Kepada Hujan

Sambungan dari bagian 9

Bagian 10

Aroma hujan masih terasa. Bau tanah menyeruak dan membuat suasana menjadi terasa segar. Hujan mengguyur semalaman. Hujan selalu saja menyisakan ingatan dalam benakku. Hujan membuatku terlelap sejak sore. Kedatangannya serupa dongeng yang selalu membuatku ingin melingkarkan tubuh. Layaknya kucing yang sedang kedinginan. Itulah yang membuatku selalu menggagumi hujan. Hujan selalu membuatku merasa teduh, serupa hangatnya pelukan ibu. Namun, hujan semalam telah membuatku mengecewakan Sally. Semoga hujan tidak membuatmu menjauh dariku Sally.

“Maaf Sally, semalam hujan mengguyur. Aku teramat payah, hingga tertidur. Dan maaf, aku tidak bisa datang menemanimu semalam.” pesan itu langsung kukirim kepada Sally.

“Sekarang hari Sabtu, nanti aku pulang lebih awal. Bisakah nanti kita ngopi, mengganti pertemuan semalam.” sekali lagi aku mengirimkan pesan kepada Sally.

Aku tahu, Sally tidak akan membalas pesanku. Biasanya jam segini ia masih terlelap. Yah, Sally selalu saja begadang tiap malam, bahkan sampai menjelang pagi ia masih tetap terjaga. Ia baru bangun ketika pukul tujuh. Lalu mandi dan sarapan sebatas penghormatan kepada ibunya yang pagi-pagi sudah sibuk di dapur untuk membuat sarapan.

Perempuan yang mencintai malam. Itulah sebutanku sejak aku kali pertama mengenalnya. Sejak kita saling berkirim pesan dan berbagi cerita. Namun sudah dua malam, tiada pesan dan cerita. Alpa. Dan membuat hidupku terasa begitu hampa.

“Aku telah mengacaukan semuanya Pak Tarman,” keluhku.

Aku memang sengaja berangkat pagi hanya demi ingin bercerita kepada Pak Tarman. Perihal Sally yang sudah dua hari menghilang. Juga perihal kejadian semalam. Aku ‘tak datang karena hujan.

“Mengacaukan bagaimana maksudnya Mas? Loh, kok bisa begitu?”

“Iya Pak, tempo hari ia mengajakku ngopi. Namun aku tidak berangkat, sebab hujan amat deras.”

“Oalah Mas, cowok kok takut sama hujan.” ucapan Pak Tarman begitu memukulku.

“Ya sudah, ini diminum dulu kopinya. Sudah bapak buatkan kopi pahit, kesukaan sampean.”

“Terimakasih Pak.”

Setelah kusruput beberapa kali, aku berpamitan kepada Pak Tarman untuk kembali ke ruangan. Namun memang benar apa yang dikatakan Pak Tarman, masak hanya karena hujan aku mengecewakan Sally. Aku begitu kejam.

“Oh iya, kebetulan aku nanti juga hanya kerja setengah hari. Mau ngopi di mana?” Aku begitu amat bahagia ketika membaca pesan Sally yang baru saja aku terima.

“Apakah kamu punya tempat favorit?”

“Oh tentu, tapi aku ingin kali ini kamu yang menentukan tempatnya. Kemarin aku sudah mau menunjukkan salah satu tempat favoritku, tapi ‘kau tidak datang. Padahal aku mau mereferensikan kopi Toraja yang yahut.”

“Iya Sal, maafkan aku. Aku memang tidak lebih kuat dari hujan. Oke, nanti kita ketemu di Kedai Cangkir.”

“Baiklah, kirimi alamatnya. Kita lanjut nanti, bosku sudah datang.”

 

Bersambung ke bagian 11

Iklan

Jejak Langkah 3

Jejak Langkah 3

 

Sambungan dari Bagian 7.

Ketika sesampai di kantor pun, semua orang pada menatapku heran. Entah mereka seperti melihat wajah pencuri yang semalam telah loncat dari jendela rumah mereka. Tajam dan penuh selidik. Aku ingin marah dan meneriaki kata ini di telinga mereka, “Woi, aku bukan pencuri, kalian seharusnya iba sebab aku sudah kemalingan semalam.” Ah, tapi aku ‘tak cukup berani untuk menjadi seorang yang frontal. Aku lebih memilih diam dan menikmati mata-mata yang terus menatapku penuh selidik itu.

“Wah, pagi-pagi sudah loyo. Bagaimana mau mengawali hari jika di ujung saja sudah seperti ini.” Pak Tarman tiba-tiba saja mengagetkanku dengan menyodorkan secangkir kopi.

“Setidaknya, Pak Tarman sudah memberiku baterai cadangan dengan minuman pekat ini.” sembari nyruput cangkir yang baru saja ditaruh Pak Tarman di depanku.

“Mas Nugie ini memang pinter berkelit kok, tapi sayangnya kalau mau berkelit dengan bapak kok tidak jago, selalu tertangkap basah.” sembari berjalan keluar.

Sekali lagi, omongan Pak Tarman selalu berhasil membobol pertahananku. Aku betul-betul tidak bisa menyembunyikan sesuatu pun dari orang itu. Dan anehnya, sejak aku bekerja di sini, hanya Pak Tarmanlah orang pertama yang bisa membuatku terpikat. Tentu pikatan yang lain, bukan seperti pikatan Sally yang bisa membuatku seperti ini. Juga pikatan Mbak Lila perempuan cantik, putih, mulus, dan wangi itu. Tidak. Tidak sama.

Yah, Pak Tarmanlah orang pertama yang bisa langsung dekat denganku. Aku memang orang yang sulit menerima orang baru. Aku cenderung diam di lingkungan yang masih asing, tapi tidak dengan Pak Tarman. Rasanya baru pertama ngobrol dengannya aku sudah seperti bertemu kawan lama yang bertahun-tahun tidak pernah bertemu. Lalu kita bercerita banyak hal, hingga secara ‘tak sadar aku merasa menemukan sosok seorang ayah dalam sosok Pak Tarman. Tentu seorang ayah yang ideal dalam pikiranku.

Aku mencoba bekerja namun hasilnya nihil. Pikiranku sangat kacau. Benar-benar kacau. Aku akhirnya menuju ke depan. Menemui Mbak Lila. Mungkin senyum manisnya bisa melunturkan kekacauan ini satu per satu, seperti daun gering yang satu per satu meninggalkan tangkainya.

“Iya Mas, ada yang bisa dibantu?” sapa Mbak Lila ketika aku tepat ada di depannya.

Aku diam. Menjawab pertanyaannya saja tidak. Aku malam menutup kepalaku dengan kedua tangan. Tentunya hal itu membuat Mbak Lila bingung. Ia berusaha bangkit dari tempat duduknya.

“Mas, baik-baik saja?

“Agendaku terdekat apa Mbak?” Mbak Lila duduk kembali, membuka catatan dan mencari daftar yang berisi agenda kerjaku.

“Terdekat, nanti sore mengantar saya makan malam.” mendengar jawaban itu, aku langsung mendongakkan kepala. Melongo.

“Habis Mas Nugie lungset begitu. Ya siapa tahu kalau nanti malam makan denganku, Mas Nugie bisa kembali bersemangat.”

Aduh, apalagi ini. Satu belum kelar, sudah mau muncul masalah baru lagi. Alamak. Aku langsung meninggalkan Mbak Lila. Aku menuju ke dapur. Namun melihatku meninggalkannya, Mbak Lila langsung berteriak “Tawaranku itu masih tetap berlaku sampai jam kerja berakhir Mas.” Aku hanya menoleh kepada perempuan cantik dan manis itu. Dan, ia kembali lagi tersenyum dengan manis.

“Pak, bisa ngobrol sebentar?”

“Mas Nugie mengagetkan saja. Tentu, tentu. Apa yang bisa saya bantu?”

Entah kenapa aku mendadak tidak malu-malu. Padahal kemarin aku selalu mengelak jika gerak-gerikku ditangkap basah oleh Pak Tarman. Aku selalu menolak kalau dianggap sedang jatuh cinta. Aku sudah bukan lagi ABG yang baru merasakan cinta. Tanpa ragu, aku bercerita.

“Semalam ia tiba-tiba saja menghilang. Tidak memberiku kabar sama sekali. Aku begitu panik, sampai-sampai aku tidak bisa tidur nyenyak.”

“Iya Mas, sangat kelihatan. Begitu loyo dan lesu.”

“Justru itu, saya mengejar Pak Tarman kemari. Apa yang harus aku lakukan Pak?”

“Ya jangan berpikiran buruk dulu. Toh sampean belum tahu kenapa ia tidak berkirim kabar. Lebih baik, sekarang ditanya kenapa semalam tidak memberi kabar. Ya, berpikiran positif saja.”

Dus. Omongan Pak Tarman terasa begitu memukulku.

Aku langsung tersenyum dan berlari meninggalkannya yang sedang sibuk membuat minuman, “Terimakasih Pak.”

Aku segera bergegas ke ruanganku. Handphone. Aku membuka tas. Aku sudah ‘tak sabar untuk segera mengikuti saran Pak Tarman. Memang sedari kemarin aku hanya dikepung oleh rasa panik. Pikiran-pikiran pun selalu negatif.

“Aduh di mana juga handphone ini. Ayo keluarlah, jangan bersembunyi.” Aku terus berceracau sambil membongkar seluruh isi tasku. Namun hasilnya nihil. Aku periksa di loker, tidak ada. Di meja, hampa.

“Aduh, bodohnya kau Nugie.” tiba-tiba aku menemukan akal ketika pandanganku melihat gagang telpon kantor.

“Ah, sial.” kembali aku menggerutu. Suasana semakin hening. Tiada bunyi handphone berdering, “ah, pasti gara-gara aku tadi buru-buru berangkat. Aduh, nomer Sally pun aku belum hapal.”

Aku betul-betul lemas, ‘tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Rasanya sudah tidak ada semangat tersisa. Semua dibawa lari Sally sejak kemarin malam. Sepi berusaha kuusir dengan menyalakan musik. Aku coba konsentrasi dan kembali membaca naskah yang harus kuedit hari ini. Namun pikiranku ‘tak bisa focus. Sudah kucoba membaca perlahan, tapi lagi-lagi pikiranku terbawa pada Sally.

“Oh Sally, kau membuatku benar-benar gila.”

 

Bersambung ke Bagian 9.