Ronda Sastra: Edisi Mengenang Hardjono WS

Silakan bergabung, jika mau mengisi acara bisa langsung menghubungi nomer yang tertera: Mas Asrori.

Iklan

Jangan Salahkan Orang Malas

Tentunya orang malas sangat-sangat menyebalkan. Namun orang malas itu jangan selalu disalahkan. Memang sih orang malas itu tidak memiliki ritme pekerja. Hal itu yang membuat pemalas akan banyak dicaci-maki. 

Namun sebelum mencaci, coba tanyakan pada diri dan hatimu yang terdalam. Tanyakan apakah kamu tidak pernah terjangkit penyakit malas. Jika tidak pernah, maka silakan mencaci dan memaki sepuasmu. 

Kalau saya yang bertanya, tentunya kepada diri saya sendiri, pasti saya urung mencaci, apalagi memaki orang yang (sedang) malas. Sebab saat ini (ya, sekarang ini, pas menulis tulisan yang kamu baca ini), saya sedang malas akut. Rasanya tidak ingin melakukan apa pun. 

Dan karena malas pulalah akhirnya saya menulis tulisan ini. Ya bisa dikatakan sebagai pembela. Bisa juga dikatakan sebagai refleksi. Juga bisa dikatakan sebagai rekreatif.

Maka dari itu, biarkan saja jika seseorang sedang malas. Jangan memaki, mencaci, atau menyuruh orang yang sedang malas. Akan terjadi kobaran yang tidak membuat orang sedang malas bergerak, tetapi malah melakukan hal sebaliknya. 

Jadi, ketika malas. Nikmati. Tentunya jika penyakit malas itu sembuh, orang tersebut akan melakukan sesuatu. Tidak akan diam selamanya (atau malas). Memang tiap orang memiliki kadar malas berbeda-beda. 

Jadi, bagi kamu yang ingin berhadapan dengan orang malas bisa melakukan dua hal. Pertama, melakukan hal yang berlawanan dengan orang malas itu di depannya. Kedua, tunggulah orang malas tersebut, jika bisa cara menunggunya lebih menunjukkan kemalasan yang berlipat-lipat. 

Apakah itu ampuh? Silakan dicoba. Saya sudah mencobanya. Dan hasilnya, tentu saja menarik. Tidak percaya? Baiklah, daripada berdebat, lebih baik kamu mencobanya sekarang juga. 

Mengkritisi atau Mengritisi

Dua kata tersebut sering kita lihat dan baca. Keduanya memiliki maksud yang sama, namun manakah penulisan yang benar? Oke, mari kita singgung.

Sebelum berbicara yang benar. Maka kita cakapkan rumusnya terlebih dahulu. Bahasa Indonesia ada rumusnya? Rumusnya KTSP. Apa itu rumus KTSP? 

Rumus KTSP adalah rumus jika ada huruf konsonan K, T, S, dan P bertemu dengan awalan me-, maka keempat huruf tersebut harus dilesapkan (dihilangkan). Sebagai ilustrasi, maka kita tentukan dulu kata yang berawalan keempat konsonan tersebut. 

Kita tentukan tiap huruf, satu kata. Misal, kunci untuk K, sapu untuk S, tata untuk T, dan pakai untuk P. Keempat kata tersebut jika diberi imbuhan me-, jika rumus diterapkan maka penulisannya menjadi: mengunci, menyapu, menata, dan memakai. 

Biar lebih jelas, akan saya terapkan lebih terperinci. Bisa disimak berikut:

Kunci+(me-)+nasal= mengunci

Sapu+(me-)+nasal= menyapu

Tata+(me-)+nasal= menata

Pakai+(me-)+nasal= memakai

Bunyi nasal, juga ada rumusnya:

Me- bertemu kata berawalan K bunyi nasalnya: ng

Me- bertemu kata berawalan T bunyi nasalnya: n

Me- bertemu kata berawalan S bunyi nasalnya: ny

Me- bertemu kata berawalan p bunyi nasalnya: m

Jika dirangkai secara berurutan, maka seperti ini:

(Me-)(ng)+kunci= meng(k)unci

(Me-)(ny)+sapu=meny(s)apu

(Me-)(n)+tata= men(t)ata

(Me-)(m)+pakai= mem(p)akai

Jadi penulisannya tidak mengkunci, menysapu, mentata, dan mempakai, tetapi mengunci, menyapu, menata, dan memakai. 

Hubungan dengan mengkritisi dan mengritisi di mana? Hubungannya sejauh ini baik-baik saja. Eit, tenang hanya bercanda, biar tidak terlalu serius. 

Begini, rumus KTSP itu tidak berlaku buat kata berawalan kluster. Apa itu kluster? Kluster itu konsonan ganda. Maksudnya bagaimana? Ya seperti kata kritik itu contohnya. Kata kritik, diawali dengan konsonan ganda k dan r. 

Berdasar ulasan tersebut, maka penulisan yang tepat untuk kritik berawalan (me-) seharusnya:

(Me-)+ng+kritik= mengkritik

Rumus KTSP tidak berlaku untuk kata kritik. Jadi, penulisannya harus mengkritik tidak mengritik. 

Jika sudah tahu rumus dan penerapannya rumus KTSP, tentunya mari menerapkan hukum itu dalam perilaku berbahasa kita. Mari berbahasa Indonesia yang baik. Kalau bukan kita, siapa lagi? 

Pelatihan Gratis

UPT Pelatihan Kerja Mojokerto pada tahun 2018 membuka pelatihan gratis. Pelatihan yang diselenggarakan ini merupakan gelombang I. Program ini membuka pelatihan di antaranya:

  1. Adminitrasi Perkantoran
  2. Mekanik Junior Mobil
  3. Mekanik Junior Sepeda Motor
  4. Operator Basic Office
  5. Pengolahan Hasil Pertanian
  6. Operator Mesin Bubut
  7. Teknisi Refrigerasi Komersial
  8. Instalasi Tenaga
  9. Audio Video
  10. Bordir
  11. Furniture
  12. Menjahit
  13. Las Industri

Semua pelatihan itu tidak dikenakan biaya. Namun untuk mengikutinya harus melengkapi persyaratan sebagai berikut:

  1. Fotokopi Ijasah terakhir 2 lembar
  2. Fotokopi KTP, memanjang: atas-bawah 2 lembar
  3. Fotokopi KK 2 lembar
  4. Pas Foto 4×6 3 lembar (bebas rapi)

Semua perlengkapan tersebut dimasukkan ke dalam stopmap merah. Jika sudah lengkap, maka melakukan pendaftaran di Gedung Kios 3 in 1 UPT Pelatihan Kerja Mojokerto. 

Pendaftaran ditutup sewaktu-waktu, bila kuota sudah mencukupi. Peserta yang sudah mendaftar, pada 1 Pebruari 2018 akan dilakukan seleksi. Di saat tes maupun melakukan pendaftaran, diharapkan menggunakan baju berkerah dan bersepatu. 

Info lebih lanjut:

0321-323237

http://www.kios3in1.net

Pelatihan Gratis
Poster Pelatihan

Jika kamu ingin belajar ilmu baru, maka bisa mendaftar. Ayo sebelum ditutup. Saya sudah mendaftar hari ini. Saya ikut pelatihan Audio Video. Sampai ketemu tanggal 1 Pebruari mendatang. 

Berkunjung ke Suku Tengger di Bromo

Pekan lalu, saya mendampingi mahasiswa Universitas Islam Majapahit (Unim) Mojokerto, melakukan studi lapangan di Desa Ngadisari, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Prop. Jawa Timur. Proses pembelajaran tersebut bertujuan untuk mempelajari kebudayaan Suku Tengger. Suku yang merupakan subsuku Jawa. 

Kegiatan berlangsung singkat, kita sampai di sana kurang lebih pukul 00.55 WIB, dini hari. Kita berangkat dari kampus sekitar 20.55 WIB. Sensasi yang dirasakan adalah dingin. Brrrrr. Kegiatan kali ini, benar-benar bonek. Kita tidak menginap di penginapan atau hotel, sebab biaya ini swadaya. Jadinya, kita melobi fasilitas gratis dari pemerintahan desa. Perundingan sempet alot. Kita diarahkan untuk menginap atau menyewa rumah warga (home stay). Atas dasar dana yang mripit, pelobian dilakukan kembali. Dan akhirnya, aula pun bisa kita tempati. Tentunya, efeknya kita harus menahan dingin selama 3 hari 2 malam di ruangan tanpa sekat itu. Mantap. 

Lepas dari itu, program pengamatan dan wawancara untuk menggali 7 unsur kebudayaan pun dilaksanakan. Tentunya, meskipun singkat, setidaknya saya telah mengajak mahasiswa itu untuk berkenalan langsung dengan kebudayaan Tengger. 

Tentunya, hal itu diharapkan mampu mendapatkan pembelajaran langsung bagi mahasiswa dan mahasiswi saya itu. Efeknya semoga mampu menjadi pondasi kecil dalam benak mereka untuk mempertahankan kebudayaan Indonesia kelak. Ya, suatu ketika nanti. Karena kebudayaan itulah salah satu kekayaan Indonesia selain SDA. 

Semoga saja, hal itu mampu membuat mereka bisa mendapatkan pembelajaran. Dan tentunya selesai belajar, mereka saya ijinkan untuk berwisata ke kawah Bromo di Minggu pagi. Setidaknya, mereka bisa merasakan kenikmatan di puncak kegiatan, karena sudah dua hari menahan dingin. 

Tentunya, kisah itu mereka harus melaporkan. Sejauh mana pengamatan dan wawancara yang telah mereka lakukan. Saat ini masih proses. Bila sudah kelar, baru dicetak sederhana, sebagai pengingat. Dan juga senjata melawan lupa.

Investasi Bitcoin 

Beberapa hari lalu, saya mengunduh aplikasi Youtube Go. Sebenarnya ini efek terpengaruh iklan, kamu pasti sudah tahu iklannya toh? Ituloh yang pawang hujan, lalu tiba-tiba kuotanya habis. Lah, ya iklan itu yang berhasil memengaruhi saya. Terunduhlah Youtube Go.

Setelah itu, mulailah mengunduh video yang dibutuhkan. Lebih banyak film memang. Salah satu film itu yaitu Hacker. Film tersebut ternyata pencurian Bitcoin. Dan pagi ini, saya tiba-tiba mencari informasi di google dan ternyata Bitcoin itu sedang marak. Wah, unik ini. 

Saya pun penasaran dan membuka akun serta mengunduh aplikasinya pula. Kalau sekilas saya lihat sih, seperti Forex. Sudah ada yang tahu tentang bitcoin? Bagaimana menurutmu?

Beradaptasi Pascanikah

Kadang saya tidak percaya kalau memang sudah menikah. Sesekali muncul  ketidakpercayaan, “Nggak nyangka, aku sudah nikah.” 

Tentunya, sekarang saya benar-benar tahu logika berpikir seseorang masih bujang dan sudah menikah. Saya dulu kerap, membicarakan rekan atau kenalan yang sudah mulai jarang aktif di kegiatan, pergaulan, organisasi, dan kegilaan dalam hobi. Dan jawaban itu sudah saya alami sekarang. Saya akhirnya menjadi maklum tentang perubahan orang-orang pascanikah. 

Untungnya, saya menikah dengan perempuan yang memiliki kegilaan sama. Hal itu membuat banyak hal dari diri saya tidak hilang. Namun, tentunya pasti ada hal yang hilang. Karang Taruna Karya Remaja yang di organisasi tersebut saya sebagai ketua umumnya. Saya sudah mulai jarang berkegiatan, karena saya harus pulang ke rumah perempuan saya pascanikah. Lah, organisasi itu ada di kampung saya. Di situ masalahnya yang membuat saya jadi pasif. 

Kedua, kekompok drum band Karya Remaja Sumbertani. Kelompok yang merupakan imbas program dari Kartar. Saya sudah jarang aktif dan tidak bisa menemani aktivitas di kelompok musik tersebut. Padahal masih punya tanggungan mencicil alat (maklum dulu alatnya hutang), masih kurang Rp3.500.000. Nominal yang banyak buat organisasi pemerintahan, tapi tidak mendapat bantuan pengelolaan. Walhasil, saya menciptakan upaya membayar alat dengan swadaya. Dan Minggu tanggal 7 Januari 2018, lusa, mendapatkan job bermain di nikahan. Tentunya, saya juga tidak bisa aktif. 

Lembaga yang saya dirikan: Rumah Budaya Akhmad Fatoni (RBAF). Kegiatannya sudah banyak dan dikenal. Khususnya dalam pawai. Sudah kerap diundang keluar kota. Namun pascanikah, saya sudah tidak bisa memantau dan menggerakan aktivitas dengan baik. Hal itu membuat personil satu berselisih dengan lainnya. Kekompakan berkurang. Setiap berkegiatan selalu inginnya dapat uang sepadan. Hal itu, membuat beberapa personil pasif. 

Tentunya semua itu, kini mulai harus saya terima dengan lapang. Dulu, ketiganya membuat saya tidak kenal waktu. Bergerak hampir 24 jam. Tidur pun, karena memang sudah kelelahan dan tidak niat tidur. Gunjingan dari sana-sini. Tentunya, hal itu adalah konsekuensi yang harus saya terima. 

Kini saya lebih banyak waktu bersama keluarga baru. Perempuan tercinta dan keluarga. Lebih sering santai. Banyak makan dan tidur. Jarang bekerja lembur. Otomatis badan menjadi seger. Buncit. 

Ya, tentunya saya sekarang sedang berupaya menciptakan kesibukan baru. Kesibukan yang masih tetap di bidang sosial, seni, dan budaya. Namun, aktivitas bisa tetap menyokong perekonomian keluarga. Ya, ide itu sudah ada. SIFJATNIKA: Event Organiser. Itu bukan sekadar ide. Sudah ada job yang saya terima: prewedd, undangan klasik, sewa baju karnaval, rias, pesanan kua basah dan kering, pesanan aneka masakan: sate, gule, rawon, soto, dll. Khusus pesanan masakan, kadang tidak berupa makanan, tapi kadang hanya meracik bumbu dan memasakkan, pemesan menyediakan semuanya. Tentunya nanti akan berkembang, saat ini, Sifjatnika selain menyelenggaran kesenian, juga mewarnai dunia impian: pernikahan. Ya, ini masih proses menuju melenggapi peralatan pesta untuk disewakan. Juga kwade, sehingga bisa melayani dekorasi pernikahan. 
Tentunya, selain untuk memenuhi kebutuhan dan ekspresi diri. Harapan saya, biar perut ini tidak terlalu buncit. Dan celana-celana, kembali bisa dipakai, tentunya biar tidak perlu beli lagi. Hehehe