Membaca Kesedihan

Kaudatang, mengejutkan. Meninggalkan peta menuju matamu.Mata yang katamu pandai merawat kesedihan. Ah, sepandai apa? Menatap harapanku saja matamu taksanggup. Dingin, sedingin angin menjelang subuh.

Ucap pun alpa jika bibirku tetap rapat. Namun selepas itu, senyummu kembali pias. Sepias Juni yang meninggalkanmu, meninggalkan kita. 

                       Adakah Juni di matamu?

Semacam keterpaksaan yang membuatmu lari dari kesedihan. Memeluk gedung-gedung, dan menulikan telinga dengan kendaraan yang taklelah meraung, meski di gang sempit kamar sewamu. 

                           : Juni yang puisi

Iklan

4 thoughts on “Membaca Kesedihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s