Surat untuk El

Sebuah catatan yang saya tulis untuk kumpulan puisi Catatan Hati karya Mulia Ahmad Elkazama, terbit tahun 2016. Catatan yang akhirnya dijadikan prolog dalam buku tersebut.

Judul: Catatan Hati: Kumpulan Puisi
Penulis: Mulia Ahmad Elkazama
Penerbit: MNC Malang
Tebal: xii+100
Ukuran: 13×19 cm
Kertas: bookpaper
ISBN: 978-602-6931-72-6
Harga: Rp35.000

image

Catatanmu telah sampai pada malam ke-22 di bulan paling romantis ini El. Dan pada malam yang sama pula, aku telah rampung membaca enam tahun catatanmu itu. Catatanmu gurih dan renyah, walaupun ini musim penghujan.

Aku tidak ngiyal-ngiyal saat mengunyahnya, ya seperti kataku tadi, catatanmu gurih dan renyah. Nampaknya hujan tidak membawa dampak besar pada catatanmu, Catatan Hati, sehingga aku bisa melahapnya tanpa tersedak.

   El, aku menemukan sebuah keteguhan dalam Catatan Hati. Keteguhan seorang petualang. Tidak hanya itu, kamu juga mencatat segala hal yang penting dan bahkan yang tidak penting bagi orang lain.

Tentu itu hal yang patut diberi acungan jempol. Kautahu El, Negarakertagama yang berkisah tentang Majapahit itu juga merupakan catatan Dang Acarya Nadendra atau yang saat ini dikenal dengan Empu Prapanca. Catatan Prapanca itu El, saat ini menjadi rujukan paling tepercaya bila menyoal Majapahit.

Lebih mengejutkan lagi El, Negarakertagama pada tahun 2015 lalu dinyatakan sebagai MOW (Memory of The Word) oleh UNESCO. Padahal tahun 2005 lalu oleh UNESCO Negerakertagama dinyatakan sebagai MOW hanya untuk wilayah Asia Pasifik. Maka dari itulah, catatan bagiku adalah sesuatu yang penting El.

Catatanmu ini, tentu adalah sesuatu yang penting El. Sebab mencatat adalah pekerjaan yang kerap kali diremehkan, namun sebenarnya adalah pekerjaan pendokumentasian yang tidak boleh diabaikan peranannya. Saking pentingnya El, pemerintah saat ini melakukan pencatatan untuk warisan budaya takbenda yang target akhirnya akan didaftarkan ke UNESCO, seperti halnya Negarakertagama.

Aku berpesan, semoga kamu tidak berhenti dan terus melakukan pencatatan El. Namun catatlah sesuatu yang tidak hanya tentang dirimu, tetapi catatan yang memiliki kepentingan banyak orang El.

Ya, seperti catatan yang kausebut BENCANA NEGERI TERCINTA, aku ngungun membacanya. Katamu, “Ada apa dengan negeri kita/Bukankah bersemboyan bhineka tunggal ika”. Ya, catatanmu itu (bisa) mengingatkan kita yang (mungkin) lupa kalau kita ini amat beragam. Mungkin semboyan itu sudah mulai memudar di hati kita El, ya mungkin.

Jika kau ingat tentang LGBT yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan di media, tentu itu adalah salah satu keragaman kita El. Tapi apakah semboyan itu berlaku El? Ternyata tidak ‘kan. Cemoohan dilontarkan bagi keberbedaan itu, padahal jika kita mau merenung, perbedaan itu juga diciptakan Tuhan bukan? Lantas kenapa kita berburu kebenaran atas persepsi sendiri?

Entahlah El, semoga kita selalu dilindungi dari mencemooh perbedaan dan merasa benar sendiri. Setidaknya, aku kerap berterimakasih pada fenomena-fenomena semacam itu El, sebab kerap kali membuatku bertanya pada diri apakah sudah benar. Itulah El, yang membuat aku kerap takut menyalahkan oranglain.

Itu pulalah El, yang membuatku takut berbicara tentang catatanmu perihal kerinduan dan rasa cintamu. Ya, aku takut El, tapi mohon maaf aku hanya ingin menyampaikan sesuatu kepadamu.

Sesuatu yang sebenarnya juga bukan dariku, tetapi pesan Rainer Maria Rilke dalam suratnya yang ditulis kepada Xavier Krappus pada tahun 1903. Jika kau ingin tahu El perihal maksud Rilke itu, setidaknya kau bisa membaca dalam bukunya Hasan Aspahani Lelaki yang Dicintai Bidadari.

Sebenarnya El, pesan itu bukan ingin kusampaikan kepadamu, tetapi pada diriku sendiri. Sebab kerap kali aku tidak kuat menahan untuk tidak menulis sajak cinta ketika jatuh cinta. Ya, itu berat El.

Itulah kenapa aku menyampaikan pesan ini kepadamu (yang sebenarnya kutujukan pada diriku sendiri), agar aku selalu berhati-hati dan mawas diri. Dan jika terpaksa menuliskan sajak cinta, aku akan lebih waspada pada kata-kata yang kupilih. Biar tidak jatuh pada kecengengan yang tidak semestinya.

Sajak cinta memang selalu menarik hati El. Salah satunya yang membuatku saat ini tak sabar menanti adalah penantian sajak-sajak M Aan Mansyur (MAM). Sajak-sajak MAM masuk dalam film besutan Mira Lesmana Ada Apa dengan Cinta yang direncanakan tayang di bioskop 28 April tahun ini.

Ternyata MAM itu nakal. Ia tidak hanya membiarkan sajak-sajaknya hanya ada di AADC. Ia pun berencana menerbitkannya menjadi buku, Tak Ada New York Hari Ini. Tentunya, aku merekomendasikan kau membaca puisi MAM itu.

Lepas dari itu, aku suka dengan catatanmu yang nakal dan sedikit liar. Ah, tapi sebenarnya aku mafhum kenapa sajak-sajakmu teramat santun. Tentu (jika dugaanku tidak meleset) karena profesimu sebagai guru itu.

Ya, seorang guru memang dianggap tabu bila mengatakan sesuatu yang dianggap “nakal”. El, kamu perlu membaca karya-karya yang juga seorang guru tentunya, biar kamu memiliki wacana bagaimana seorang guru bersikap dalam tulisannya.

Setidaknya nama-nama yang bisa kamu telusuri di antaranya Budi Darma, Wawan Setiawan, Sindu Putra, Mardi Luhung, dan Yusri Fajar. Tentu selain nama itu, masih banyak lagi penulis yang juga menjadi seorang guru dan kamu bisa memburunya suatu ketika nanti.

El, melalui catatanmu ini aku tidak menemukan bara api yang bisa membakar dirimu. Aku tidak menemukan dirimu menggebu dalam dunia kepenyairan yang hingar-bingar. Aku hanya menemukan benih-benih yang berserakan yang kelak pasti akan tumbuh, sebab dalam pandanganku (jika memang engkau menggebu) jalan itu pada jalan seorang guru.

Justru untuk itulah, aku memintamu menanam benih yang baik. Benih yang jika tumbuh akan menjadi tetumbuhan yang menawan. Semenawan catatanmu tentang rindu “Pada cecap rindu secangkir kopi/Senyum manismu melumat bibir ini.” yang membuatku tertawan.

Eh, tapi jangan berpikir “keliaran” yang aku maksudkan seperti itu, jangan terburu-buru. Menawan yang aku maksudkan itu tentu memiliki daya pikat, seperti tatkala engkau merindu Muhammad: Sungguh, aku rindu padamu/Melebihi rindu seorang ibu. Ya, kerinduanmu pada Muhammad itu menawan, liar, dan nakal.

Ya, setidaknya yang perlu kau ingat El teruslah membaca dan mencatat. Jangan pernah peduli apa-apa yang akan terjadi. Cukup percayalah bahwa membaca dan mencatat adalah sesuatu yang memang sedari dulu dianjurkan kepada kita.

Sebuah anjuran, tentu positif selama kita tidak menafsirkan dengan cara pandang keliru. Ya, setidaknya surat ini bisa membuatmu terus mencatat dan waspada, juga tidak terburu-buru.

Mojokerto, Pebruari 2016
Salam
Akhmad Fatoni
(Penulis, penerbit, dan editor)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s