakan dijajah sama Belanda dan Sekutu pada jaman itu. Ah, jadi ingat ini: begupon omah e doro, melu nipon tambah sengsoro (Begupon rumahnya burung dara, ikut kerja Nipon hidup tambah sengsara).

Salah satunya bentuk follow up dari pencatatan budaya benda itu yaitu warisan budaya kita akan diakui. Bila di Indonesia sudah diakui, maka sama pemerintah RI akan diajukan ke Unesco. Lah, kalau tahun 2015 kemarin warisan takbenda Indonesia yang diakui dunia via Unesco adalah Kitab Negarakertagama dan Babad Diponegoro.

Tuh, hebat toh negara kita Indonesia ini, meski sampai detik ini mental korupsi masih mendarah daging, tapi setidaknya ada yang bisa kita banggakan. Jadi, ayolah kita melakukan pencatatan dengan membuat postingan di blog.

Apa yang harus dicatat? Ya, apa saja toh itu sudah ada Peraturan Menteri no 106 tahun 2013 yang sudah mengaturnya. Bahkan dasar hukum soal pencatatan ini sudah ditetapkan oleh Unesco tahun 2003 yang isinya tentang Safeguarding Intangible Cultural Heritage. Lalu dirativikasi melalui Peraturan Presiden nomor 78 tahun 2007. Tuh, sudah jelas bukan tentang aturan mainnya.

Waduh, masih belum mudeng.

Oke deh, saya coba jabarkan konvensi Unesco itu. Sebenarnya kalau saya cermati, semua ada di sekeliling kita. Loh masak sih? Iya, coba cermati berikut ini:
1. Tradisi dan ekspresi lisan;
2. Seni pertunjukan;
3. Adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan;
4. Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta;
5. Kemahiran kerajinan tradisional.

Sudah sedikit ada pencerahan? Kalau masih bingung, ‘kan tadi saya sudah menjelaskan Pak Presiden sudah merativikasinya. Jadinya hasil rativikasi itu lebih merakyat dan enak didengar di telinga. Apa saja sih itu? Simak baik-baik ya, jangan ngelamunin wajah pacar (ingat ini puasa loh)  hehehe

1. Tradisi Lisan;
2. Bahasa lokal;
3. Naskah kuno;
4. Permainan tradisional;
5. Seni tradisi;
6. Upacara/ritus;
7. Kearifan lokal;
8. Teknologi tradisional;
9. Arsitektur tradisional;
10. Kain tradisional;
11. Kerajinan tradisional;
12. Kuliner tradisional;
13. Pakaian adat;
14. Senjata tradisional.

Kalau bukan kita, siapa lagi dong. Hayo? Beberapa teman yang blognya sudah saya follow ada yang sudah melakukan. Ya, sudah. Pencatatan kuliner.

Saya juga sudah berusaha memasukkan itu dalam puisi dan pada buku terbaru saya dan langsung saya boikot jadi judul: Tembang Dolanan. Buku puisi saya itu terbit tahun 2015, tapi tidak bisa didapatkan di toko buku. Ya, kalau teman-teman berbaik hati mau membeli, sungguh saya senang sekali. Berapa sih harganya? Harganya 35 K kok, nggak begitu mahal ‘kan?

Isinya tentang apa? Tidak semua tentang kearifan lokal kok, ada juga soal agama, hidup, dan tentunya cinta. Ini salah satu puisi cinta itu:

Secangkir Rindu

Dalam secangkir kopi
aku mencecapmu
Mencecap jejak yang mulai tak terlacak
Semoga dingin tak membuatmu bergeming
tetapi mencipta keping wajahku
yang kaubingkai dalam pekat kopimu

Mojokerto, September 2012

image
Ini penampakan bukunya.

Dan pernah juga kala itu saya mencintai perempuan. Cantik sekali. Saya ketemunya, pas sesi pemotretan. Dup. Saya langsung saja merasa menjadi fotografer yang amat gagap. Padahal biasanya saya tidak pernah seperti itu bila motret model. Entah, kok bisa saat itu saya baper. Duh, asu tenan.

Lantas setelah sesi pemotretan, saya pun minta pin bbm dan nomornya. Anehnya penyair itu ya di sini. Sudah dapat kontak, malah tidak dihubungi. Malahan yang dilakukan pertama, mencari tahu hidupnya. Sikapnya sehari-hari bagaimana. Siapa saja temannya. Yah, mirip tugas seorang detektif begitulah.

Dan kerja detektif itu membuat saya tidak bisa memberikan hati dan perasaan saya padanya. Ya, walaupun saya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Juga kerap merindukan dia sejak sesi pemotretan. Kala, rindu itu numpuk, maka foto hasil jempretan saya itu tersaya pandangi. Tak jemu. Aduh. Jleb rasanya. Rindu itu sakit.

Ya, akhirnya saya pun berani mengatakan soal perasaan ini pada si gadis. Ait, tapi setelah bilang, langsung saya berkata saya tidak mengharap kamu mencintai atau menerima cintaku. Bagiku, aku menyatakan perasaanku dan kamu tahu perasaan yang ada dalam hatiku, itu cukup.

Saya tidak tahu, ia bingung atau menganggap saya aneh. Terserah. Dan yang penting saya mencintainya, tapi karena saya sudah mencari tahu perihal dirinya. Saya memutuskan untuk tidak mengejar cinta itu. Dan saya tuliskan ia puisi ini:

Sektet untuk El

El, nampaknya debar di hati ini harus dipadamkan
Kita tidak berjalan di jalan yang sama
Dan aku akan kembali pada belantara kata
Sampai jumpa di waktu lain yang tak terduga
El, semoga kautahu
Rindu bukan untuk diburu

Mojokerto, 28 Nopember 2013

Yah, pokoknya masih banyak kisah yang sudah saya puisikan. Soal doa, kematian, tembang dolanan, imsak, catatan tentang kota di Indonesia yang pernah saya singgahi, dan masih banyak lagi.

Jika mau beli, bisa nanti bonus tandatangan. Bisa dikirim ke mana saja? Ya, bisa ke seluruh Indonesia dengan catatan yang terjangkau Pos Indonesia dan ekspedisi pengiriman barang tentunya. Ya, nanti kamu tinggal kirim alamat, saya cek harganya. Kalau sudah ketemu, ditambah harga buku, itu yang perlu kamu bayar. Transfer ke saya, kamu kirim alamatmu. Buku saya kirim, kalau sampai konfirmasi. Syukur kalau bisa memberikan foto bareng buku.

Yah, begitulah. Itulah saya dan puisi. Semoga tidak terlalu ngateli. Begitulah adanya, efek puisi dalam kehidupan sehari-hari saya. Tabik.

Iklan

4 thoughts on “Efek Puisi dalam Kehidupan Sehari-hari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s