Seleksi Perangkat Desa

Seleksi Perangkat Desa
Di Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, Propinsi Jawa Timur, Juni 2016.

Sejak kecil saya amat tidak suka dengan politik. Hal itu karena saya selalu melihat di tivi tentang perpolitikan yang selalu saja korup. Tontonan demi tontonan itu membuat referensi dalam kepala saya makin menguat. Pola semacam itu terus melekat sampai saya lulus dari perguruan tinggi tingkat pertama Unesa.

Tentu sebagai seorang alumnus sebuah perguruan tinggi, kewajiban saya yaitu mengamalkan ilmu yang didapatkan. Namun sebelum lulus, saya sudah mengamalkan sebagian ilmu melalui menulis. Juga pada semester akhir karena saya menulis, sampailah pada kantor redaksi harian Duta Masyarakat. Saya bekerja di sana kurang lebih satu tahun sebagai editor atau korektor bahasa.

Duta Masyarakat membuat membuat saya tahu pola, kinerja, dan pandangan sebuah media. Saya percaya setiap media memiliki visi dan misi berbeda, namun saya tetap berkeyakinan berbedaan semencolok apapun benang merahnya pasti sama. Di sanalah saya dapat ilmu baru.

Setelah itu, pas bareng lulus kuliah, saya sudah tidak di Duta Masyarakat. Saya mendapatkan tawaran berlabuh yang baru. Tawaran ini berbeda dari yang pertama. Saya masuk lembaga pendidika, mengajar. Yayasan yang memberi saya pengalaman dan kesempatan itu Amanatul Ummah.

Di Amanatul Ummah atau biasa disingkat AU saja biar lebih mudah mengucap, terdapat banyak sekali lembaga. Saya baru kali pertama itu, melihat sebuah yayasan yang dengan tempo sesingkat-singkatnya bisa melahirkan lembaga baru. Mirip pengantin baru yang bisa dalam semalam menuntaskan beberapa ronde. Segila itu. Selain mengajar, saya dapat banyak pelajaran di sana, salah satunya politik. Edan bukan, sebuah lembaga pendidikan ternyata mengajarkan saya sebuah politik.

Saya akhirnya tidak betah di sana karena arus politiknya yang begitu besar. Saya beberapa kali membicarkan perihal rencana resign kepada teman guru dan orang yang membukakan pintu saya di AU. Alot, tidak ketemu pintu keluar. Saya masih harus di sana dengan segala tekanan batin karena menahan gejolak politik yang sedari kecil tidak saya suka. Asu.

Sampai akhirnya, 2013 lalu, saya punya jalan keluar yang jitu. Jalan keluar akibat patah hati. Loh, asu tenan toh jalan keluarnya. Keluar dari rasa sakit, kudu merasakan pesakitan dulu. Mbuhlah, hidup kadang memang menyakitkan.

Lah, saya sebagai korban patah hati akhirnya mencoba mendaftar studi tingkat dua di Unair. Dan dhilalah, kok ya diterima. Gila. Ya sudah, bekal tabungan yang sudah dititipkan ke saya sama Tuhan untuk meminang pacar, akhirnya buat kuliah. Soalnya pacar sudah jadi mantan dan cara move on yaitu dengan kuliah lagi. Ternyata cara move on itu mengangkat saya dari dua pesakitan. Pesakitan karena mantan dan pesakitan karena politik di yayasan yang makin edan.

Biaya kuliah mahal. Tabungan cukup untuk registrasi dan bayar semester pertama saja. Semester dua dan seterusnya belum ada. Yo ben. Pokok budal. Dhilalah, Gusti Pengeran iku ancen wes bagi rejeki kepada hambanya semua. Termasuk saya ini. Pintu rejeki datang tidak bisa diprediksi. Kadang dari menulis, kadang dari penerbitan, dan even kesenian. Klop. Akhirnya 2016, tepatnya 20 Maret saya diwisuda. Ngumun asline. Kok isok? Yo embuh.

Tapi nak Unair dua tahun itu membuat pola pikir saya banyak berubah. Pola pikir dirombak 360° sampai saya akhirnya bisa menelaaah perihal politik dan segala polanya.

Dulu saya yang amat membenci politik akhirnya bisa memahami bahwa hidup itu perlu kerja politik untuk menjalankan rutenya. Jika tidak, rute tidak berjalan, macet, tentu jika seperti itu kondisi jadi makin ruwet.

Politik yang akhirnya membuat saya perlahan menerima keberadaan dirinya (yaitu politik) adalah via politik kebudayaan. Ada dan itu sejak dulu. Unair mengajarkan saya banyak hal, terutama tentang kebudayaan, sebab memang saya mengambil jurusan kajian sastra dan budaya.

Selama di Unair, pola pikir saya berkembang. Saya mulai menerima politik masuk dalam hidup, pikir, dan jiwa saya. Arus politik yang saya terima pertamanya yaitu masuknya saya pada Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM), Lesbumi Mojokerto, dan Lesbumi Jatim.

Ketiganya memang hanya organisasi, tetapi ketiganya adalah organisasi di bawah naungan pemerintah. Itulah akhirnya saya menamai pergulatan politik pertama. Dan pada tahap itulah saya bisa mengerti seberapa pentingnya politik. Dan saya setuju John F. Kenedy yang mengatakan “jika politik bengkok, maka puisi meluruskannya.” Politik di Indonesia ini memang sedang bengkok, sebengkok-bengkoknya. Itulah perlu ditulis puisi sebanyak-banyaknya. Puisi yang ditulis oleh penyair yang mau peduli dan mengamati politik, seperti WS Rendra dan Wiji Tukul.

Saya sebagai penyair dan mulai mau memperhatikan politik. Maka saya harus tahu apa-apa dan bagaimana kinerjanya. Sebagai seorang awam, masukkan saya pada politik terkecil yaitu di tingkat desa.

Saya mendaftarkan diri sebagai calon Sekdes. Tentu sebagai penyair, niat saya akan meluruskan yang bengkok. Semua proses saya kawal dan lancar. Namun dalam proses pengawalan itulah, satu dua data mulai masuk. Arus positif masih ada, tapi dibungkam dengan arus negatif yang lebih besar. Cukup sebagai data.

Proses seleksi berjalan hingga tahap akhir. Ujian tulis. Di sinilah pola itu muncul. Pola seperti belut yang sulit ditangkap. Kejadian aneh yang bisa saya tangkap yaitu berkas ujian tulis dibakar. Lah, apa ini benar aturannya begitu? Apa dalam pelaporan berkas ujian tidak dilampirkan?

Selain itu, ketika saya dan para calon lain melihat njomblangnya hasil ujian. Selisih sangat jauh. Secara nalar ini tidak logis. Kita mulai gumun dan usullah saya pada panitia. Meminta agar peserta dalam pengoreksian diberi soal, agar kita bisa mencocokkan. Anehnya, sekretaris panitia menjawab, peserta tidak boleh mengurusi soal, itu mengacu pada tata tertib. Lah edan toh? Padahal saya baca di tata tertip tidak ada bunyi pasal yang berbicara seperti itu. Adanya hanya panitia menjamin kerahasiaan soal.

Kita sebagai peserta, tidak membahas hal itu: soal kerahasiaan. Kita tidak tahu cara membuktikan kerahasian soal. Jika kerahasiaan hanya dibuktikan dengan amplop soal yang tersegel, tentu itu pembodohan. Apakah di jamin soal itu tidak bocor sebelum disegel? Bagaimana kira-kira panitia dan tim pembuat soal yang terdiri dari para pegawai kecamatan membuktikan itu?

Toh dalam forum, sebelum ujian berlangsung panitia dan tim dari kecamatan hanya menunjukkan bukti   segel pada amplop saja. Adakah pembuktian tidak ada kebocoran sebelum soal itu disegel? Atau karena alasan itukah ketika kita meminta soal dibagikan agar kita bisa koreksi jawaban tidak diperbolehkan, yang konon mengacu pada tatip tapi tidak ada pasal yang menyebutkan itu?

Yah, jika itu bisa dijawab. Kita akan legowo. Bahkan jika saya diusut karena tulisan ini, maka aju banding saya: mari calon yang menang diuji ulang dengan saya.

Ketika sepulang dari panggung perpolitikan desa. Banyak orang menanyakan hasil. Ada punya yang mengolok-olok. Ada yang langsung bilang kalau tidak punya uang, pasti tidak akan menang wong tes itu cuma formalitas dan pemenang itu sudah ada sebelum tes dilaksanakan. Bajigur. Kok bisa ada pendapat seperti itu? Tentu itu bukti bahwa masyarakat ini cerdas.

Ya, tentunya tulisan ini sebagai jawaban kepada semua orang yang bertanya soal seleksi kepada saya. Jika masih ada yang bertanya, saya akan menjawab: “Silakan baca status fb saya.” Jika ada yang bilang, tidak punya fb, maka datanglah kepada pemuda atau pemudi, minta mereka buka akun mereka, lalu carilah akun saya. baca. selesai.

Soal keterlibatan saya dalam seleksi, maka akan saya jawab. Jawabannya,  saya mau mengabdi pada desa. Membangun desa saya melek literasi dan budaya. Tentu selain itu, meluruskan yang bengkok. Saya tanpa jabatan perangkat desa, saya akan tetap mengabdikan diri untuk desa. Soal rejeki, Gusti Pengeran wes ngatur. Dadi cukup. Inilah kondisinya, mari kita tata bersama.

Berikut ada beberapa foto proses seleksi dari awal:

image
Ruang kantor desa. Proses menunggu bakal calon mendaftar.

image
Pembekalan kepada seluruh calon oleh panitia dan perangkat desa.
image
Pengukuhan Calon, dihadiri Pak Camat dan staf-stafnya.
image
Tes komputer, word dan excel, kepada calon sekdes.
image
Lembar jawaban ditempel di papan, dikoreksi secara terbuka.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s