Tidak Suka Kekerasan

(Foto tersebut dapat dari teman via WA ketika ia menemukan di akun facebook, saya membagikan link sebuah berita online dengan penuh kekesalan. Link itu saya tautkan di akhir postingan ini. Dan cerita ini saya buat, juga karena ada komentar di facebook saya yang tidak setuju dengan tindak kekerasan dalam mengajar. Memang sih, tidak baik dengan kekerasan, tetapi poin saya tidak pada itu. Sampai akhirnya, saya menuliskan cerita ini untuk ibu tersebut. Semoga saja si ibu membacanya.)

Ada seorang ibu yang baik hati. Ia tidak suka melihat cara guru yang mendidik dengan kekerasan. Ia tidak suka karena dirinya selalu menerapkan mendidik anaknya dengan lemah lembut. Sampai akhirnya muncul kabar kekerasan guru terhadap siswa. Namun ibu yang baik itu tetap saja tidak suka dengan cara kekerasan dalam mendidikan.

“Wong saya saja tidak pernah menjewer anak saya walaupun dia nakal.” begitu ujarnya.

Memang ibu yang baik itu, memilih mendidik dengan menasehati. Ia merasa bangga, karena anaknya selalu bisa dinasihati. Jadi tidak perlu diberitahu dengan cara kekerasan, cukup dengan dinasihati.

Lah, si anak tentu juga anak yang baik. Kacang ora ninggal lanjaran.  Anak yang baik ini tidak suka membantah. Sebut saja namanya Fadli. Ia selalu mendengarkan dan mengiyakan ucapan orang yang lebih tua. Fadli ini pemendam yang baik. Termasuk memendam nasihat dari siapapun dan omelan dari siapapun. Tiada anak yang mampu memendam sebaik Fadli. Teman-temannya pun mengakui hal itu.

Namun rahasia Fadli, hanya Fadli yang mampu mengetahui. Segala sesuatu itu diciptakan berpasang-pasangan. Ada masuk, ada keluar. Ada memendam, pasti ada memuntahkan. Sebaik-baiknya Fadli menyimpan, akhirnya tidak kuat juga. Ia ingin memuntahkannya.

Kejadian itu bermula, ketika Fadli meminta dibelikan seperangkat alat menggambar kepada ibunya yang baik itu. Ibunya kurang begitu suka kalau melihat Fadli menggambar. Ibunya yang baik itu lebih suka melihat Fadli belajar agama dengan tekun. Fadli sebagai anak yang baik, selalu menuruti kemauan ibunya. Tiada anak yang sebaik Fadli memendam sesuatu. Fadli pemendam terbaik. 

Melihat hal itu, ibunya yang baik, sangat bahagia. Dibelikan Fadli baju koko, sarung, al-Quran, dan buku-buku tentang agama. Jika ada video tilawatil Quran, seberapapun mahalnya pasti akan dibelikan oleh si ibu. Ibu yang baik itu, ingin kebaikannya menurun kepada anaknya.

“Bu, kemarin aku lihat kakaknya Zon, yang kuliah di seni rupa, punya bolpoin lengkap sekali. Ada ukurannya. Kakak Zon, juga menjelaskan fungsi bolpoin yang berbeda-beda ukurannya itu. Aku melihat, memang bagus hasil gambarannya. Waktu aku tanya, kata kakak Zon satu set harganya 750 ribu. Belikan ya Bu.” bujuk Fadli.

“Ibu nanti belikan al-Quran yang ada suara tilawahnya saja ya, nampaknya ada promo. Nanti ada suara mp3 orang baca Quran, tiap kali kamu menunjukkan alat itu ke ayat di Quran. Biar mahrojil huruf-mu semakin baik. Harganya juga lebih mahalan ini daripada bolpoinmu Nak.” rayu ibunya.

“Memang berapa Bu?”

“Harga promonya, 2,7 juta Nak.”

“Oh, iya Bu. Terserah ibu saja.” pasrah Fadli.

Si ibu yang baik itu, senang melihat anaknya menuruti kata-katanya. Ia memeluk Fadli dan mengelus-elus rambutnya. Ya, bukan Fadli kalau tidak mampu memendam dengan rapi. Sekali lagi, Fadli memendam keinginannya itu dengan rapat.

Esoknya, jiwa Fadli amat berkecamuk. Fadli mengajak Zon ke kamar mandi. Fadli ingin membasuh mukanya dengan air, biar segar. Ketika masuk kamar mandi, Fadli tiba-tiba menemukan pojok paling estetis. Pojok kamar mandi.

“Kamu balik ke kelas duluan.” ucap Fadli kepada Zon.

Setelah Zon keluar, Fadli langsung mengeluarkan bolpoin yang selalu ada di saku celananya. Fadli belum pernah melakukan ini sebelumnya. Biasanya ia hanya menggambar di buku-buku pelajarannya. Namun karena ia suntuk, sebab tidak dibelikan bolpoin untuk menggambar, jengkel pun tiba. Pojok kamar mandi pun jadi pelampiasan.

Tembok yang putih bersih mulai dicoret-coret sama Fadli. Garis demi garis sampai menjadi bentuk. Ia menggambar amat besar. Pojok kamar mandi yang lebarnya 2×3 meter itu dipenuhi dengan gambar. doodle. Ia menggambar semut-semut kecil, banyak sekali. Berjajar. Sampai pada ujungnya, terlihat pasukan semut itu mengangkat sesuatu.

Ketika dilihat sekilas, tidak nampak, lazimnya doodle memang seperti itu. Ketidakberaturan. Namun bila cermat, maka akan nampak semut itu membawa bolpoin. Ya, bolpoin bukan makanan.

Sehari-dua hari, tidak ada keanehan. Banyak anak yang tahu, guru-guru tidak ada yang tahu. Sebab gambar itu ada di kamar kecil siswa. Sampai akhirnya, kamar mandi bergambar keajaiban tangan Fadli itu membuat siswa lebih suka ke sana daripada ke kamar mandi lainnya. Para siswa lebih memilih antre. Walhasil, mengularlah antrean. Melihat pemandangan itu, guru piket curiga. Ada apa ini?

Datanglah guru piket. Tanpa bertanya, sang guru langsung masuk ke kamar mandi. Betapa terperangahnya ketika melihat dinding tembok kamar mandi sudah tak lagi bersih. Sebagai bukti, dipotretlah gambar itu.

Gosip menyebar. Tiada yang tahu gambar itu ulah siapa. Kepala sekolah meminta guru seni menyelidiki. Dan dugaan guru seni ada pada tiga siswa. Namun untuk lebih jelasnya, sang guru memberi tugas untuk dikumpulkan kepada semua murid yang ia ajar, termasuk ketiga murid itu.

Dari tugas tersebut, diambillah tugas dari ketiga siswa yang dicurigai. Siswa yang memang punya bakat menggambar. Fadli, Zon, dan Mecca. Setelah dicermati, hanya gambar Fadli yang berpola doodle. Guru seni akhirnya memanggil ketiganya.

“Siapa yang menggambar di kamar mandi?”semua diam. Tidak ada yang bercakap. 

“Gambarnya bagus. Garisnya tegas dan berkarakter. Aku ingin mengajak penggambar itu pameran di kota.”

Mendengar ucapan guru seni soal pameran, Fadli, Zon, dan Mecca langsung mendongak. Saling menatap satu sama lain. Saling sikut.

“Gambar itu mampu memikat, siswa lebih senang ke kamar mandi bergambar itu daripada yang lain.” Mecca memecah kebisuan.

“Tapi jadinya berjubel, ngantre, kayak orang mau ambil sembako saja.” sahut Zon.

“Ya, kalian sudah tahu bukan efeknya. Mecca menyebut sisi positifnya, Zon yang kamu katakan itu sisi negatifnya. Jadi kamu tahu, efeknya ‘kan Fadli?” ucap guru seni sambil memandang ke arah Fadli.

Zon dan Mecca melongo.

“Iya Pak.” ucap Fadli sambil menunduk.

“Soal pameran?” ucap Mecca dan Zon serentak.

“Tidak ada pameran buat yang belum mempertimbangkan kestabilan karyanya.”

Mecca dan Zon, langsung lemas.

“Saya tahu bakat kalian, tapi bukan begini caranya. Arogan. Fadli, kamu harus mengecat ulang tembok itu. Zon dan Mecca, kalau kamu ingin pameran, biar tahu soal kestabilan, bantu Fadli.” sambil menyodorkan satu tong cat dan tiga kuas kepada muridnya.

Tanpa banyak bicara, Fadli, Zon, dan Mecca langsung menuju kamar mandi. Mengecat semuanya. Bersih.

Nasib buruk, masih saja jatuh kepada Fadli. Setelah ia mengecat ditemani Zon dan Mecca. Guru BP sudah menungu di ruang guru. Menunggu mereka bertiga melapor ke guru seni kalau tugasnya sudah rampung.

“Ikut saya ke ruangan BP”. sambil menatap ke arah Fadli, lalu melangkah meninggalkan Fadli yang masih bengong di depan meja guru favoritnya.

Zon dan Mecca mengelus pundak Fadli.Fadli anak yang baik. Ia selalu berani bertanggung jawab atas apa yang ia perbuat. Dan itulah memang yang diajarkan oleh ibunya yang baik.

“Kamu tahu kesalahanmu?” ucap guru BP

“Iya Bu.” ucap Fadli di ruangan yang baru kali pertama ia masuki.

“Ini peringatan pertama. Jangan sampai kamu mengulanginya. Tindakanmu ini sudah membuat gaduh dan merusak kestabilan belajar di sekolah. Maka, saya akan memberikan surat pemberitahuan ke orangtuamu.”

“Iya, Bu.”

Betapa kagetnya ibu Fadli yang baik itu. Anak semata wayangnya telah melakukan kesalahan. Ibunya menasehati Fadli agar tidak mengulangi kesalahannya. Fadli mengiyakan, tapi meminta untuk dibelikan bolpoin yang diharapkan. Sang ibu menolak, ibu yang baik itu tidak mau kejadian terulang lagi. Maka memilih tidak dibelikan.

Keesokan harinya, siswa yang pro dengan Fadli sudah tidak sabar mendengar cerita. Fadli yang ditunggu belum datang. Mecca dan Zon menjadi jubir. Berbicara ini dan itu, menekankan soal pameran dan kestabilan. Namun guru BP juga tidak lupa diceritakan. Semua termakan arus. Geram.

Yang ditunggu pun datang. Fadli. Tanpa babibu, semua langsung meminta Fadli melakukan sesuatu, “Lawan”. Namun Fadli tidak mau melakukan kesalahan lagi. Fadli anak baik, sifatnya menurun dari ibunya yang baik. Fadli menolak.

Teman-temannya tidak mau menyerah. Maka melawannya harus dengan media yang benar.

“Menggambar itu memang bukan di tembok, tapi di kertas.” sembari menyodorkan kertas ke Fadli, “lawan di situ. Fadli.”

Bel berbunyi. Masuk kelas. Semua ke kelas masing-masing. Fadli berpikir keras. Jengkel. Dibuatlah cerita bergambar dengan ala doodlenya.

Ibuku yang baik, memang tugas ibu menegur siswa yang salah. Tapi kenapa ibu tidak juga memberitahukan prestasi saya yang mampu menarik perhatian seluruh siswa di sekolah? Kenapa ibu? Apakah ibu jiwanya hanya suka pada hal buruk? Kalau guru BP di sekolah ini seperti ibu, tidak akan ada prestasi di sekolah ini. Dan ibu, saya tetap menggambar, di kertas. Ibu tidak bisa menegur saya. Media saya sudah benar.”

Pesan itu dibuat dengan sangat apik dan artistik. Fadli menyimpan gambarnya. Bel berbunyi. Fadli merapikan bukunya. Baru saja usai merapikan buku. Teman-teman Fadli yang pro langsung berkerumun.

Dengan muka dingin, seperti biasanya. Fadli menyodorkan gambarnya.

“Gila.”

“Keren”

“Semua warga sekolah harus tahu.”

semua sahut-menyahut.

“Tapi jangan frontal, saya ndak mau.” ujar Fadli.

“Siap bos.” ucap teman-temannya serentak.

Zon dan Mecca mengatur siasat. Rapat kecil terbentuk. Tidak lama, semua siswa mengeluarkan uang. Terkumpul. Gambar pun digandakan.

Jam pulang sekolah. Tim kecil yang sudah dibentuk Mecca dan Zon, masih tinggal di sekolah. Fadli pun sudah pulang. Siasat dijalankan.

“Ingat, jangan Frontal.” tekan Zon.

Semua berpencar. Menaruh dilaci siswa, perpustakaan, tumpukan buku bapak dan ibu guru. Semua sudah disebar. Hanya dua tempat yang tidak, kamar mandi dan ruang BP. Ruang kepala sekolah, TU, Pos Satpam, semua diberi. Rapi. Tersembunyi. Tidak Frontal.

Keesokan harinya, satu persatu kertas gambar Fadli mulai ditemukan. Dibaca dengan khusuk. Tidak hanya satu, ternyata banyak yang sudah terdeteksi dan terbaca. Pesan tersampaikan. Digambar Fadli membubuhkan namanya. Nama Fadli menjadi pujian. Sedangkan guru BP, ibu guru cantik berkacamata itu, mendapat perlakuan berbeda.

Setiap mata menatap sinis setiap guru BP yang cantik itu lewat. Sudah tidak lagi tatapan takjub karena kecantikannya, seperti sebelum-sebelumnya. Tidak ada gunjingan. Hukum alam berjalan dengan baik. Sampai akhirnya, sahabat guru BP yang cantik itu menyodorkan karya Fadli.

“Fadli……..” teriak ibu guru BP yang cantik itu, amat kerasnya teriakan itu membuat sekolah jadi gaduh.

Semua menonton dan melihat arah sumber suara. Gambar diremas. Makin geramlah guru BP yang cantik itu karena semua mata memandang ke arahnya. Dengan langkah terburu-buru, ibu guru BP yang cantik itu ke kelas Fadli. Masuk ke ruangan Fadli, lalu menjewer telinga Fadli sambil digeret ke ruangan BP.

***

Kasus Guru Cubit Siswa

Iklan

10 thoughts on “Tidak Suka Kekerasan

    1. wah, bahaya itu kalau pembacanya digantung. Bisa berabe.

      Ini cerita untuk menjawab persoalan pendidikan yang akhir-akhir ini mencuat heboh. Endingnya, silakan dibuat sesuai versi pembaca masing-masing. Hohoho

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s