Membaca Kesedihan

Kaudatang, mengejutkan. Meninggalkan peta menuju matamu.Mata yang katamu pandai merawat kesedihan. Ah, sepandai apa? Menatap harapanku saja matamu taksanggup. Dingin, sedingin angin menjelang subuh.

Ucap pun alpa jika bibirku tetap rapat. Namun selepas itu, senyummu kembali pias. Sepias Juni yang meninggalkanmu, meninggalkan kita. 

                       Adakah Juni di matamu?

Semacam keterpaksaan yang membuatmu lari dari kesedihan. Memeluk gedung-gedung, dan menulikan telinga dengan kendaraan yang taklelah meraung, meski di gang sempit kamar sewamu. 

                           : Juni yang puisi

Iklan

Penulis: AKHMAD FATONI

Lahir di Mojokerto, 29 Pebruari 1988. Alumnus S1 sastra Indonesia, Unesa (2010) dan S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga (2016). Bukunya: (1) Lengan Lirang (Puisi, 2012); (2) Kredo Mimpi (Esai, 2014); (3) Tembang Dolanan (Puisi, 2015); (4) Meja Nomor 8 (Cerpen, 2016). Email: fatoni.akhmad@gmail.com

4 tanggapan untuk “Membaca Kesedihan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s