Abu-abu

Bung, jangan lihat abu-abu kami

tapi lihat merah yang menyala dari

kelopak mata kami.

Bung, mata ini telah merah

dan mengangah bersama senja

menjadi ranum dalam pekat malam.

             dan ini kami

              inilah merah kami

Adakah merahmu, melebihi merah

mata kami. Abu-abu ini adalah

kuncup dari rekah-rekah kata

yang kami dapatkan dari matamu.

Kami tidak hanya abu-abu

             dan kau Ning,

sisihkan gincumu yang merah itu

jika tak bisa melebihi merahnya 

              Mata kami
Mojokerto, 20 April 2017

  

Iklan

Penulis: AKHMAD FATONI

Lahir di Mojokerto, 29 Pebruari 1988. Alumnus S1 sastra Indonesia, Unesa (2010) dan S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga (2016). Bukunya: (1) Lengan Lirang (Puisi, 2012); (2) Kredo Mimpi (Esai, 2014); (3) Tembang Dolanan (Puisi, 2015); (4) Meja Nomor 8 (Cerpen, 2016). Email: fatoni.akhmad@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s