Laki-Laki Menangis Apakah Salah?

​Bagaimana menurutmu bila melihat laki-laki yang menangis? Apakah ia melankoli atau cengeng? Saya termasuk laki-laki yang mudah menitikkan airmata, terutama dengan kejadian-kejadian yang menyentuh hati. 

Mungkin banyak lelaki yang menutupi hal ini, namun kali ini saya akan bercerita perihal airmata yang tumpah itu. 

1. Mendengarkan pembacaan atau membaca cerita yang haru, miris, dan menyayat. Dulu pernah terjadi saat masa kuliah. Kala itu dosen saya membacakan cerpen, begitu bagus, tidak ngotot dan juga tidak berteriak, tapi penuh rasa. Beliau menitikkan airmata, saya pun juga. Teman sekelas banyak juga yang menitikkan airmata dan ada satu teman perempuan sampai menangis menggeru-geru. Sedangkan kejadian membaca, kerap menitikkan airmata tanpa disengaja bila ceritanya menyentuh.

2. 

Melihat film. Saya kerap tidak kuat menahan airmata bila ceritanya begitu syahdu, sedih, atau penuh haru. Bahkan ketika menonton bersama teman laki, saya tak peduli. Saya biarkan airmata menetes, meski akhirnya saya disebut melankoli.

3.

Sakit hati. Kejadian ini kerap terjadi bila bertengkar dengan kekasih yang amat saya cintai. Terlebih, bila ia menyakiti, berbohong, atau hanya karena berbeda pikiran. Entah, airmata itu jatuh karena apa. Yang jelas, ketika saya jatuh hati, saya merasa menemukan hati saya dalam hati sang kekasih. Itulah, kenapa tidak pernah berbagi hati dengan perempuan lain, ketika hati saya sudah tertawan, setia, begitulah kiranya. Namun entah kenapa sampai sekarang, banyak perempuan yang datang silih berganti. Lantas siapakah gerangan kekasih hati yang kelak jadi jodoh saya? Entahlah, ini masih misteri.

Mungkin tiga kejadian itu yang sering membuat saya menitikkan airmata. Dan saya selalu bangga bisa menangis, walau tahunya akhir-akhir ini, sebab sebuah riset airmata adalah obat paling ampuh menjaga stabilitas mata. Jadi buat kamu, jangan takut menangis. Jika haru, sedih, atawa bahagia, jangan ragu menitikkan airmata.

Iklan

Kekuatan Pikiran

Kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Itulah yang membuat manusia berbeda dengan binatang dan tumbuhan. Namun kita kerap kali lupa kalau kita memiliki kekuatan yang menakjubkan itu. Kita selalu saja menerima apa yang ada di depan dan sekitar kita. Lingkungan telah banyak memengaruhi psikologi kita. 
Jika terlahir dari seorang petani, maka kita tumbuh tidak jauh dari hal-hal pertanian. Hal itu memang tidak salah, sebab kerja lingkungan menciptakan pola kebiasaan yang terus-menerus diulang. Saking hapalnya, semuanya seperti hal yang tidak asing. Namun bila suatu ketika harus dihadapkan pada hal-hal yang benar-benar berbeda, kita kagok dan merasa tidak mampu. Sontak perkataan yang kerap muncul yaitu aku tidak bakat dalam hal itu, bisanya hanya memegang cangkul. 

Kondisi semacam itulah yang membuat kita terpendam. Padahal bentuk ungkapan itu adalah proses dari buah pikir. Hasilnya pasti berbeda bila saat dihadapkan dengan hal baru itu kita langsung memberikan ungkapan: ini hal baru, aku harus bisa menguasainya (katakanlah berdagang kosmetik), sehingga nanti aku bisa punya tambahan hasil dan tidak hanya mencangkul saja. Lah, jika pikiran sudah dibawa ke arah optimis, otak akan bekerja dengan segala kemisteriusannya dan berusaha mencari cara agar mampu menjual kosmetik. 

Di situlah letak kekuatan pikiran. Jika kita mengarahkan pada bentuk pesimis, maka otak akan memberikan data bahwa kita tidak bisa. Begitu pula sebaliknya, bila kita memberikan optimisme, otak pun akan bekerja dan mencari cara penempuhan apa yang harus dicapai. 

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Segala hal selalu memiliki segi keilmuan bila kita mau memikirkannya. Maka dari itu, optimalkan kekuatan pikiran. Kita akan menemukan keajaiban. Mari berpikir.

Menjadi Penulis Penuh Waktu

​Menjadi seorang penulis adalah sebuah pilihan nekad. Apalagi menjadi penulis penuh waktu, tentu tidak hanya kekuatan lahir yang dibutuhkan, tetapi kekuatan batin. 

Dulu, untuk menerbitkan buku harus antre dan seleksi panjang. Kadang, naskah ditolak. Bila penerbit mengatakan naskah lolos, kebahagian seolah tumpah di mana-mana. Setelah itu, penerbit membuat ikatan kontrak tentang segala kesepakatan. Salah satunya yaitu royalti (hasil keringat) penulis sebesar 10 persen dan ada juga penerbit baru yang berani memberi hingga 20 persen. Jika oleh penerbit, buku itu dijual 50 ribu, maka penulis mendapatkan 5 ribu. 

Saat ini sistem penerbitan makin mudah, ada sistem indie (self publishing) yang tidak harus antre. Namun segala ongkos produksi dibebankan pada penulis. Bila penulis ingin menerbitkan melalui jalur ini, tentu harus menabung atau bahkan puasa berhari-hari demi mimpi bukunya terbit. 

Karya adalah kebahagian bagi penulis. Ya, kebahagiaan yang sangat, walau kebahagiaan itu sulit ditukar dengan materi. Bila buku terbit, ada rekan, kenalan, saudara setelah buku itu terbit, berbondong-bondong memberi selamat. Tidak jarang pula, meminta buku gratis, terkadang plus tandatangannya.

 Namun, hal itu tidak membuat penulis gusar. Ia kerap kali menghormati semua rekan, kenalan, dan saudaranya itu dengan begitu takdim. Senyum pun rekah di bibirnya, sembari tandatangan ia berpesan (dan pesannya selalu saja beda di tiap buku). Salah satunya kadang berisi “semoga bisa memberi manfaat”, atau “semoga menginspirasi”, “semoga bisa menjadi teman paling setia”, dan sederet pesan yang selalu berbeda.

 Diapresiasi seperti itu, penulis sudah sangat berbahagia. Tentu, jenis kebahagiaan itu tidak mungkin dirasakan oleh oranglain. Itulah salah satu ketangguhan seorang penulis, ia telah banyak belajar dari hidup. Belajar dari kesedihan, kesusahan, luka, dan airmata. Ya, itulah yang membuat seorang penulis menjadi seorang yang tabah dan bisa memaknai kebahagiaan sekecil apapun.

Sungguh, itulah kenapa saya bilang memilih menjadi penulis itu butuh kenekadan lahir dan batin. Bila kamu, tidak berani nekad, harap memikir ulang jika ingin menjadi penulis.

Tadarus Puisi 2017

​Malam Tadarus Puisi Mojokerto 2017

Mengundang kawan-kawan untuk hadir pada:

Sabtu, 10 Juni 2017

Pukul: 20.00-selesai.

Tempat

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga

Jl. Jayanegara 4 Mojokerto

Acara:

[1] Pembacaan puisi dan musikalisasi puisi oleh penyair dan penikmat puisi

[2] Forum diskusi bersama Indra Tri Kurniawan, Akhmad Fatoni, Anjrah Lelono Broto, Saiful Bakri, dkk.

Pemandu Acara

Kukun Triyoga

Acara gratis dan terbuka untuk umum

Narahubung

Mochammad Asrori

HP/WA: 085231586507 

Pikiran Buruk

Tidak semua orang memiliki pikiran positif. Ada kalanya seseorang selalu saja yang lahir dari pikirannya selalu buruk. Entah bagaimana mulanya. Bisa jadi sejak dari kluwat. Iya, mungkin saja. Jadi, biarkan saja bila ada yang selalu berpikiran buruk kepada kita. 

Lebih baik kita melakukan sesuatu yang menurut kita baik. Mengabaikan pikiran buruk orang-orang terhadap kita. Jika bisa seperti itu, kita bisa memproduksi banyak hal baik sedikit demi sedikit. Jika hal baik itu sudah berjibun, tentunya hal buruk itu akan tertimbun di dalamnya. 

Jika selalu saja mengikuti pemikiran buruk orang, kita tidak akan bertindak. Kita akan termakan pikiran buruk tersebut. Larut. Kita akan menjadi makhluk mandul tanpa kreativitas dan pasif dalam memproduksi hal baik. Menyeramkan.

Oleh karena itulah, kami laskar sampah, tidak lagi peduli dengan pikiran buruk. Sampah memang buruk. Membuat setiap orang yang melihat jijik. Namun kami menolak pikiran buruk itu. Kamu mengulurkan tangan kepada sampah-sampah. Kami menjadikan mereka benih kreativitas dan disulap menjadi alat-alat musik modern. Kami menjadikan sampah-sampah itu produk ekonomi kreatif. Kami menjadikan sampah-sampah itu kostum yang akan diperagakan dalam event-event. 

Kami, laskar sampah, akan terus menelan pikiran buruk. Dan kamu, orang-orang berpikiran buruk, terus lanjutkan berpikiran buruk. Pikiranmu itu akan tertimbun hal-hal baik. Percayalah. Gusti Allah Ora Sare. 

Suara Hati Penestapa

Rasanya pilihan judul tulisan ini seperti begitu menyedihkan. Lantas apakah tulisan ini memang berisi sayatan kesedihan? Ah, entahlah. 

Jelasnya, tulisan ini mewakili suara orang-orang yang (sedih) ditanya “kapan nikah”? Sebuah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sulit karena memang mencari jawabannya tidak semudah menjawab pertanyaan: sudah sarapan? Sudah mandi? Semalam tidur pukul berapa? Warna favorirmu apa? Yah, pertanyaan soal menikah memang sulit dijawab. Tentunya ketika ditanya, rasanya ada gelombang campur-campur dalam dada. 

Hal itulah yang akhirnya membuat saya memilih judul tersebut. Lah, tulisan ini merupakan buah dari ketabahan menampung pertanyaan yang menyesakkan itu secara bertubi-tubi. Innalloha maashobirin. Semua akan indah pada waktunya. 

Jika kamu belum menikah, tentu betapa menyedihkan jika mendapatkan pertanyaan itu terlontar kepadamu bukan? Yah, setidaknya itulah yang dulu kerap kali saya rasakan. Sampai pada akhirnya saya mampu menemukan jawabannya dengan mengucap penuh kesungguhan dalam hati: saya niat lahir dan batin tahun depan menikah. Yah, itulah jawaban dari puluhan hingga ratusan pertanyaan yang tidak berperasaan itu. 

Sampai pada waktunya, turunlah ijabah dari doa saya itu. Tepat pada hari Minggu, 21 Mei 2017 lalu, akhirnya saya menemukan terminal perhentian. Berhentinya hati ini setelah lama berkelana dan mengarungi samudra kesunyian. Juga menampung kenestapaan dari pertanyaan-pertanyaan menyakitkan yang tidak menemukan jeda. 

Jeritan hati penestapa akhirnya terkuak. Pem-bully-an akhirnya berubah menjadi ucapan selamat. Orang-orang yang selama ini menghujani kenestapaan berganti menabur ucapan selamat dan doa-doa. Ah, ini ketulusan atau sekadar basa-basi? Entahlah. Setidaknya, jawaban saya sudah terlontar. Mereka pun akhirnya menutup mulut rapat-rapat. Yah, doa saya, semoga kamu yang kerap mendapatkan kesesakan dada karena pertanyaan serupa, bisa secepatnya menemukan jawaban. Saya berada bersama kamu. 

Tentunya, momen indah itu pula yang ingin saya bagi di sini. Sebagai pengganti jeritan para nestapa. Biasanya saya kerap mengabadikan momen seperti ini dan baru kali ini saya mengalaminya. Semoga ini yang pertama dan terakhir. Ada juga yang ganjal dari momen indah saya itu yaitu pemasangan cincin. Biasanya calon lelaki yang memasangkan ke jari calon perempuan. Lah, saat acara saya, semua beralih dan berubah. Cincin itu dipasangkan oleh Emak saya. 

Saya kala itu, hanya bisa melihat dengan rapalan doa-doa (semoga mustajabah). Cincin saya keluarkan dari kotak, lalu diambil Emak dan dipasangkan ke jari manis perempuan yang siap menampung jiwa saya yang sudah lama terkatung-katung. Beda. Apalagi saya lihat, jemari bidadari saya itu terus dipegang hingga iringan salawat selesai dilantunkan. Bibir Emak tak henti merapal doa. Doa yang entah apa. Semoga saja doa itu membuat kita jadi pasangan Samawa. Amin.

Ya, momen itu tentunya sesuatu. Beda. Meskipun berkali-kali saya memotret pertunangan, kala itu saya masih tetap berkeringat dingin dan hati berdebar-debar. Dahsyat. Tentunya indah. Seindah ketika aku melihat tatapan mata perempuan penyita hati saya itu. Duh, syahdu nian. 

Berikut ini momen itu akan saya lampirkan sebagai penutup kenestapaan. Yah, sekaligus sebagai doa tentunya. Doa agar nestapa berganti dengan bahagia dan rekah senyum dalam jalinan keluarga yang akan kita bina. Semoga.

(Proses masih terkendala, foto menyusul)

Ramadan: Semua Boleh Naik

Ramadan 1438 H/2017 M yang ke-9 ini telah membawa saya pada sebuah hasil kontemplasi. Kontemplasi yang entah bagaimana prosesnya. Jika dikatakan di pagi ini maka jalan kontemplasinya begitu cepat. Akan tetapi, jika dilihat dari runutan prosesnya, tentunya banyak kejadian yang masuk dan terkumpul hingga mencapai titik kulminasi di pagi ini. Ya, begitulah akhirnya terlontar secara tiba-tiba seperti kera sakti yang lahir dari batu, kontempatif itu menyeruat: Ramadan itu bus umum.

Bus umum? Begitulah kontemplatif saya dari berbagai kejadian yang mampu saya rekam. Lihat, dengar, pegang, cium, bau, hingga saya alami sendiri. Ramadan tidak menentukan penumpang. Semua boleh naik, jika merasa satu tujuan. Tidak peduli wanita, laki, kuli, supir, guru, dosen, penyair, pelukis, seniman, budayawan, wartawan, mlijo, petani, peternak, pokoknya semua ragam yang ada di dunia ini selama merasa satu tujuan boleh naik. 

Namanya bus umum, jauh atau dekat itu bergantung penumpangnya punya tujuan ke mana. Bus pun tidak bertanya, kamu puasa atau tidak? Pokoknya merasa satu tujuan (Islam), silakan naik. Tentunya jarak itu yang menentukan penumpangnya sendiri. Meski pagi sahur, siang mokel, dan sore buka bersama, bus tidak mempermasalahkan. 

Ada juga, tidak puasa tapi ritual lebaran dinikmati seolah merasakan perjuangan puasa. Ramadan atau bus tidak peduli akan hal itu. Ya, sekali lagi bus cuek saja. Satu tujuan silakan masuk. 

Pencapaian kontemplatif itu, membuat saya memecahkan ke persoalan lebih luas. Persoalan yang mungkin beberapa bulan ini terjadi pada diri saya. Tentunya, jika saya bisa seperti Ramadan dengan menjadi Bus, tidak akan ada sesuatu beban yang serius. Beban manusia itu diciptakan sendiri. 

Ya, beban itu diciptakan sendiri. Dulu, saya tidak punya beban ketika ditunjuk sebagai ketua karang taruna dusun. Tidak punya beban ketika ditunjuk menjadi koordinator kebersihan desa. Tidak punya beban menjadi dosen dengan kondisi mahasiswa yang spiritnya kembang kempis dalam belajar. Tidak punya beban menyelenggarakan kegiatan kesenian. Tidak punya beban mencintai seorang perempuan dengan kasih yang tulus dan kesetian yang tak tergoyangkan. Hampir semuanya tidak ada beban sedikit pun. 

Namun, ketika kaki sudah dilangkahkan dan hati sudah ditata. Maka muncullah pernak-perniknya. Pernik kecil, karena terlalu kecil kadang diabaikan, sampai akhirnya membesar dan menyilaukan. Ketika sudah silau, maka semua pada memperhatikan. Tentunya, hal yang indah itu memunculkan dua peminat: kagum dan membenci. Orang yang kagum, maka akan dipuja dan memberi dukungan.  Orang yang membenci, maka akan mencela dan cara menjatuhkan. 

Lah, jika hal itu dihadapi dengan ruwetnya pikiran maka akan dianggap beban. Padahal hal itu juga munculnya dari keteledoran atau abainya tentang hal kecil. Saya pun akhirnya terkepung dengan segala aktivitas tersebut. Semua seperti saling menusuk dan tidak mendukung. Satu aktivitas menggerogoti aktivitas dan perhatian yang lainnya. Semua bermuara pada satu titik, pecahlah kepala. 

Hampir diri ini putus asa. Sampai akhirnya di Ramadan ke-9 ini membuat saya menemukan bus. Ramadan itu mirip bus. Tentunya, saya harus bisa menjadi bus. Terus berjalan dengan tujuan bermacam-macam. Permasalahan dengan tujuan ini, jika memang itu perlu diperhatikan dan untuk perbaikan diri ya diterapkan. Sisanya, cuek saja, karena itu kecemburuan yang membuat jatuh. 

Ya, menjadi bus atau tidak memperhatikan yang menjatuhkan dan terus berjalan hingga tujuan harus dilakukan. Selamat menaiki bus. Selamat menjalankan Ramadan. Selamat beraktivitas. Tentunya, senyum itu adalah ibadah. Bus saya pun harus penuh senyuman. Sampai jumpa di tempat tujuan. Tabik.