Terserang Flu

Si Abbad habis menangis, namun karena ekspresinya dapet. Ya difoto deh.

Musim yang ekstrim ini membuat banyak orang jatuh sakit. Siang suhu panas nyelekit, hingga rasanya berbekas di kulit. Malam sampai pagi, suhu dingin menyayat membuat tubuh menggeliat-geliat dan ingin rasanya terus di balik selimut tebal. Ya, kondisi semacam ini jika tubuh dalam kondisi sedang lelah. Maka akan mudah terserang penyakit. 

Penyakit yang lazim menjangkit pada pancaroba seperti ini yaitu gereges, batuk, dan pilek. Kondisi pancaroba pas kali pertama tiba, seisi rumah terserang, kecuali kaum perempuan. Mbah Ti dan Ibunya Abbad. Tentunya juga si Abbad. 

Kehati-hatian mendekat pada si Abbad dijaga bagi yang sedang sakit. Berharap agar Abbad tidak turut sakit. Dan itu membawa hasil, semua isi rumah sembuh. Abbad pun tetap sehat dan lucu.

Inilah yang namanya kehendak Allah. Maha dari segala Maha. Kun fayakun. Jika Allah berkehendak, maka terjadilah. Ibu si Abbad sakit. Sudah tiga hari. Gereges, batuk, dan pilek. Otomatis si Abbad pun ikut sakit. Ya, si Abbad sakit di hari keduanya. 

Si ibu, saya mintakan obat ke bidan langganan. Namun untuk kau nak, ayah taktahu harus bagaimana. Ada yang bilang, anak seusiamu belum boleh minum obat. 

Beberapa hari ini kau pun mulai rewel. Ayah tidak tega ketika mendengarmu terus menangis. Namun, ayah juga bingung harus bagaimana dan pilihan ayah hanya istighfar dan memohon kepada Allah nak. Ya, memohon agar kau segera diberi kesembuhan. 

Ayah semakin taktega ketika di sela menangismu, ayah mendengar suara lain. Krok. Suaranya keras. Sekeras batukmu nak. Setelah itu, kau pun kembali menangis. Aduh. 

Sampai akhirnya pagi ini, ayah menemukan formula. Miring dan tengkurap. Tidur miring, ayah tahu ketika kauhabis ngempot. Kau tertidur nak. Tidak lagi bernapas besar. Napasmu kembali anteng, seperti ketika kausehat. Tiada krok lagi.

Semalam pun, Mbah Ti mencucup ingusmu nak. Ayah taktahu bagaimana cara melakukannya. Beda dengan ayah. Ayah memilih memosisikanmu tengkurap. Ingusmu pun keluar. Cepat sembuh ya nak.

Iklan

Makan Pisang

Tingkahmu makin membuat ayah gemas nak. Ya, makin hari kau sudah mirip anak sudah gede saja. Padahal usiamu hari ini, masih 18 hari.

Nak, hari kau berumur 18 hari, Rabu, 3 Juli 2018. Tiada terasa, jika waktu ini dibiarkan berlalu dengan hal-hal indah rasanya begitu cepat. Ya, ayah merasakan hujan senyuman tiap waktu, bersamamu. 

Tiap malam sejak kaulahir selalu membuat seisi rumah tidak bisa tidur nyenyak, kecuali Om Ben. Namun itu bukan menjadi keresahan, malahan sebaliknya menjadi kebahagiaan. Dan itu mungkin dirasakan tiap pasangan yang baru kali pertama mendapatkan amanah seorang anak. 

Ayah amat bersyukur nak. Benar-benar bersyukur karena mendapatkan amanah (baca: anak) cepat. Ada pasangan yang sudah lama menikah, kadang tidak mendapatkan kebahagiaan seperti yang ayah rasakan. Ayah, benar-benar bersyukur. Maka dari itulah, meski kautiap malam terjaga hingga Subuh tiba, itu adalah kebahagiaan. Sungguh.

Dan hari ini, kaumulai makan pisang. Pisang Ambon. Secara usia, sebenarnya kaubelum waktunya makan pisang. Namun, ini adalah ilmu dari leluhur. Tradisi. Anak lelaki berbeda dengan anak perempuan, yang sudah merasa cukup hanya dengan ASI atawa susu formula. Akhirnya, hari ini kau pun mulai berkenalan dengan pisang. Pisang Ambon. 

Suapan pertama, habis 5 sendok. Pagi. Selanjutnya, tiap sejam kaukembali minum ASI. Dan baru siang ini, kaukembali makan Pisang Ambon. Tambah. Menjadi 6 sendok. Apa yang terjadi? Intensitas menangisnya berkurang. 

Ah, nampaknya kau memang nggak tuso hanya dengan ASI. Ya, mulai hari ini kaumakan pisang nak. Namun, hanya pisang Ambon. Tidak yang lain. Sebab di usiamu yang masih beberapa hari, apalagi belum selapan. Masih rentan. Dan ayah tahu, itu dari tradisi bukan dari ahli gizi atau bagian instalagi gizi tempatmu dilahirkan. Tidak nak, namun ini adalah ilmu dari leluhurmu. 

Maka pesan ayah, kelak ketika kaubesar jangan abaikan tradisimu. Jangan abaikan budayamu. Lestarikan dan cintai budaya tempatmu tumbuh. Aku mencintaimu nak. Lekas besar.

Tembakan Tahi

Sayang pas kejadian tadi ayah taksempat motret. Lah, kalau ini fotomu selesai tragedi tadi, langsung tidur nyenyak setelah mimik cucu.

Nak, Indonesia hari ini punya gawe. Rabu, 27 Juni 2018, dilaksanakan pemilukada serentak seluruh Indonesia. Ibu dan bapak hari ini memberi suara di tempat berbeda. Namun, perbedaan bukan berarti membuat ayah dan ibumu tidak mengeluarkan suara. Dan soal siapa yang terpilih, semoga itu yang terbaik, amanah, dan bertanggungjawab. 

Jadwal ayah hari ini lumayan padat, sehingga menjelang Magrib baru pulang. Dan ibumu hari ini romantis sekali nak. Nampaknya ibumu kangen. Ibumu setelah membuatkan kopi, manja sekali kepada ayah. Ibu bercerita banyak hal. Tentunya juga cerita tentangmu tidak terlewat. Ya, itu cara ayah melewati hari. Kelak, kau juga harus begitu dengan ayah dan ibu. Bercerita.

Setelah itu, ayah pamit salat lalu membayar listrik. Memang, telat bayar. Soalnya sejak pertengahan bulan seluruh keluarga terfokus padamu. Kelahiranmu. Baru kali ini, mulai longgar dan ingat belum bayar listrik. 

Sepulang dari bayar listrik, terjadilah hal mengharukan ini nak. Kau di kamar dengan ibumu dan juga Om Bena. Nampaknya kaupipis. Om Bena membantu ibumu mengganti popok. Om memegang kedua kakimu lalu diangkat, sedangkan ibumu sudah bersiap dengan bedak. 

Ya, kejadian itu pas ketika Om Bena menganggat kakimu. Brettt. Suaranya keras. Mirip bunyi senapan. Namun itu bukan suara senapan nak, melainkan kaubuang eek. Tahimu tepat sasaran. Berjajar tidak beraturan di kaki Om Ben. Sontak ayah dan ibumu tertawa. Sayang, ayah tadi taksempat memotretnya. 

Lantas, mbah kung dan mbah ti yang di ruang tengah kebingungan. Mbah ti yang sedang rebahan pun bertanya apa yang terjadi. Ibumu di sela bahaknya, menceritakan kejadiannya. Mbah ti pun ikut terbahak, lalu menengok ke kamar. 

Semua orang tertawa, begitu juga Om Bena. Namun Om Ben melihat di kakinya penuh kuning tahimu, ia terisak. Ya, tawa bercampur isak tangis. Dan ibumu, ayah minta membersihkannya dengan tisu. Tawa Om Ben mereda, hanya tersisa isak tangis. Sekali lagi, sulit rasanya menghilangkan geli. Tawa kembali meledak. Om Ben menangis.