Dokumentasi Pranikah

Satu kerja dokumentasi selesai. Siap dikirim ke pelanggan. Selain menulis dan teater, saya menekuni fotografi. Dan ini adalah hasil dari melakukan foto pranikah. Aktivitas saya itu saat ini didampingi istri, sebagai penata riasnya. Dulu masih kerja bareng dengan rekan. Sejak istri saya ikut membantu, saya dirikan SIFJATNIKA. Begitulah. 

Iklan

Malas Olahraga

Kali ini saya ingin menulis catatan harian. Malas olahraga. Entah, perasaan malas ini muncul sejak kapan? 

Jelasnya, hal ini sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. Sesuatu yang berbau olahraga pasti tidak menarik perhatian saya. Alhasil, kondisi badan saya tidak baik (jika memang tidak bisa dikatakan kurang sehat). 

Saya sering merasa capek. Terus gampang sakit semua jika bekerja berat, seperti mengangkat sesuatu yang berat, mencangkul, melinggis, dan aktivitas yang berkaitan dengan berkebun atau bertani. 

Terus selain mudah capek, ada bagian dari tubuh saya yang membengkak? Apa membengkak? Iya, saya menyebutnya begitu. Perut saya menjadi tambun. Mirip perut perempuan hamil. 

Aktivitas saya memang lebih banyak duduk. Ketika menulis duduk. Ketika mengajar, duduk. Ketika membaca, duduk. Ketika belajar main gitar, duduk. Ya, hampir aktivitas yang saya kerjakan lebih banyak duduk. Jadinya, perut saya semakin membesar. 

Badan mudah capek dan perut membesar, adalah resiko yang harus saya terima dengan sedih. Apalagi ketika mau memulai berolahraga atau sejenisnya yang lebih banyak bergerak. Ah, rasanya sangat berat. 

Sudahlah, mungkin itu catatan pagi ini. Mungkin sekarang saya harus menambah jadwal berjalan kaki lebih banyak dari biasanya. Ya, mungkin itu langkah awalnya. Kamu jangan malas berolahraga ya, biar tidak seperti saya. Biar kamu tidak sedih. 

Sepatu Baru

Ibu aku ingin sepatu baru
Sepatu yang bisa menyala
Hijau, merah, kuning, dan biru

Ibu belikan aku sepatu baru
Biar sama dengan teman-teman
Dan bisa kupamerkan esok di lapangan

Ibu aku hanya ingin sepatu
Aku rela tidak jajan seminggu
Asalkan ibu membelikan sepatu baru
Sepatu yang bisa menyala

Mojokerto, 08 Nopember 2017
puisi anak #1

Dikepung Cerita-cerita

Cerita adalah hal utama dalam hidup manusia. Layaknya makan dan minum. Bedanya, bercerita adalah konsumsi batin. 

Ketika bangun tidur, cerita pertama akan terjadi saat ibu-ibu belanja. Tukang sayur adalah terminal pertama cerita itu terlahir. Ibu dari segala penjuru kampung berkumpul dan melemparkan cerita yang telah didapatnya. Satu per satu, ibu-ibu akan melontarkan ceritanya sembari memilih-pilah sayur, lauk, atau ikan yang akan dibeli. 

Terminal kedua, ketika ibu-ibu selesai memasak. Tentunya rutinitas ini hanya dilakukan oleh perempuan yang memang fokus mengurus wilayah domestik. Mereka akan berkumpul di titik ternyaman yang sudah dikondisikan. Entah tempat mereka berhenti sambil mengantar anak- anaknya yang mulai tumbuh dengan dikenalkan dunia akademik, Taman Bermain, Taman Kanak-kanak, atau SD. 

Jenjang terakhir SD, sebab ketika si anak sudah mulai memasuki masa remaja (baca: beranjak gede), orangtua mulai berlahan membiarkan anaknya melakukan aktivitasnya sendiri. Selain dididik mandiri, secara psikologi masa puber membuat mereka akan malu jika masih diantar atau dipersiapkan kebutuhannya oleh ibu mereka. 

Jika ibu-ibu itu wanita karier, maka terminal ceritanya akam terjadi di tempat kerja. Sebelum aktivitas dimulai tentunya. Pada tahap ini, kaum laki juga sama: bercerita. Sembari minum kopi dan merokok. Cerita-cerita terus diproduksi-konsumsi.

Satu-dua, mungkin ada yang tidak suka bercerita. Mereka lebih memilih menjadi pendengar setia. Menimbun semua cerita-cerita. Namun bukan berarti orang tipe seperti ini tidak akan melakukan aktivitas “cerita”. Hanya saja, perspektif mereka berbeda. Cerita akan dilakukan hanya dalam kondisi dan situasi yang benar-benar sesuai dengan karakternya. Jika dianggap tidak sesuai, maka cerita itu hanya dijadikan himpunan bank cerita. 

Terminal cerita kedua, terjadi ketika ibu-ibu sudah selesai membersihkan rumah dan selesai mandi tentunya. Mereka memilih tempat untuk bersantai. Dan mereka pun akan berkumpul dan bercerita. 

Hal itu juga dilakukan oleh wanita karier dan juga para lelaki di tempat kerjanya. Mereka akan membicarakan pekerjaan, baik sesuai atau yang tidak sesuai. Cerita akan dilanjutkan dan berkembang jika masalah pekerjaan rampung. Perkembangan itu kembali pada wilayah domestik: istri/suami dan anak. Bagi yang masih lajang, maka akan menceritakan orang-orang yang membuatnya tertarik atau bidang yang mereka sukai, termasuk hobi. 

Cerita terus saja diproduksi. Siang, sore, dan malam. Namun cerita itu akan menjadi lebih berwarna ketika akan dibumbui pendapat pro dan kontra. Hal itu akan membuat cerita semakin menarik dan tentu ada emosi di dalamnya. Layaknya cerita-cerita yang dituliskan oleh cerpenis atau novelis. Sama. Disadari atau tidak, itu memang benar-benar terjadi di sekitar kita. Penulis mengangkatnya dalam bidang mereka. Oleh sebab itulah, cerita-cerita itu disebut oleh ahlinya (kritikus sastra) sebagai cerminan realita. Dan melahirkan pola pendekatan mimetik (karya sastra atau cerita yang merupakan tiruan dari realita). 

Kegiatan bercerita itu, benar-benar tidak bisa lepas dari kehidupan manusia. Kebutuhan. Budi Darma menyebut hal itu dengan istilah homo ludens dan homo fabulans. Kita adalah makhluk yang dibesarkan oleh cerita-cerita. Proses penciptaan itu, karena berlebihan, oleh pilah yang tidak menyadari bahwa kebutuhan bercerita itu sebagai kebutuhan akhirnya diberilah gelar: gosip

Remaja dan anak-anak yang berbaju merah ini sedang bercerita dengan dibarengi aktivitas makan. Orang-orang yang berada di sekitarnya memandang dan memperhatikan aktivitas mereka. Silakan dibayangkan jika aktivitas mereka diberi respon positif dan negatif bagi orang-orang yang memperhatikan itu.

Tentunya, jika dicermati kata “gosip” adalah kata yang diucapkan dengan perasaan tidak suka atau negatif. Namun jika bisa mencermati dengan detail, sesungguhnya keburukan dan kebaikan itu memang diciptakan sejajar. Berpasang-pasangan. Jika menurut Levi Strausss disebut sebagai oposisi biner. 

Tentunya, kita tidak akan bisa lepas dan benar-benar lepas dari cerita. Kita dibesarkan oleh cerita-cerita. Bergantung bagaimana kita bisa menyikapi cerita yang terus tercipta itu, positif atau negatif. Jika dengan negatif, maka arus negatif akan tumbuh dalam diri kita. Begitu juga sebaliknya, jika kita menyambut dengan arus positif, maka akan memperkaya batin dan karakter kita karena itu adalah konsumsi batin. Laiknya, makan dan minum yang selalu kita berikan pada tubuh kita. Jadi, silakan memilih cara terbaik untuk hidup bersama cerita-cerita. Kita adalah apa yang kita pikirkan. *

Musikalisasi Puisi dengan Kelompok Mandiri

Beberapa tahun lalu, saya memang aktif dalam dunia musikalisasi puisi dengan kelompok Sampan Tanpa Lautan (STL). Jika ingatan saya tidak lupa, terakhir bermain di Gedung PBNU Jatim. Letaknya tepat di depan Masjid Agung Surabaya. 

Setelah itu, kita hanya bermain di acara kecil di Mojokerto. Lah, sejak itu kelompok kami benar-benar sudah tidak bisa lagi diajak bermain. Masalah internal sudah tidak bisa teratasi dan (mungkin) membuat STL hanya tinggal kenangan dan di ingatan para fans (jihuy nggak kuat kayak kelompok papan atas aja deh). 

Atas kisah tersebut, ingatan tentang saya yang punya kelompok musikal melekat di benak orang-orang yang diam-diam memperhatikan saya (yuhu, lebay deh). Hal itu akhirnya beberapa bulan lalu ada permintaan untuk musikalisasi puisi. Permintaan itu tidak langsung saya terima. Bukan soal permintaan bermain terlalu banyak, tentunya (kamu sudah bisa menduga) karena tim saya sudah tidak bisa manggung lagi. 

Kali pertama, saya berusaha menghubungi kru STL. Ada perasaan kangen juga di benak mereka dan berusaha menyambut dengan antusias. Namun ternyata dengan segala kondisi yang melatarbelakangi, akhirnya STL tidak bisa hadir. 

Waktu untuk manggung sudah tinggal seminggu. Akhirnya aku bertemu dengan Adhim Muhammad dan Silva Anggi Lestari. Ya, akhirnya kita berlatih. Sembari berlatih kita menghubungi beberapa rekan lain. Terkumpul. Namun karena jadwal manggung dan juga kegiatan yang mulai padat. Saya memutuskan berangkat bertiga. 

Tanpa ada persiapan tim dokumentasi, jadinya dokumentasinya ala kadarnya.

Kala itu, puisi saya yang digarap berjudul: Malam Menjelang Pagi, Memo Sebuah Wajah, dan Istriku: Apa Benar itu Kau? yang terhimpun dalam buku Lengan Lirang. Setelah ketiga puisi itu kita lantunkan. Tiba-tiba moderator acara meminta saya duduk bersama para pembicara. Loh, padahal permintaannya musikalisasi. Yah, akhirnya saya pun tidak bisa menolaknya. 

Akhirnya, saya pun menemani dan ikut-ikutan jadi pembicara.

SMAN Mojoagung menggelar kegiatan ini dalam rangka memperingati Bulan Bahasa. Topik utamanya yaitu gerakan literasi dengan mendatangkan Madi Ar-Ranim (penulis asal Lampung) dan Anggi Putri (penulis asal Mojoagung). 

Akan tetapi, karena rerata peserta anak SMA, kegiatan dibuat seperti talkshow biar tidak sampai terjadi kelengangan. Konsep yang cukup matang. Alhasil, acara berjalan mulus. Apalagi ketika moderator memberi hadiah kepada peserta yang mau bertanya. Sontak, banyak peserta berebutan bertanya. 

Dan sebagai catatan, saya sangat suka pengemasan acara diskusinya. Digelar seperti acara ILC (Indonesia Layer Club). Peserta diduduk di meja dengan di depannya ada hidangan kue-kue basah. Glamor. Sepanjang acara yang pernah saya datangi, biasanya acara semacam ini suguhannya kopi atau polo pendem. Tentunya acara ini sangat menawan. Semoga suatu saat nanti bisa berkunjung kembali ke Smanema.


Dadang Ari Murtono dan Perempuan Tua dalam Rashomon

Pagi ini, tiba-tiba teringat tentang Dadang Ari Murtono (DAM). DAM adalah seorang sastrawan muda kelahiran Mojokerto. Karya-karyanya sudah banyak termuat di media massa Indonesia, baik koran, majalah, jurnal, buletin, tabloid.

DAM telah memutuskan untuk fokus di dalam dunia kesusastraan. Aktivitasnya secara penuh waktu untuk menulis. Ia sudah tidak lagi membagi waktu dengan bekerja di bidang lain selain menulis. Ketekunan dan kejelian di dalam memandang sesuatu, membuat karya-karyanya memiliki daya tarik tersendiri, khas.

Tentunya perjuangan tersebut, membuat karya-karya DAM diburu penerbit. Beberapa karyanya pun terbit ke dalam buku. Beberapa di antaranya, Wisata Buang Cinta (Kumpulan Cerpen), Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (Kumpulan Cerpen), dan Ludruk Kedua (Kumpulan Puisi). Konon, sebentar lagi novelnya juga akan segera terbit. Selain buku tersebut, ada pula buku kumpulan bersama dengan penulis lain yang juga memuat karya-karyanya.

k_614_090452_wisata_buang_cintaBelantara Samargod copyLUDRUK_KEDUA___DADANG_ARI_MURTONO

Kariernya yang cemerlang tersebut membuat banyak orang memandang sinis terhadapnya. Sampai akhirnya DAM benar-benar dijatuhkan, sejatuh-jatuhnya ketika cerpennya dimuat di dua media sekaligus. Cerpen itu berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon. Awalnya cerpen tersebut dimuat di Koran Lampung Post. Setelah itu, cerpen tersebut dimuat di Koran Kompas. 

 

kompas-perempuan-tua-dalam-rashomon

Memang pemuatan ganda di media, kerap kali membuat para sastrawan mencibir penulis yang memiliki keberuntungan tersebut. Entah atas dasar apa, hal itu selalu digunjingkan. Namun tidak hanya perihal pemuatan ganda saja. Ada seseorang yang mengatakan cerpen tersebut plagiat dari cerpen Rashomon karya Ryūnosuke Akutagawa. Akutagawa adalah sastrawan Jepang (1982-1927).

rashomon-cover4

Kejadian itulah yang akhirnya membuat dirinya terpuruk dan hampir tidak mau lagi menulis. Memang kala itu, hampir semua penulis dari seluruh Indonesia mengatakan tindakan DAM tersebut tidak layak dilakukan seorang penulis. Perkataan dari halus hingga sangat kasar diterima DAM dengan hati perih. Ya, karena kejadian itu Indonesia hampir kehilangan penulis muda potensial. Dan untunglah seorang perupa Sofi’i Eko Prawiro atawa Eko Nono membuat DAM bangkit.

“Aku selain melukis, bisa melakukan banyak hal, membuat undangan, mendekor, membuat properti, tapi kamu? Ladangmu hanya di koran. Jadi, piye caramu harus kembali menulis.” wejang Eko Nono.

Akhirnya, DAM kembali bangkit. Ia kembali menulis untuk media dan setelah berjalan beberapa bulan. Gunjingan tentang kasus DAM akhirnya hilang dan tertelan kasus serupa yang tidak mendapatkan perlakuan sama. Hal itu salah satunya, mungkin, membuat DAM bangkit.

Namun saya akhirnya mendengar ucapan dari Abdul Malik yang merupakan pesan dari Prof. Djoko Saryono bahwa karya Dadang tersebut bukanlah plagiat. Namun sang profesor tidak membuat ulasan tentang fenomena tersebut (kala itu). Hal itu membuat saya bertanya-tanya. Lalu beberapa bulan setelahnya, saya pergi ke Jogja dan sempat bertemu dengan Indrian Koto. Koto mengatakan hal yang sama, bahwa “tindangan DAM bukan plagiat, namun kita saja yang masih belum terbiasa.”

Berangkat dari apa yang dikatakan oleh Prof. Djoko Saryono dan Penyair Indrian Koto tersebut akhirnya saya menulis sebuah kajian membahas kasuistik DAM tersebut. Kajian saya itu akhirnya dimuat di Jurnal Pena Indonesia. Jika kamu belum pernah membaca kajian tersebut bisa menengok di laman Jurnal Pena Indonesia atau bisa langsung unduh di tautan saya: Kajian Postmodernisme. 

Bagaimana kabarmu DAM? Semoga selalu sehat selalu. Saya tunggu novel terbarumu. Kita sudah tidak lagi sering bersama. Kecintaan kita dalam sastra telah membukakan jalan yang berbeda. Jalur itu tetap dalam haluan sastra. Salah satunya, yaitu dalam bentuk-bentuk kajian seperti ini dan juga dalam bentuk pembibitan penulis. Ya, saya lebih tertarik di sana. Dan kamu, lanjutkan kariermu dengan terus menulis dan mengirimkan karyamu ke media massa dan penerbit. Juga, tolong jangan menolak ketika ada orang mengundangmu menjadi pembicara. Setidaknya dengan menjadi pembicara, kamu akan berbagi ilmu di sana. Ya, berbagi ilmu. Dunia yang kini saya tekuni itu. ***

Mengajari Menulis

Sering kali saya diundang untuk mengisi pelatihan menulis, baik acara formal maupun nonformal. Tentunya hal itu selalu saya kerjakan dengan suka hati, sebab sejak 11 tahun lalu menulis adalah dunia yang sudah saya pilih-tekuni.

Ada kalanya mengisi materi kepenulisan di sekolah. Hampir semua jenjang, mulai dari SD, SMP, sampai SMA. Memang yang paling sering tentunya tingkat SMA. Dan paling menggemaskan itu ketika memberi pelatihan di tinggat SD. Ah, benar-benar menggemaskan. Tentunya selain itu, saya salut dan bangga, seusia mereka sudah diarahkan menuju kegiatan positif.

Sesekali juga diundang perguruan tinggi untuk mengisi kuliah umum kepenulisan. Tingkat ini memang tidak sesering di tingkat sekolah. Kampus yang beberapa tahun ini sempat saya isi kuliah umum kepenulisan yaitu STKIP PGRI Jombang, Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto, dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Lembaga nonformal yang pernah saya isi pelatihan menulis yaitu pondok pesantren. Memang ini tingkat pembelajaran menulis yang unik menurut saya. Sebab pesantren biasanya lebih fokus ke dalam pembelajaran kitab. Jika belajar menulis, ini amat menarik. Jadinya, ketika mengisi pelatihan menulis di pesantren, saya amat antusias. Tentunya jika ingin memondokkan anaknya di tempat yang ada kegiatan menulis yaitu di Pondok Pesantren Darul Falah Jeruk Macan, Jetis Mojokerto dan di Pondok Pesantren Guluk-Guluk, Sumenep Madura. Ya, baru dua itu yang saya ketahui ada aktivitas kepenulisan. Dan satu lagi, tapi ini dulu (ketika saya wawancara pengasuhnya masih dalam perencanaan) dan sampai sekarang saya belum ke sana. Entah program penulisan sudah diberlakukan atau belum, Pondok Pesantren Darul Ulum Kompleks Al-Hambra, Peterongan, Jombang.

Selebihnya, masuk di forum, komunitas, dan kegiatan-kegiatan insidental. Lalu, kenapa di blog ini tidak diberi materi kepenulisan? Ya, saya di sini lebih suka santai. Hanya ingin berbicara tentang hal-hal kecil atau berceloteh.

Dan celotehan ini, saya pun ingin mengabarkan bahwa saya sedang melatih menulis istri saya. Ia saya minta menulis. Masak suaminya melatih menulis dari satu tempat ke tempat lainnya, tapi istrinya tidak dilatih menulis. Tentu sangat ironis bukan? Lah, atas dasar itu akhirnya istri saya latih menulis.

Ia selalu tidak PD. Namun saya kerap memberi arahan, bahwa segalanya itu proses. Dan ia pun berproses. Prosesnya bisa ditengok di sini. Jika punya waktu, silakan ditengok dan menjadi saksi proses kepenulisannya.

Kalau ini saya pas lagi menulis, eh, dia malah manja. Baru setelah saya selesai menulis, ia saya minta menulis dan membuat blog sebagai medianya. Ya, yang ngintip itulah si doi.

Bulan Madu ke Jogja

Ceritanya ini gara-gara si Silva buka medsos, entah apa nama akunnya lupa. Ia menemukan tempat-tempat wisata yang recomended. Oh iya, hampir lupa menceritakan si Silva itu siapa. Si Silva ini adalah istri saya tercinta. Biar kesannya enak, saya pakai nama saja, tidak menggunakan kata istri.

Setelah Si Silva mengobok-obok medsos yang sudah diikutinya. Ia tiba-tiba menyodorkan hapenya ke saya. Saya pun melihat wajahnya, menatap matanya. Lama dan dalam. Lalu saya pun bertanya, “Mau bulan madu ke Jogja?” seperti biasa, ia tidak menjawab, hanya senyam-senyum saja.

Maka kita pun memutuskan untuk bulan madu ke Jogja. Padahal ketika merencanakan bulan madu, Jogja sudah dicoret dari daftar tujuan. Gegara melihat foto-foto di akun yang diikuti si Silva, kita pun memastikan pilihan bulan madu kita ke Jogja. 

Saya pikir, tempat di foto itu memang belum disamperi. Kita pun memastikan dua minggu lagi berangkat. Rencananya mau naik kereta api. Si Silva sangat senang dengan kotak besi panjang itu. Entah kenapa. 

Tentunya, sebagai saran tolong rekan-rekan memberikan rekomendasi penginapan yang terjangkau di jogja. Atau tempat kos harian. Biar lebih murah. Sebab rencananya kita bulan madu ini ala backpaker. Tentunya selain hemat, biar kenangannya melekat.

Bisa juga teman-teman merekom tempat menarik di Jogja. Ditunggu ya….

Foto ketika kita ke Jogja beberapa bulan lalu, ketika masih pacaran. Dan sekarang kita akan ke sana lagi dengan status sudah berubah. Jogja, kita akan kembali menjengukmu.