Dadang Ari Murtono dan Perempuan Tua dalam Rashomon

Pagi ini, tiba-tiba teringat tentang Dadang Ari Murtono (DAM). DAM adalah seorang sastrawan muda kelahiran Mojokerto. Karya-karyanya sudah banyak termuat di media massa Indonesia, baik koran, majalah, jurnal, buletin, tabloid.

DAM telah memutuskan untuk fokus di dalam dunia kesusastraan. Aktivitasnya secara penuh waktu untuk menulis. Ia sudah tidak lagi membagi waktu dengan bekerja di bidang lain selain menulis. Ketekunan dan kejelian di dalam memandang sesuatu, membuat karya-karyanya memiliki daya tarik tersendiri, khas.

Tentunya perjuangan tersebut, membuat karya-karya DAM diburu penerbit. Beberapa karyanya pun terbit ke dalam buku. Beberapa di antaranya, Wisata Buang Cinta (Kumpulan Cerpen), Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (Kumpulan Cerpen), dan Ludruk Kedua (Kumpulan Puisi). Konon, sebentar lagi novelnya juga akan segera terbit. Selain buku tersebut, ada pula buku kumpulan bersama dengan penulis lain yang juga memuat karya-karyanya.

k_614_090452_wisata_buang_cintaBelantara Samargod copyLUDRUK_KEDUA___DADANG_ARI_MURTONO

Kariernya yang cemerlang tersebut membuat banyak orang memandang sinis terhadapnya. Sampai akhirnya DAM benar-benar dijatuhkan, sejatuh-jatuhnya ketika cerpennya dimuat di dua media sekaligus. Cerpen itu berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon. Awalnya cerpen tersebut dimuat di Koran Lampung Post. Setelah itu, cerpen tersebut dimuat di Koran Kompas. 

 

kompas-perempuan-tua-dalam-rashomon

Memang pemuatan ganda di media, kerap kali membuat para sastrawan mencibir penulis yang memiliki keberuntungan tersebut. Entah atas dasar apa, hal itu selalu digunjingkan. Namun tidak hanya perihal pemuatan ganda saja. Ada seseorang yang mengatakan cerpen tersebut plagiat dari cerpen Rashomon karya RyĆ«nosuke Akutagawa. Akutagawa adalah sastrawan Jepang (1982-1927).

rashomon-cover4

Kejadian itulah yang akhirnya membuat dirinya terpuruk dan hampir tidak mau lagi menulis. Memang kala itu, hampir semua penulis dari seluruh Indonesia mengatakan tindakan DAM tersebut tidak layak dilakukan seorang penulis. Perkataan dari halus hingga sangat kasar diterima DAM dengan hati perih. Ya, karena kejadian itu Indonesia hampir kehilangan penulis muda potensial. Dan untunglah seorang perupa Sofi’i Eko Prawiro atawa Eko Nono membuat DAM bangkit.

“Aku selain melukis, bisa melakukan banyak hal, membuat undangan, mendekor, membuat properti, tapi kamu? Ladangmu hanya di koran. Jadi, piye caramu harus kembali menulis.” wejang Eko Nono.

Akhirnya, DAM kembali bangkit. Ia kembali menulis untuk media dan setelah berjalan beberapa bulan. Gunjingan tentang kasus DAM akhirnya hilang dan tertelan kasus serupa yang tidak mendapatkan perlakuan sama. Hal itu salah satunya, mungkin, membuat DAM bangkit.

Namun saya akhirnya mendengar ucapan dari Abdul Malik yang merupakan pesan dari Prof. Djoko Saryono bahwa karya Dadang tersebut bukanlah plagiat. Namun sang profesor tidak membuat ulasan tentang fenomena tersebut (kala itu). Hal itu membuat saya bertanya-tanya. Lalu beberapa bulan setelahnya, saya pergi ke Jogja dan sempat bertemu dengan Indrian Koto. Koto mengatakan hal yang sama, bahwa “tindangan DAM bukan plagiat, namun kita saja yang masih belum terbiasa.”

Berangkat dari apa yang dikatakan oleh Prof. Djoko Saryono dan Penyair Indrian Koto tersebut akhirnya saya menulis sebuah kajian membahas kasuistik DAM tersebut. Kajian saya itu akhirnya dimuat di Jurnal Pena Indonesia. Jika kamu belum pernah membaca kajian tersebut bisa menengok di laman Jurnal Pena Indonesia atau bisa langsung unduh di tautan saya: Kajian Postmodernisme. 

Bagaimana kabarmu DAM? Semoga selalu sehat selalu. Saya tunggu novel terbarumu. Kita sudah tidak lagi sering bersama. Kecintaan kita dalam sastra telah membukakan jalan yang berbeda. Jalur itu tetap dalam haluan sastra. Salah satunya, yaitu dalam bentuk-bentuk kajian seperti ini dan juga dalam bentuk pembibitan penulis. Ya, saya lebih tertarik di sana. Dan kamu, lanjutkan kariermu dengan terus menulis dan mengirimkan karyamu ke media massa dan penerbit. Juga, tolong jangan menolak ketika ada orang mengundangmu menjadi pembicara. Setidaknya dengan menjadi pembicara, kamu akan berbagi ilmu di sana. Ya, berbagi ilmu. Dunia yang kini saya tekuni itu. ***

Mengikuti Gelombang

image

Akhir-akhir ini aktivitas saya tergiring pada aktivitas yang serius. Jadi tidak salah kalau banyak orang menilai saya ini terlalu serius. Memang sejak masuk menjadi pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM), saya mengurusi bagaimana mengembangkan kesenian di kabupaten ini. Saya sebagai sekretaris bidang program. Ya, otomatis mendesain program kesenian. Aih, terlalu serius ya?

Lanjutkan membaca “Mengikuti Gelombang”