Terminal Sastra #29

​Mengundang kawan-kawan untuk hadir :

TERMINAL SASTRA #29

|| Berita Pagi dalam Sepucuk Surat ||
Hari: Minggu, 16 Oktober 2016

Pukul: 09.00-13.00 WIB
Tempat: Kantor Perpustakaan Arsip dan Dokumentasi Kabupaten Mojokerto

Jl. Raya Jabon 190 Mojokerto
[Buku 1]

Korban Berita Pagi , Kumpulan Cerita Pungky Wardhani
[Buku 2]

Surat dari Timur, Kumpulan Puisi Fendi Kachonk
Narasumber
Pungky Wardhani, cerpenis difabel netra
Fendi Kachonk, penyair, pengasuh Forum Belajar Sastra, dan Kampoeng Jerami
Aris Rahman Yusuf, penyair, penyunting buku, pegiat Lingkar Literasi Putih
Akhmad Fatoni, penyair, cerpenis, dosen sastra Universitas Islam Majapahit, dan pendiri RBAF
Moderator

Noorman Panjie, penikmat buku

Acara gratis dan terbuka untuk umum!
Door Prize Buku bagi pengunjung
Narahubung

Mochammad Asrori (HP/WA: 085231586507)

Iklan

Pawai Tahun Baru Hijriyah Mojosari

Kalender masehi memiliki tahun baru yang jatuh pada 1 Januari. Sama halnya dengan penanggalan Islam yang jatuh pada 1 Muharam. Dan memasuki tahun baru 1 Muharam 1438 Hijriyah, Mojosari, sebagai Kotamadya Kabupaten Mojokerto, memiliki hajat rutin. 

Kegiatan tersebut yaitu Sunatan Masal dan Pawai. Kegiatan ini dirintis oleh Alm. Kyai Kholil, Wonokusumo, Mojosari. Meskipun beliau sudah wafat, acara ini masih terus diselenggarakan. Mulanya kegiatan ini hanya berfokus pada sunatan massal gratis. Anak yang dikhitan, selain gratis juga mendapatkan uang saku sebesar Rp500.000 ribu. Anak-anak itu pada hari H, akan dinaikkan becak keliling Mojosari. 

Ternyata apa yang dilakukan oleh Alm. Kyai Kholil ini mampu menyedot perhatian massa. Hal itu akhirnya membuat beliau semakin menambah arak-arakan dengan mengundang anak-anak TPQ. Kegiatan tersebut awalnya hanya mencakup kelurahan dan desa di Kecamatan Mojosari. Namun lambat laun, masyarakat luar Mojosari turut menyambut dengan membantu dan turut meramaikan. 

Sampai akhirnya, kegiatan tersebut sudah banyak diisi oleh kelompok-kelompok dari berbagai lini, baik dari Kecamatan Mojosari maupun luar Kecamatan Mojosari. Menyebut beberapa ragam kelompok tersebut di antaranya, kelompok drum band sekolah dan umum, kelompok kesenian barongsai, kelompok seni bantengan, karang taruna, dan juga sekolah. 

Lah, pada tahun ini saya akhirnya turut berpartisipasi dengan mendaftarkan RBAF untuk turut menyemarakkan. RBAF dalam acara tersebut mengisi dengan rombongan pawai dengan kostum binatang bersayap. Kenapa binatang bersayap? Sebab saya mengangkat tema “Semangat Kerja Keras”. Bentuk kerja keras adalah sebuah usaha untuk mencapai impian.

Saya menganggap impian itu berada di langit. Perlu digapai dengan usaha dan kerja keras. Dan dengan binatang bersayap itulah saya ingin menggapai impian tersebut. Pada pawai tersebut RBAF memamerkan 20 kostum binatang bersayap, seperti kupu-kupu, kumbang, belalang, capung, dan burung garuda. 

Binatang bersayap tersebut saya kategorikan dalam dua jenis, binatang yang memiliki kecepatan terbang lamban dan kecepatan terbang cepat. Kedua kategori itu pun saya bedakan dari jenis dan bahannya. Binatang kecil (meskipun ada yang bentuknya besar, lebar, dan tinggi) desain sederhana. Sedangkan binatang besar, saya menggunakan burung garuda. 

Burung garuda sebagai simbol untuk meraih impian-impian besar, sedangkan binatang-binatang kecil sebagai simbol impian kecil. Binatang kecil dalam pawai tersebut berjumlah 15 item dengan berbagai ragam dengan filosofi berbeda-beda. Ada binatang kecil dengan ukuran besar, sebagai simbol impian kecil yang kerap tidak dianggap namun mampu membawa sebuah kesuksesan. Juga ada binatang kecil yang berdesain paling berbeda. Khusus ini, sebagai simbol impian kecil yang inspiratif dan mampu menciptakan perubahan dalam masyarakat. 

Sedangkan burung garuda, berjumlah 5 item. Mengampil filosofi dari lambang negara dan pancasila. Warna emas, sebagai perlambang “emas” itu sendiri sebagai logam mulia yang memiliki arti nilai tinggi. 

Kami, saya dan tim RBAF, tidak menyangka bahwa apa yang kami persembahkan akan mendapatkan respon seperti ini. Media turut meliput, panitia memberi apresiasi yang bagus, dan penonton juga memberikan apresiasi takkalah maut. Sungguh, keringat, tenaga, pikiran, dan biaya, terbayar dengan apresiasi tersebut. 

Tentunya, saya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu: Karang Taruna Karya Remaja Dusun Sumbertani, Warga Dusun Sumbertani, Buasim si pengusaha limbah (rosokan), Ceribel dan Jono yang membantu transportasi, Ruly Sound System, Rusdy pengusaha las yang meminjami generator, Teater Oghael SMAN 1 Kutorejo, dan semua pihak yang banyak membantu. Sungguh, tanpa kalian semua, niscaya hal ini mustahil terjadi. Semoga apa yang kita lakukan tercatat sebagai amal baik di sisi Tuhan. Amin.

Sedikit dokumentasi RBAF untuk acara pawai ini: