Kopdar dengan Blogger

Istilah itu tidak pernah tebersit sedikit pun di kepala saya. Entah kenapa bisa begitu. Baru kali ini saya ngeblog dengan cuek. Ternyata kecuekan saya itu membuat saya kenal bebeberapa teman blogger, yang membuat saya mengikuti blognya atau sebaliknya. Padahal sebelumnya, blog saya tidak pernah ada yang mengikuti. Komentar pun juga tidak. Dan anehnya, di blog ini, ketika saya cuek dan tidak peduli dengan domain, blog saya ada yang berkomentar dan mengikutinya. 

Kok bisa? Saya pun tidak bisa menjelaskan hal itu. Jelasnya, saya berniat cuek. Kecuekan itu jelas dari judul blog ini: Celoteh Akhmad Fatoni atau saya menyebutnya  CAF, mengikuti pola rekan blogger yang mengunakan pola sama persis. Terimakasih telah memberi inspirasi. 

Kembali lagi soal Kopdar. Saya tidak tebersit sedikit pun, tentunya, jika di antara teman-teman blogger saya yang tinggal satu kota. Marilah kita kopdar. Emang Mas tinggal di mana? Saya tinggal di Mojokerto. Ya, setidaknya saya bisa kopdar dengan rekan Sidoarjo dan Surabaya. Tentunya, saya ingin merasakan nuansa bertemu, bercakap, dan berbagi dengan rekan blogger. Ah, bagaimanakah rasanya? 

Iklan

Salah Sijine Werno Nak Dunyo

Abang, biru, lampune disko. Nek iki ora abang, yo ora biru, tapi yen pancen ngunu. Ora mung guru sing koyok ngunu, kabeh pegawe sing melu lembaga e negoro yo duweni nasib sing podo. Iki kok isok koyok ngunu? Yo embuh, iki sopo sing kudu isok njelasno. Sing jelas onok sing wes nulisno, salah sijine Listiyono Santoso. Nulis e yo nang koran sing podo. Cuman tulisan e iko nyoal dosen mroyek iku ora opo-opo. Yen durung moco, isok moco nak blog pribadine. 
Kiro-kiro nek nak negoro iki tetep onok wong sing pingin ngajar, perkoro koyok ngene ora dadi kekawatiran. Ilmu tetep ejek isok disalurno. Yen ora ono, tur kabeh kalah ambek weteng. Iku sing bakal soro. Tenan soro. 
Coba ayo dipikir. Kabeh sarjana milih urip sing ora rekoso, khususe sing lulusan pendidikan. Kabeh mikir masa depan, mikir bayaran gede. Digawe sangu sesuk emben yen pengen rabi. Nek ditarik maneh, pengen urip sing layak. Isok nyukupi kebutuhan urip. Terus nek iki kedadean, buku isok ditinggalno. Kabeh ora doyan moco. Wes ora dianggep maneh dawuh “Iqro”. Senajan, “Iqro” iku mung ora teks tok, tapi nek teks ora kewoco piye ati isok moco sing nonteks. Yo mugo-mugo wae, ojok sampek kedadenan ngunu. 
Saiki, piye carane isok podo roto. Sing guru bayarane mung semunu. Yo ojok disemoni, nek mung ngekei ilmu ribet karo proyekan e nak njobo. Nek diribetno, yo iku keliru. Keliru, lapo kok ora dikei gaji podo ambek buruh pabrik opo pegawe kantoran. Wes talah, iki ancen salah sijine werno. Ojok dipermasalahno, mung ayo podo dipikir lan diresapi. Ben isok dadi wewanti lan pengeleng. Ojok podo nyalahno, nyalahno iku gampang, tapi nek diwalek, opo kuwi isok mbenerno sampek bayaran e podo? Jelas kowe modar nek dipasrahi ngunu. Lah, terus mosok yo meneng wae. Yo ogak. Ngene, ayo podo ngelakoni perubahan sing awak dewe mampu. Senajan cilik, iku luwih becik ketimbang dirimu mung nyalahno tok. Piye, sepakat? Nek wes sepakat, ayo ndang disruput kopine, udud e ndang disumet. Maknyus toh?

Memotret, Kesukaan yang Sulit Ditinggalkan

Beberapa waktu lalu, saya sudah berniat meninggalkan dunia fotografi profesional. Saya hanya ingin menjadi fotografer amatir, namun jalan hidup berkehendak lain. 

Akhirnya, ada saja yang meminta saya untuk mengabadikan momen-momen indah dalam hidup mereka. Lah, ini salah satu momen yang saya abadikan beberapa waktu lalu:

Setelah acara prosesi selesai. Keisengan saya muncul. Dan konsep iseng pun saya jalankan. Jadinya, seperti ini deh. 😀

Yah, itulah kegilaan yang selalu saja hadir dalam jalan hidup saya. Memang, hidup biar menarik itu perlu hal-hal gila. So, jangan pernah takut melakukan hal-hal lain dalam hidupmu. Mari berekspresi. 

Berawal dari Suka

Dulu, sewaktu masih kecil cita-cita saya menjadi musisi. Terutama sebagai gitaris. Saya masih ingat betul kali pertama pengen beli gitar. Bagaimana saya harus merengek ke orangtua agar dibelikan alat musik. 

Namun, anehnya sampai saat ini saya tidak bisa memainkan alat musik itu. Sampai saat ini, saya sudah beli gitar sampai tiga kali. Gitar pertama, tidak diketahui rimbanya. Gitar kedua, ada di gudang rumah kakak. Dan yang ketiga, sampai sekarang masih bisa dipakai. Tentunya bukan saya yang memainkannya, tetapi teman-teman saya. 

Entahlah, ini sesuatu yang aneh. Sampai akhirnya saya sejak beberapa tahun lalu masuk ke dunia baru, berjualan alat musik. Mulai dari stik drum, gitar akustik, gitar elektrik, dan asesoris gitar lainnya. Dan beberapa waktu lalu, takdir mempertemukan saya dengan rekan bisnis baru, pengerajin drum band. Jadi, ketika saya pikir apa yang saya lakukan saat ini berawal dari suka. 

Tentunya, ini adalah koleksi barang-barang dagangan itu. Terkadang saya pakai sendiri, eh, kelompok yang saya kelolah maksudnya. Sebab saya tidak bisa memainkan alat musik. Dan lucunya, tiap kali saya jualan, para pembeli tidak percaya kalau saya tidak bisa bermain gitar. Hehehe…ya sudah, itu hak mereka tidak memercayainya. Toh, bagi saya barang terjual dan pelanggan puas,  itu sudah merupakan pelayanan yang harus saya berikan. 

 Sebagai wujud visual, berikut gambar-gambarnya:

Gitar Elektrik Body Ori
Gitar Elektrik body ori
Gitar akustik plus equaliser
Model equaliser gitar akustik
Gitar akustik tanpa equaliser
Gitar akustik cocok buat pemula
Gitar akustik bisa menyesuaikan kantong pelajar
Gitar akustik yang nyentrik
Variasi stik, mulai stik drum, balera, hingga drum band.
Balera
Alat musik drum band: orgen, senar drum, tom, bas drum.

Entahlah, kesukaan dengan musik membuat saya gila. Namun sayangnya, cita-cita saya menjadi musisi kandas, malah yang tidak diharapkan tergapai: pengusaha alat musik. Hidup itu absurd. Kadang sesuai yang dikejar, tidak kunjung tertangkap. Sedangkan yang tidak disangka-duga, malah mendekat. Namun, setidaknya sekarang sudah bisa memetik gitar, mengalunkan organ, dan menarikan stik di alat perkusi, meskipun belum mahir. Semua itu harus disyukuri. Bukan begitu?

Festival Puisi Bangkalan 2

UNDANGAN KARYA PUISI

FESTIVAL PUISI BANGKALAN 2

Festival Puisi Bangkalan 2 akan kembali digelar pada April 2017 mendatang. Acara bertajuk “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” yang memiliki arti “lebih baik mati daripada menanggung malu” tak lain merupakan salah satu peribahasa yang juga menjadi dasar prinsip orang-orang Madura dalam menjunjung tinggi harga diri, khususnya kota Bangkalan, terkait dengan peristiwa bersejarah kematian Ké’ Lésap dan asal-usul lahirnya kota Bangkalan. Dari beberapa sumber data, salah satu versi asal-usul kota Bangkalan bermula dari  matinya Ké’ Lésap, Bhângkah la’an yang berarti Sudah Mati. Kematian Ké’ Lésap memiliki kontroversi bagi berbagai kalangan. Bagi sebagian kalangan Ké’ Lésap dianggap sebagai pemberontak karena ia berusaha menguasai Madura, namun bagi kalangan yang lain Ké’ Lésap dianggap sebagai pahlawan karena perjuangannya melawan penjajahan kolonial Belanda yang pada saat itu juga memegang otoritas kebijakan pemerintahan. Sebelum kematiannya Ké’ Lésap pernah berkata bahwa “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata” (lebih baik mati daripada menanggung malu).
Festival Puisi Bangkalan 2  merupakan agenda Komunitas Masyarakat Lumpur berupa berbagai macam pameran dan pertunjukan puisi seperti: dramatisasi puisi, musikalisasi puisi, pantomime puisi, instalasi puisi, diskusi puisi, orasi puisi, pigura puisi, kaos puisi, banner puisi, pameran buku puisi, bedah buku puisi, dsb. Adapun  UNDANGAN KARYA PENYAIR DALAM NEGERI/ LUAR NEGERI untuk bergabung dalam antologi puisi bersama “Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata”. Berikut persyaratan pengiriman puisi:
P E R S Y A R A T A N   U M U M:
1. Terbuka untuk umum, segala usia, WNI/WNA, berdomisili di mana saja.

2. Para penyair dipersilakan mengirim sebanyak 3  puisi, beserta foto dan biodata terbaru, alamat, e-mail, dan nomor telepon untuk memudahkan komunikasi.

3. Tema Bebas.

4. Foto, biodata, alamat lengkap, no telepon/ HP, email, ditulis dalam lembar terpisah. 

5. Puisi harus karya terbaru tahun 2016 – 2017 dan belum pernah dimuat dalam media sosial/ massa mana pun.

6. Puisi diketik rapi di Ms. word 2003-2007, ukuran A4, spasi 1.5, font Times New Roman size 12 pt.

7. Silakan kirim karya terbaik Anda, ke email: festivalpuisibangkalan@gmail.com, mulai Desember 2016 dan paling lambat sudah harus diterima pada 20 Februari 2017. 
K E T E N T U A N   L A I N – L A I N:

1. Puisi-puisi yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator/ editor yang ditunjuk.

2. Mengingat penerbitan buku ini tidak untuk keperluan komersial, para penyair yang karyanya dimuat, tidak memperoleh honorarium/ royalti.

3. Setiap penyair yang karyanya terpilih dan dimuat akan mendapat 1 (satu) eksemplar.
CONTACT PERSON

087705726702 (Muzammil Frasdia)

087850923328 (Agus A Kusuma)⁠⁠⁠⁠

Pengolahan Limbah Rumah Tangga

Sejak beberapa bulan lalu, saya dimintai tolong pemuda dan pemudi dusun tempat saya ini dilahirkan untuk menggawangi karang taruna. Nama karang taruna ini Karya Remaja. Sebenarnya, saya tidak langsung mengiyakan. Pertimbangan saya yaitu karena sudah hampir sepuluh tahun tidak pernah menginjakkan kaki di dusun ini. Jika pulang pun, hanya numpang tidur dan menghabiskan secangkir kopi dengan beberapa batang rokok saja.

Tentunya, saya sudah tidak tahu pola yang berjalan di dusun ini. Saya pun tidak tahu siapa pemuda dan pemudinya. Teman-teman sebaya pun sudah banyak yang menikah. Jalan tengahnya, saya meminta waktu sebulan untuk memahami atmosfir di dusun ini. Namun realisasinya, waktu yang saya butuhku lebih dari ekspektasi. Hampir dua bulan. 

Setelah saya mendapatkan data karakter warga dan pemuda-pemudinya. Memang tidak banyak berubah sejak sepuluh tahun lalu. Ya, karena sejak kepulangan saya ke kampung halaman ini berniat menata desa. Tawaran pun saya iyakan. Namun saya membutuhkan tim yang nantinya bisa membantu menjalankan progam-program ini. Pola pemilihan pun saya meminta ada perubahan. Dulu terjadi secara konvensional, langsung tunjuk dan jadi. Lah, waktu saya diminta menggawangi, maka permintaan saya yakni harus ada pengukuhan, meskipun saya dan tim yang akan dilantik yang mempersiapkannya. Tidak mengapa.

Akhirnya, sejak Nopember 2016-Nopember 2019, saya bersama 23 pemuda dan pemudi Dusun Sumbertani dilantik oleh kepala dusun. Sejak itu, perlahan saya bersama pengurus karang taruna Karya Remaja Dusun Sumbertani, Desa Mojorejo, Kecamatan Pungging, menyusun progam selama masa jabatan. 

Salah satu programnya mengelolah limbah rumah tangga. Program ini memilah sampah organik dan nonorganik. Saat ini yang dijalankan, memang bertahap, sampah kering. Di antaranya sampah plastik dan kertas. Dua jenis sampah nonorganik ini nanti dipilah sesuai bahannya. Setelah terseleksi dengan manis sesuai jenis bahannya, maka langkah selanjutnya yakni menjadikan sampah itu menjadi bentuk kreatif, kerajinan. 

Bila bahan yang tidak bisa diolah, maka dialihkan ke pengolahan daur ulang. Hasilnya digunakan operasional. Dan pagi ini, tim sudah mendapatkan sebagian hasil. Sampah ini diambil ke rumah warga tiga hari sekali. Semoga hasilnya bisa untuk mempercantik dusun dan membenahi segala yang perlu dibenahi. 

Tentunya, hal itu sudah kami konsep dalam program selanjutnya yaitu membuat hidroponik di sepanjang jalan dusun. Setelah itu berjalan, maka dibentuk gapura ramah lingkungan dengan di sekitarnya dibenuhi tetumbuhan. Bila pola penghijauan ini terlaksana, sebagai polesan terakhir agar lebih hidup, seluruh pagar hasil pembagunan periode 45 (saya menyebutnya bok) untuk dimural. 

Program-program ini pasti sangat membutuhkan banyak biaya. Namun ini niat saya, semoga tim siap membantu. Dan saya yakin alam akan membantu. Semoga.

Jika ingin membantu progam kami, kami juga sudah menjalankan program bidang seni-budaya: kelompok drum band. Jika punya hajatan atau acara, silakan menghubungi tim drum band kami.