Jungkir

Entah rasanya sejak kapan ini mulai terjadi. Rasanya tiap kali pulang ke rumah kedua, kini sudah ada saja perasaan ini. Perasaan yang seharusnya tidak dirasakan ketika di rumah. Bejinjiten. 

Saya memang tipe orang lembut. Namun perlu diingat, kelembutan itu memiliki sisi yang keras. Bila kelembutan itu tergores, maka akan meninggalkan sayatan yang mendalam. Sedalam ingatan kerinduan. Kuat. Lekat. 

Sayangnya, sayatan itu bukan sayatan rindu. Sayatan itu adalah sayatan luka. Luka yang mengores ingatan karena melukai rasa. Rasa yang paling peka. 

Luka itu, luka yang diberikan pengayom di rumah kedua. Sosok yang seharusnya meneduhkan. Sosok yang seharusnya menentramkan. Kini itu semua berubah. Hanya ada gerah, resah, dan suntuk yang terantuk. 

Kata-katanya telah melukai. Tidak hanya sekali. Berkali-kali. Namun puncaknya, teramat pedih. Sungguh, sejak itu rasanya tiap kali menginjakkan kaki di sana hanya kepedihan yang ada. 

Maafkan daku. Diri ini taksanggup tinggal lebih lama, sayangku. Bila kaurindu padaku, bilanglah. Maka aku akan menjemputmu. Tresnoku siji, ora isok diganti. Dadine loro nang ati iki, ora iso mbedol tresnoku marang slirahmu. I lap yu.

Penulis: AKHMAD FATONI

Lahir di Mojokerto, 29 Pebruari 1988. Alumnus S1 sastra Indonesia, Unesa (2010) dan S2 Kajian Sastra dan Budaya Universitas Airlangga (2016). Bukunya: (1) Lengan Lirang (Puisi, 2012); (2) Kredo Mimpi (Esai, 2014); (3) Tembang Dolanan (Puisi, 2015); (4) Meja Nomor 8 (Cerpen, 2016). Email: fatoni.akhmad@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.